Berita  

Ahli Harvard Khawatir Corona Tak Terdeteksi di RI, Menkes: Menghina

Ahli Harvard Corona RI

Ngelmu.co – Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menilai pernyataan ahli epidemiologi, Marc Lipsitch, di Harvard TH Chan Scool of Public Health, soal kekhawatirannya terkait ketiadaan virus Corona di Republik Indonesia (RI), sebagai sebuah penghinaan.

Tanggapi Pernyataan Ahli Harvard soal Corona di RI

“Itu namanya menghina itu, wong peralatan kita dari AS. Intinya adalah apa yang sudah kita kerjakan sesuai standar ya, ter-standar Internasional semua,” tuturnya, di sela rapat TNP2K, di Kebon Sirih, Jakarta, seperti dilansir Republika, Selasa (11/2).

Terawan mempertanyakan keraguan peneliti Universitas Harvard, Amerika Serikat, itu yang memprediksi adanya pasien positif virus Corona di Tanah Air, tetapi tidak terdeteksi.

“Indonesia telah melaporkan nol kasus, dan Anda akan mengharapkan telah melihat beberapa kasus,” ujar Marc, seperti dilansir VOA News, Jumat (7/2).

Baca Juga: Media Australia Sebut Indonesia Belum Punya Alat Deteksi Khusus Corona, WHO Khawatir

Penelitian para ahli Harvard itu, didasarkan pada perkiraan jumlah rata-rata penumpang pesawat yang terbang dari Wuhan, ke kota-kota lain di seluruh dunia.

Asumsinya, semakin banyak penumpang, artinya kemungkinan penularan kasus virus Corona pun ada.

“Kasus-kasus yang tidak terdeteksi di negara manapun, berpotensi menyebarkan epidemi di negara-negara itu, yang dapat menyebar di luar perbatasan mereka,” jelas Marc.

Tegaskan Pemerintah RI Telah Bertindak Optimal

Berdasarkan pernyataan itulah, Terawan menegaskan, jika pemerintah Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Corona.

Dengan menggunakan peralatan canggih dan terstandar internasional, RI dipastikan telah mendeteksi virus Corona, dan meningkatkan kewaspadaan.

Sebagaimana yang dilakukan oleh negara lain, beberapa orang yang diinformasikan memiliki gejala virus Corona, telah ditelusuri oleh tim medis Indonesia, dan dipastikan negatif.

“Kita tidak kendor sama sekali kewaspadaan, kita ndak ada yang lolos, bahkan berita-berita yang katanya ada yang lewat pun, sudah kita pantau semua, akan kita melakukan namanya surveillance tracking,” beber Terawan.

Mempersilakan Peneliti Luar Mengecek

Pemerintah mempersilakan WHO pun peneliti luar, untuk memeriksa proses pengecekan peralatan di Indonesia.

Sebab, pemerintah meyakini, telah mengikuti pengecekan sesuai standar kesehatan dunia.

“Silakan sekalian dari mereka, dari WHO pun persilakan, dari Amerika kita persilakan juga, untuk ikut melihat prosesnya dengan alat yang mereka punya,” kata Terawan.

“KIT-nya juga dari mereka, untuk melihat prosesnya sudah sesuai tidak, kita terbuka kok, enggak ada yang ditutup-tutupi,” sambungnya.

Terawan juga mempersilakan pihak lain untuk memeriksa laboratorium Indonesia, untuk menjawab kekhawatiran tersebut.

Namun, tidak berlaku untuk melakukan transfer material. Pihak luar juga diharapkan, tidak menyudutkan Indonesia, karena belum adanya kasus Corona.

“Supaya enggak ada yang menyangsikan lagi, negara lain yang sudah terakreditasi sudah mengakui, WHO juga sudah mengakui, alat juga dari sana,” tegas Terawan.

“Kalau ada orang lain mau melakukan survei dan dugaan, yo silakan saja, tapi jangan mendiskreditkan suatu negara,” imbuhnya.

Jika hingga saat ini belum ada satu pun masyarakat Indonesia yang belum terpapar wabah, lanjut Terawan, seharusnya disyukuri, bukan dipertanyakan.

“Level kewaspadaannya paling tinggi, dan peralatan yang dipakai juga peralatan internasional, kalau enggak ya justru disyukuri, bukan dipertanyakan,” kata Terawan.

“Itu yang saya enggak habis mengerti, kita harus justru bersyukur, Yang Maha Kuasa masih mem-blessing kita,” pungkasnya.