7 Syarat Kemenangan Dakwah

 

Hal yang aksiomatik dalam dakwah dan bagi aktivis dakwah adalah:

1. Kemenangan itu janji Allah Ta’ala. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (kemenangan).” (QS. Muhammad:7)

2. Kemenangan adalah sunnatullah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj;40).
Dan karena itu, ikhtiar manusia adalah berjuang sesuai kehendak Allah Ta’ala, agar Allah Ta’ala memberikan kemenangan gemilang.

Tujuh Syarat Kemenangan

1. Shihhatul Ghayah (orientasi yang benar)

Bahwa tujuan berdakwah tiada lain adalah utk Allah. “Jika kalian menolong agama Allah…” Berdakwah bukan utk tujuan ketenaran, bukan tujuan pribadi, golongan, dan keinginan dunia lainnya. Membersihkan tujuan perjuangan hanya karena Allah Ta’ala semata.

2. Ittiba’ul Manhaj (mengikuti manhaj).

Allah kasih kemenangan jika manhaj perjuangan benar. Manhaj itu _ath-thariq al-wadhih_ (jalan perjuangan yang jelas) yaitu mengikuti Al-Qur’an dan as-sunah. Kemenangan bukan diukur oleh jumlah pengikut semata. Jangan sampai menginginkan kemenangan dan dukungan yang milimpah tapi manhaj perjuangan diabaikan.

Nabi Nuh bukan gagal dalam berdakwah dikarenakan pengikutnya sedikit bahkan istrinya membelot. Jika dianalogikan pemilu, kira2 istri nabi Nuh itu pilih partai apa? Kemenangan bukan diukur jumlah pengikut, bukan mizan (timbangan) satu-satunya).

3. Tha’atullah (taat pada Allah dan Rasul-Nya)

Khalifah Umar Ibnul Khattab mewanti-wanti sahabatnya: “Sungguh, kemaksiatan kita jauh lebih saya takutkan dibandingkan bertemu musuh.”

Mentaati Allah hal yang mutlak dalam perjuangan dan dalam kehidupan.
Misalkan saat rapat dan terdengar adzan berkumandang, maka seruan adzan lazim didahulukan. Adakah yang lebih penting dari seruan adzan?!!

4. ‘Adamut Tafarruq (tidak pecah belah). Allah berfirman: “Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

Dalam tatanan keluarga, suami istri berselisih tidak boleh lebih dari tiga hari. Siapa yang pertama meminta maaf dan diikhlaskan ia yang terbaik. Jangan juga curhat di medsos dst… Demikian juga etika berselisih secara sosial.

Para sahabat Nabi berbeda atau berselisih tapi itu hanya kondisional. Kehidupan para sahabat didominasi jihad, tarbiyah dan persatuan. Perbedaan dan perselisihan mereka hanya sesaat.

5. ‘Adamul Ujub (tidak boleh sombong)

Hidup di dunia ini adalah nikmat sekaligus fitnah. Setiap orang diuji dengan ragam ujian sesuai kapasitasnya. Ada yang diuji kepintaran, ketenaran, kekayaan dst… Nah, apakah ujian tersebut mengantarkan pada kesyukuran pada Allah Ta’ala atau sebaliknya, kufur dan menyombongkan diri?
Sombong satu dua orang akan menghalangi kemenangan dari Allah Ta’ala.

Kisah Perang Hunain diabadikan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an, saat sebagian sahabat merasa GR dengan jumlah banyak. Para sahabat yang GR tersebut sudah tertarbiyah namun belum matang.

Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika perang Hunain, saat kalian merasa takjub dengan banyaknya jumlah kalian. Akan tetapi itu tidak berguna sedikitpun bagi kalian, sehingga bumi terasa sempit bagi kalian dan kalian lari tunggang-langgang.” [QS. At-Taubah:25].

6. ‘Adamut Tasyabbuh (tidak menyerupai orang kafir).
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya (orang kafir) dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” [Qs. Al Anfaal:47].
Redaksi ayat ini jelas, larangan menyerupai orang kafir, kaum munafik dan ahli fasik. Boleh jadi dikarenakan interaksi lama dg orang kafir menjadikan umat Islam luntur dan tiada bedanya dengan mereka dalam cara-cara berjuang.

Terbayangkah kita, ada aktivis tapi justeru menghalang-halangi dakwah??? Nyata, itu dikarenakan faktor: satu, sombong, dua riya’, dan ketiga menghalang-halangi ajaran Allah.

Ulama’ Tarbiyah berkata terkait firman Allah Ta’ala: “Besar murka Allah, kamu mengatakan apa yang tidak kamu laksanakan…” Adalah murka Allah sangat besar terhadap orang yang mengajak kepada Islam namun tindakannya bertolak belakang dengan ajakannya. Mengajak berjamaah tapi tindakannya justeru merong-rong Jama’ah. Kata dan tindakan yang berbeda ini bagian dari menghalang-halangi dari kebenaran.

7. Mewaspadai dari kemenangan palsu. Kemenangan dakwah adalah kemenangan Islam, kemenangan keluarga, kemenangan suami dan istri, kemenangan anak-anak dst… Jangan sampai kemenangan itu justeru mengoyak Islam, mencerai-beraikan keluarga dst…

Khalifah Umar Ibnul Khattab berdoa saat diberi kemenangan: ‘Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari kemenangan yang Engkau berikan ini sebagai istidraj (ulur waktu untuk akhirnya dihancurkan)

Jangan sampai kemenangan itu justeru melenakan, menjauhkan dari jalan Allah.
Ciri kemenangan membawa berkah itu sesuai dengan bimbingan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.“_(QS. Al-Hajj:41)

Waspada terhadap kemenangan semu. Dan yakin bahwa Jama’ah kita akan dimenangkan Allah Ta’ala.
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Walillaahil hamd.

Dr Ahzami Samiun Jazuli