Anggota Kopassus Tewas Ditembak, Senjatanya Dibawa Kabur

Anggota TNI, Pratu Sandi Novian (SN) anggota Tim Khusus (Timsus) Satgasban XV Kopassus, tewas ditembak orang tak dikenal di Pasar Sinak, Kabupaten Puncak, Papua. Aparat menuding kelompok kriminal separatis bersenjata di balik serangan itu.

Serangan itu terjadi saat Sandi bersama rekan-rekannya ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan pokok pada Senin (12/02) pagi. Tak berselang lama, Sandi terpisah dengan rekan-rekannya.

”Karena sibuk tawar menawar, dia terpisah sekitar 50 meter dari rekan-rekannya,” kata Kepala Penerangan Kodam Cendrawasih, Kolonel Muhammad Aidi, kepada BBC Indonesia, Selasa (13/02).

Saat terpisah itulah Sandi ditodong dan ditembak para pelaku dengan menggunakan senjata api. Sandi tewas seketika di lokasi kejadian.

Menurut Aidi, mendengar suara letusan, rekan-rekan Sandi mendatangi sumber suara dan mendapati Sandi terkapar. Mereka sempat mengejar para pelaku yang berjumlah sekitar lima orang.

Para pelaku itu, lanjut Aidi, membawa golok dan senjata api. Bahkan senjata combat G2 milik korban Sandi turut diambil dan dibawa lari para pelaku.

“Mereka kabur berpencar ke arah hutan. Anggota kami sempat mendapatkan tembakan balasan dari para pelaku,” imbuh Aidi.

Menurut Aidi, Sandi menderita luka tembak pada bagian telinga kiri dan tembus ke pipi kanan. Jenazah korban kemudian diterbangkan kembali ke kampung halamannya Desa Rahaja, Kecamatan Purwaharja , Kota Banjar, Jawa Barat.

Tudingan ke kelompok pro Papua merdeka
TNI, kata Aidi, menduga para pelaku adalah kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB).

“Motif mereka dengan merampas senjata untuk memperkuat kemampuan mereka. Karena perjuangan mereka menuntut merdeka,” kata Aidi.

Aparat, lanjut Aidi, memastikan bahwa para pelaku adalah kelompok separatis yang menginginkan Papua merdeka.

“Kami bukan lagi curiga, tapi memastikan bahwa pelakunya adalah dari kelompok separatis itu,” ujar Aidi.

Hingga saat ini, aparat masih menyelidiki dan mengejar para pelaku. “Termasuk mengumpulkan informasi untuk mendapatkan posisi mereka,” kata Aidi.

Toyib, ayah almarhum Pratu Sandi Novian menunjukan foto putranya, Selasa (12/2/2018)/SERUJI

BBC Indonesia mencoba menghubungi aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) untuk mengonfirmasi, namun belum berhasil. KNPB adalah organisasi yang berjuang untuk penentuan nasib sendiri bagi Papua.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyatakan perlunya tindakan hukum yang terukur untuk kejadian kekerasan di Papua agar tidak sampai terjadi pelanggaran HAM.

“Saya prihatin atas kejadian itu,” kata anggota Komnas HAM Amiruddin Al Rahab melalui sambungan telepon.

Amiruddin mewanti-wanti insiden itu tidak memicu kekerasan lanjutan. “Saya mengharapkan aparat hukum bisa menangkap pelaku agar hukum bisa ditegakkan sebaik-baiknya,” pungkas Amiruddin.

Kekerasan dengan senjata api masih sering terjadi di Papua. Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi penembakan yang korbannya berasal dari berbagai kelompok, mulai dari TNI, Brimob atau polisi, dan sipil.

Pada Oktober 2017, Briptu Berry tewas ditembak di daerah Tembagapura, Timika. Selain Berry, empat anggota Brimob lainnya juga terluka akibat insiden itu.

Kemudian pada Desember 2017, operator eskavator Yovicko Sondak tewas tertembak orang tak dikenal di Jalan Trans Papua, Kecamatan mugi, Kabupaten Nduga.

Selain Yovicko, turun juga terluka satu orang anggota TNI dalam insiden tersebut, yakni Prada Didimus Abindodifu.

Kasus penembakan korban sipil terjadi kembali pada Januari 2018. Apenangge Kogoya tewas ditembak karena diduga hendak merebut senjata milik aparat TNI.

Menurut Kodam Cendrawasih, Kogoya menyerang aparat dengan parang di Kenyam, Kabupaten Nduga. Seorang anggota Lettu Inf Didik F. sempat terluka akibat serangan pelaku.

Sebelumnya pada Desember 2017, markas Polres Lanny Jaya juga diserang kelompok bersenjata saat apel pagi.

Sempat terjadi kontak senjata namun tidak ada korban yang dilaporkan.

Artikel ini diambil dari bbc indonesia berjudul: Terpisah dari rombongan, anggota TNI tewas ditembak di Papua