Israel Ledakan Beirut Lebanon

Antara Intelijen Israel dan Tragedi Ledakan di Beirut Lebanon

Diposting pada 131 views

Ngelmu.co – Di tengah pandemi COVID-19 yang belum enyah, perhatian dunia terbagi ke Beirut, Lebanon. Terjadi peristiwa ledakan besar di sebuah gudang petasan, dekat pelabuhan, Selasa (4/8) lalu. Menjadi pertanyaan, benarkah ini murni ‘kecelakaan’?

Sedikit mundur ke belakang, bisa dibilang, Israel telah mengetahui tentang keberadaan barang berbahaya di lokasi kejadian.

Bahkan, melalui Perdana Menteri (PM), Benjamin Netanyahu, mereka mengungkap titik berbahaya itu, ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Keberadaan zat berbahaya, disampaikan Netanyahu kepada PBB, dalam pidatonya di Konferensi Bisnis Globes, seperti dikutip Ngelmu, kanal YouTube United Nations, 27 September 2018 lalu.

Netanyahu, nampak memperlihatkan titik-titik lokasi penyimpanan zat berbahaya yang dimaksud.

Menurutnya, zat kimia itu merupakan milik organisasi Hizbullah, dan direncanakan untuk dijadikan bahan baku pembuatan ribuan rudal.

“Mereka berencana memiliki ribuan rudal presisi. Paling-paling, mereka hanya memiliki puluhan,” kata Netanyahu pada kesempatan itu.

Lebih lanjut, dari tiga titik lokasi penyimpanan, salah satunya, adalah gudang Amonium Nitrat; yang menjadi pusat ledakan, Beirut.

Kala itu, Netanyahu mengklaim, data ia dapatkan dari Badan Intelijen Israel, Mossad.

Organisasi Hizbullah, lanjutnya, sengaja menjadikan pelabuhan Beirut, sebagai pusat penimbunan zat berbahaya.

Tujuannya tak lain, agar aman dari jangkauan intervensi militer Israel.

Organisasi Hizbullah juga disebut memanfaatkan kondisi pelabuhan, sebagai benteng pertahanan.

Terlepas dari itu, sejauh ini, pemerintah Lebanon, memang menyimpulkan jika ledakan terjadi akibat penumpukan 2.750 ton Amonium Nitrat, di salah satu gudang.

Pihaknya menyebut zat kimia tersebut, merupakan barang hasil penyitaan yang dilakukan di tahun 2013.

Amonium Nitrat, awalnya ada di atas kapal MV Rhosus; berbendera Moldova, yang sedang berlayar dari Batumi-Georgia, menuju Beira-Mozambik.

Kemudian kapal itu singgah di Beirut, karena mengalami masalah pada mesin.

Saat diperiksa oleh petugas pelabuhan, ternyata kapal dinyatakan tidak layak berlayar, dan dilarang melanjutkan perjalanan.

Semua kru pun dipulangkan ke negara masing-masing. Namun, mereka menyita zat kimia yang ada di kapal, lalu menyimpannya di gudang.

Mengapa terkesan dibiarkan saja? Sebab, pemilik barang dikabarkan bangkrut, hingga ribuan ton Amonium Nitrat, ‘menumpuk’ di dalam gudang.

Media Israel, juga menyebut organisasi Hizbullah di Lebanon, pernah menimbun tiga metrik ton Amonium Nitrat, pada sebuah gudang di London.

Hingga lembaga intelijen Inggris M15, dan kepolisian metropolitan London, menemukannya tahun 2015 lalu.

Sumber mengatakan, Amonium Nitrat, digunakan ‘organisasi teroris’ hingga menyebabkan ‘kerusakan besar’.

M15 pun menangkap seorang pria berusia sekitar 40-an, atas tuduhan rencana serangan teroris.

Tetapi pihaknya tak melampirkan adanya bukti teroris, berencana menyerang Inggris.

Sebagai informasi, pada 2019, Inggris, telah melarang segala bentuk aktivitas organisasi Hizbullah.

Siapapun yang membantu organisasi itu, bahkan bisa didakwa pasal pidana, dan dihukum hingga 10 tahun penjara.