AKBP Rizal Marito Sebut Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil Zikir untuk Perang

  • Bagikan
AKBP Rizal Marito Hasbunallah

Ngelmu.co – Video lama AKBP Rizal Marito kembali beredar di media sosial; Twitter dan Instagram.

Hingga Senin (14/2/2022) siang, makin banyak warganet yang membicarakan eks Kapolres Purworejo tersebut.

Pasalnya, dalam video yang kembali viral itu, Rizal menyebut hasbunallah wa ni’mal wakil sebagai zikir yang biasa digunakan untuk perang.

@ngelmuco Ketika eks #Kapolres #Purworejo sebut #zikir #hasbunallahwaniqmalwakil biasa digunakan untuk perang. #TikTokBerita ♬ suara asli – Ngelmu

Sontak, publik–khususnya umat muslim–pun melempar tanya. Bahkan, tidak sedikit juga yang protes.

Termasuk Ustaz Hilmi Firdausi yang melalui akun Twitter pribadinya, @Hilmi28, mengunggah video terkait, berdurasi 45 detik.

Lalu, lewat cuitannya itu, ia bertanya, “Zikir hasbunallah wa ni’mal wakil untuk perang?”

“Ada yang bisa menjelaskan kepada saya yang fakir ilmu ini,” tutur Ustaz Hilmi, menanyakan maksud pernyataan Rizal.

Beberapa jam kemudian, Ustaz Hilmi pun kembali mengetwit.

“Saya mengajak teman-teman berzikir ‘Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir’,” ujarnya.

Sebab zikir tersebut, lanjutnya, adalah bentuk kepasrahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dapat dilafazkan kapan dan di mana saja.

“Dalam keadaan apa saja. Bisa setelah salat, saat bepergian, saat ditimpa kesulitan, dan sebagainya,” jelas Ustaz Hilmi.

Demikian sambungnya, yang pada akhir cuitan menekankan bahwa zikir bukanlah mengajak perang.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Ngelmu.co (@ngelmuco)

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis juga memberikan tanggapan.

Ia menegaskan, bahwa zikir hasbunallah wa ni’mal wakil adalah sikap menyerahkan urusan kepada Allah.

“Dan mohon perlindungan-Nya,” kata Kiai Cholil, seperti Ngelmu kutip dari akun Twitter-nya, @cholilnafis.

“Itu zikir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat dikabarkan akan diserang pasukan kuffar Quraisy,” ujarnya menjelaskan.

Hasbunallah wa ni’mal wakil juga merupakan zikir Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke api.

“Itu bukan zikir melawan kezaliman, apalagi bersiap perang,” tegas Kiai Cholil.

Kesalahan Analisis

Sementara, terpisah, Ustaz Felix Siauw menyampaikan responsnya atas pernyataan Rizal, melalui akun Instagram, @felix.siauw.

“Kesalahan analisis itu menghasilkan kesimpulan yang salah,” tuturnya, Senin (14/2/2022).

Ustaz Felix pun bertanya, siapa yang mengajarkan Rizal mengenai pemahaman tersebut.

Berikut pernyataan Ustaz Felix, selengkapnya:

[Rizal] tahu dari mana, biasanya kalau orang zikir ‘Hasbunallah wa ni’mal wakil’ itu mau perang?

Ini seperti generalisasi, teriak Allahu Akbar berarti mau mengebom atau jihad?

Atau generalisasi bahwa terorisme itu asalnya dari masjid?

Ini stigmatisasi yang sangat jahat, harusnya @divisihumaspolri malu dan minta maaf atas hal ini. Kalau oknum, kok, banyak betul?

Kalaupun memang situasi di sana sudah enggak terkendali dan memang mengarah ke anarkis, kenapa sih harus dikait-kaitkan ke Islam?

Kayak enggak puas kalau enggak Islam? Atau kalau sudah ada Islam-nya, jadi legitimasi kalau itu kekerasan?

Ngeri hidup di zaman ini, yang muslim malah sukanya menjelekkan agamanya sendiri.

Kalau enggak tahu, mbok, ya, enggak usah sok asyik.

Provokatif, Tendensius, Islamofobia

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Muhyiddin Junaidi juga merespons pernyataan Rizal, yang kembali viral di media sosial.

“Itu adalah pernyataan provokatif, tendensius,” tuturnya pada Senin (14/2/2022), mengutip Suara Islam Online.

“Dan new trend Islamphobia, yang telah menjalar dalam tubuh manusia yang sudah terpapar penyakit split personality akut,” sambungnya.

Menurut Kiai Muhyiddin, pernyataan Rizal justru menunjukkan ketidaktahuannya tentang doa tersebut.

“Secara tidak langsung, pernyataan beliau menunjukkan kebodohan seseorang terhadap asbabun nuzul ayat tersebut,” sentilnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyiddin menjelaskan, bahwa banyak ulama yang menganjurkan agar doa tersebut dibaca 450 kali.

Guna meraih ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi masalah.

Arti doa itu sendiri adalah, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan sebaik-baiknya pelindung kami.”

Kiai Muhyiddin juga menyampaikan, bagaimana sejak dahulu, kelompok munafik memang telah melakukan psywar terhadap umat Islam.

Seperti dengan mengatakan bahwa jumlah musuh umat Islam jauh lebih besar dan berpengalaman daripada tentara muslim.

“Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar tidak cepat kalah mental dan tetap istikamah dalam membela kebenaran dan hak,” jelas Kiai Muhyiddin.

“Ternyata para Nabi Allah pun membaca doa di atas, di antaranya adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, serta para pengikutnya,” imbuhnya.

Itu mengapa Kiai Muhyiddin, meminta agar semua pihak–khususnya tokoh publik–untuk berhati-hati dalam membuat pernyataan.

“Kepada semua pihak, terutama para pejabat publik dan tokoh masyarakat, agar tidak membuat pernyataan asbun [asal bunyi], sebagai bentuk pembelaan diri dari masalah krusial yang dihadapi,” pesannya.

Sebab, lanjutnya, pernyataan yang kontroversial justru akan menimbulkan kegaduhan baru di tengah masyarakat.

“Bahkan akan terjadi eskalasi politik nasional,” pungkasnya.

Pernyataan AKBP Rizal

Seperti diketahui, video lama AKBP Rizal yang bicara terkait kisruh warga Wadas, kembali viral di media sosial.

Video itu merupakan bagian dari wawancara Rizal dengan tim Fakta tvOne:

Penuturan Pihak Kepolisian Soal Ricuh di Tambang Batu Desa Wadas‘.

Awalnya, Gina Fita selaku pembawa acara, bertanya, “Kemarin, ketika kejadian tanggal 23 April 2021, ketika unjuk rasa di Desa Wadas, bapak ada di lokasi?”

Rizal pun menjawab, “Betul, saya ada di lokasi”, dan berikut pernyataan yang bersangkutan, selanjutnya:

Jadi pada tanggal 23 April [2021] lalu, hari Jumat itu, paginya, itu rencana memang ada kegiatan sosialisasi.

Terkait pemasangan trase untuk pembangunan kuari, dalam rangka pembangunan proyek strategis nasional, yaitu Bendungan Bener.

Pagi itu, rencananya akan dilaksanakan sosialisasi di Desa Wadas.

Namun, demikian karena memang ada suatu situasi tertentu, di mana kemudian ada yang keberatan terhadap sosialisasi itu.

Sehingga cukup ramai, sampai ada pemblokiran jalan waktu itu. Sehingga akhirnya sosialisasi itu dibatalkan di Desa Wadas.

Kemudian dilaksanakan di Kecamatan Bener. Nah, kemudian pagi itu juga ada laporan.

Dari warga masyarakat yang ingin melintas di beberapa akses jalan, terutama jalan kabupaten yang ada di sana itu, itu terjadi pemblokiran.

Jadi ada batu-batu yang disusun sedemikian rupa di jalan-jalan itu, sehingga orang tidak bisa melintas.

Kemudian batang-batang kayu, dan ada pohon yang sengaja dirobohkan untuk menutup jalan.

Kepolisian itu punya aturan, punya SOP, yang diatur di dalam aturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan Polri dalam menghadapi aksi massa.

Nah, saat itu sebenarnya kita sedang melaksanakan patroli untuk membantu masyarakat membersihkan puing-puing, batu-batu, membersihkan kayu.

Tapi ternyata ada plus-nya. Ternyata massa makin meningkat eskalasinya di situ, memang supaya polisi enggak boleh lewat.

Saya sebagai Kapolres waktu itu, memimpin langsung di tengah-tengah masyarakat, di tengah-tengah lapangan, ya.

[Saya] Memimpin personel saya, langsung melakukan komunikasi. Kita memberikan imbauan, ajakan, kepada masyarakat.

Baca Juga:

Jadi gini, awalnya begitu kita datang, tiba-tiba kemudian mereka melakukan zikir, hasbunallah wa ni’mal wakil.

Ya, artinya, cukup Allah saja, ini biasanya digunakan untuk melaksanakan perang.

Artinya, mereka sudah mendesain tempat itu, sudah mempersiapkan tempat itu untuk perang, gitu.

Selengkapnya:

  • Bagikan