Analisis Menohok Ahli Bedah soal Karakter Kepemimpinan Jokowi

Diposting pada 3.728 views

 

 

“Kenapa saya jarang membahas “program” dan “prestasi” dari Prabowo atau jokowi ? ” karena bagi saya memang tak penting.”

Karena pemilu capres kali ini memang bukanlah pertarungan program. Pemilu kali ini adalah pertarungan karakter.

Saya tidak memilih jokowi 2014 karena karakter kepemimpinannya yang rusak. Bahkan seorang mantan Sekda Solo sendiri jelas mengatakan : sebagai walikota solo Jokowi itu munafiq dan arogan.

Di 2014 saya tidak terlampau lama berposisi sebagai swingvoter atau undecided voter atau labil voter, atau amsiyong voter…atau apalah namanya…silahkan anda bikin sendiri,….

Karena jokowi sangat berhasil meyakinkan saya untuk tidak memilih dirinya. Ditengah maraknya pencitaan positif mengenai Jokowi sebagai media darling (hoaxnya adalah: jokowi adalah walikota terbaik level ke 2 dunia) dan tajamnya penctraan negative soal prabowo ( hoaxnya adalah; Prabowo tukang bunuh dan culik, serta Prabowo tidak punya penis karena telah dipotong fretelin) saya menganalisis hanya 2 moment dari Jokowi.

“Masalah Jakarta itu apa sih? Kan cuma banjir sama macet…2 minggu juga beres kalau kita mau” (jokowi).

“Masalah Indonesia bisa kita selesaikan dalam waktu 2 minggu dengan e-government, duitnya ada kita tinggal kerja” (jokowi).

Itulah sesumbar dari Jokowi yang membuat saya sontak menuliskan di akun media sosial saya besoknya: PRABOWO FOR PRESIDENT pada 2014.

Kenapa?

Mohon maaf, saya seorang dokter dan ahli bedah…saya menggunakan kemampuan analitik bedah saya dalam menganalisa Jokowi.

Didunia teknik bedah membedah, hal yang sangat diwaspadai dan disikapi sangat hati-hati bahkan dicurigai adalah SURGICAL PITFALL dan FLAILLING.

Pitfall adalah titik dimana seorang ahli bedah dapat melakukan kesalahan (bisa saja hanya kesalahan kecil dalam teknik atau bahkan kesalahan dalam proses berfikir dan menarik kesimpulan di meja operasi) yang bisa berakibat sangat fatal.

Flailling adalah manuver yang tidak perlu dan dilakukan secara berulang-ulang tanpa ada tujuan atau memberikan hasil perbaikan yang signifikan.

FLailling biasanya terjadi ketika seorang ahli bedah telah masuk kedalam jebakan pitfall…
Biasanya dibutuhkan seorang senior atau konsultan yang akan dimintai bantuan untuk melakukan “operasi penyelamatan” terhadap ahli bedah yang sial itu sekaligus pasiennya guna menghindarkan malapetaka.

Pitfall adalah jebakan ,dan biasanya ahli bedah yang arogan dan suka anggap enteng yg akan jadi korban jebakan pitfall.

Kembali ke Jokowi,
Dua statement Jokowi itu yang membuat saya menetapkan hypotesa. Kedua sesumbar jokowi itu dilontarkan di 2 saat yang berbeda.

Yang pertama waktu cagub DKI dan yang kedua dalam debat kampanye capres 2014.

Bagi saya itu memberikan gambaran karakter besar mulut, anggar jago, mental serba instant dan tidak realistik. Orang seperti ini sangat bahaya menahkodai kapal besar bernama REPUBLIK INDONESIA. Orang yang mempunyai statement ini cenderung bombastis dan egosentris walaupun tidak punya kapabilitas: “Semua adalah (karena) saya”.

Itu adalah karakter yang terus saya kritisi ketika Jokowi kemudian berkuasa, dengan cara saya tentunya…

Sepanjang Jokowi berkuasa, saya menemukan kebenaran hypotesa saya. Saya tidak bangga karenanya. Saya hanya merasa masygul dengan negeri saya. Kita tidak perlu lagi membicarakan kelakuan Jokowi selama berkuasa karena kita semua sudah tahu.

Hari ini, ketika rezim jokowi berencana MENJERAT HOAX dengan UU TERORISME, komentar saya adalah: Jokowi sebagai presiden BENAR-BENAR tidak tau apa-apa mengenai “PRESIDENT PITFALL” . Jokowi terjebak berputar-putar didalam FLAILLING ambisi egosentrisnya yg terbukti tidak berguna. Dia dungu luar biasa. Dungu karena yang difikirkannya hanya bagaimana melindungi kekuasaan dan “gengsi”nya sebagai presiden, bila perlu dengan cara mengancam rakyat.

Saya perlu ingatkan Jokowi, bahwa jabatan presiden itu adalah pinjaman kekuasaan dari rakyat dan anda tidak perlu merasa berhak untuk dipilih rakyat kembali.

Anda, jokowi, harusnya berfikir dalam-dalam ketika mendapati diri anda dihina rakyat tanpa ampun. Anda tidak perlu marah-marah dan berusaha melawan siapapun yang mencela anda. Anda harusnya berfikir bagaimana kelakuan anda selama berkuasa. Bukan perlu marah-marah atau menghina pribadi lawan politik anda seperti yang anda lakukan..

“PRABOCOR…PRABOCOR…..PRABOCOR..!!!!” itulah teriakan pengikut-pengikut anda yang dungu.. dan anda menikmatinya dengan tertawa-tawa.

Ejekan yang anda sematkan kepala lawan anda, setelah dia dengan jitu memperingatkan sebuah pitfall ” NEGARA KITA INI KAYA, HANYA SAJA UANGNYA BOCOR KEMANA-MANA….”

Pilpres kali ini nyata pertarungan karakter. Omong kosong segala program kalau hanya keluar dari mulut karakter yang rusak.Titik.

Wassalam

Zainul Na’im MD, dokter ahli bedah