Asisten Guru yang Bilang ‘Kami Tak Bernegosiasi dengan Teroris’ ke Siswa Muslim, Diskors

  • Bagikan
Mohammed Zubi Ridgefield Memorial High School New Jersey
Mohammed Zubi

Ngelmu.co – Ridgefield Memorial High School di New Jersey, Amerika Serikat (AS), menskors seorang asisten guru yang bilang, “Kami tidak bernegosiasi dengan teroris.”

Pasalnya, yang bersangkutan menyampaikan pernyataan tersebut kepada Mohhamed Zubi, siswa muslimnya, keturunan Arab-Amerika.

Pada Rabu (20/10) waktu setempat, di kelas matematika, Zubi bertanya, apakah siswa bisa mendapat perpanjangan waktu untuk menyelesaikan tugas mereka.

Namun, asisten guru itu justru menjawab, “Kami tidak bernegosiasi dengan teroris.”

Akhirnya, sekolah pun menskors yang bersangkutan, meski ia sempat mendekati Zubi dan bilang, “Saya tidak bermaksud seperti itu.”

Menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam New Jersey (CAIR-NJ), pihak sekolah tidak menoleransi apa pun bentuk diskriminasi.

Baik terhadap siswa, ataupun anggota staf sekolah.

“Kami berusaha menciptakan lingkungan yang inklusif. Kami segera menskors anggota staf yang terkait.”

Pihaknya juga langsung melakukan penyelidikan penuh, dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib.

Lebih lanjut, CAIR-NJ yang menyambut baik penyelidikan polisi, meminta Ridgefield Memorial High School, mengambil langkah tepat untuk ke depannya.

“Kami sangat prihatin dengan tuduhan ini, dan mendesak distrik sekolah untuk mengambil tindakan korektif yang tepat.”

“Menyusul penyelidikan yang cepat dan transparan,” tegas Direktur Eksekutif CAIR-NJ Selaedin Maksut, mengutip North Jersey.

Ia juga menyampaikan, bagaimana CAIR-NJ, menawarkan pelatihan kepada pihak sekolah, agar para guru dan staf bantu memerangi Islamofobia, pun intimidasi.

Baca Juga:

Sebenarnya, peristiwa ini bukan potret Islamofobia yang pertama di bulan Oktober 2021.

Pasalnya, polisi Maplewood juga tengah menyelidiki dugaan seorang guru yang memaksa siswinya–kelas dua sekolah dasar–untuk melepas jilbab.

Walaupun guru bernama Tamar Herman, menyebut insiden itu sebagai kesalahpahaman.

“Pekan lalu, saya meminta salah seorang siswa saya untuk mengangkat jilbabnya, karena menutupi matanya.”

Namun, Robert Tarver selaku kuasa hukum keluarga siswa, mengatakan bahwa saksi–siswa lain–melihat sendiri bagaimana Tamar, menarik jilbab siswinya.

Kembali ke Zubi. Sejak kejadian, ia tidak masuk sekolah selama hampir sepekan.

“Saya pergi ke sekolah hari ini [Senin, 25 Oktober 2021, waktu setempat] untuk pertama kalinya,” ujarnya.

“Saya ingin permintaan maaf [secara] publik [dari yang bersangkutan] kepada saya, dan keluarga saya,” pungkas Zubi.

  • Bagikan
ngelmu.co