Asyik: Dikepung Istana, Didukung Ulama

 

Saat Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo melantik Komjen Polisi M. Iriawan sebagai Penjabat Gubernur Jawa Barat, saya teringat dengan data blusukan Presiden Joko Widodo. Terdapat angka-angka yang sangat menarik dan mengkonfirmasi bahwa Pilgub Jabar 2018 adalah kunci dan berkelindan dengan Piplres 2019.

Dalam situs Presidenri.go.id, selama hampir tiga tahun berkuasa yakni sejak dilantik pada 20 Oktober 2014 hingga Juni 2017 atau 32 bulan yang lalu, Jokowi telah melakukan blusukan sebanyak 306 kali, atau hampir 10 kali setiap bulan. Khusus di Jabar, Jokowi telah berkunjung sebanyak 46 kali, setiap bulan rata-rata sebanyak 1.43 kali. Jadi setiap bulan Jokowi setidaknya melakukan 1-2 kali kunjungan ke Jabar. Angka ini tentu saja bisa meningkat jika melihat intensitas blusukan Jokowi setahun belakangan di Tanah Pasundan.

Tingginya frekeuensi kunjungan Jokowi mengindikasikan bahwa Istana tidak ingin mengulang kekalahan seperti dalam Pilpres 2014. Kala itu, Jokowi hanya meraih sekitar 40% suara, kalah telak dari Prabowo-Hatta.

Dikepung Istana

Blusukan hanya salah satu cara menggaet suara di Jabar. Diluar itu, Istana juga harus memastikan ada jagoannya yang duduk di kursi gubernur. Diakui atau tidak, Jokowi-JK jadi pecundang karena ada kontribusi Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dalam memenangkan pasangan Prabowo-Hatta.

Skenario pun disusun. Belajar dari kekalahan dalam Pilgub DKI Jakarta 2017, Istana membuat strategi berbeda. Menghindari head to head. Karena itu, ada tiga skenario alternatif.

Pertama, mencari sosok yang berpotensi besar menang. Ada nama Ridwan Kamil. Bila tidak, maka harus dicari kandidat pengganti dari partai yang berada di kubu pemerintah.

Kedua, mengakuisisi kandidat dari kubu lawan. Ada nama Wagub Deddy Mizwar. Cara kedua ini bila melihat karakter yang kuat dari Deddy Mizwar, harus diakui tidak mudah, tapi tetap boleh dicoba. Namanya juga usaha. Dan ternyata, ikhtiar tersebut berhasil. Deddy diambil Partai Demokrat.

Ketiga, dengan “membuat becek lapangan.” Caranya dengan memperbanyak calon, terutama dari kubu lawan. Semakin banyak yang berlaga, terutama dari kubu lawan, peluang jagoan Jokowi untuk memenangkan Pilkada Jabar akan semakin terbuka.

Ketiga skenario ini sudah berhasil dilakukan. Ridwan Kamil berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum. Ridwan secara tegas sudah menyatakan mendukung Jokowi jadi presiden kedua kalinya.

Deddy Mizwar yang berpasangan dengan Dedi  Mulyadi pun demikian. Didukung Partai Demokrat dan Partai Golkar, Deddy Mizwar terikat kontrak politik untuk mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019.

Pasangan lain, TB Hasanuddin dan Anton Charliyan sudah dipastikan berada di kubu Jokowi. Keduanya diusung PDIP yang merupakan partai pendukung Jokowi.

Dengan tiga pasangan ini, lapangan Pilgub Jabar 2018 sudah teramat becek, sesuai skenario Istana. Hanya tersisa Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) yang didukung Gerindra, PKS, PAN dan PBB. Pasangan ini secara tegas menyatakan siap mengganti presiden pada 2019. Jargon mereka: #2018AsyikMenang, #2019GantiPresiden.

Tapi Istana sepertinya belum terlalu yakin bisa memenangkan pertarungan. Elektabilitas Asyik yang  belakangan kian meningkat membuat mereka menempuh langkah kontroversial yang menurut banyak pengamat menabrak undang-undang. Ini terjadi saat Istana mengangkat Komjen Polisi M. Iriawan sebagai Penjabat Gubernur Jabar.

Padahal, di awal tahun 2018, ide ini mendapat protes keras dari publik. Menko Polhukam bahkan sudah menyatakan tidak akan melanjutkan ide tersebut. Tapi nyatanya, lima bulan berselang, kebijakan tersebut justru dikeluarkan. Kecaman pun datang. Tapi pemerintah jalan terus.

Boleh dikatakan, pelantikan tersebut membuat Asyik dikepung Istana. Asyik tak hanya berhadapan dengan tiga proxy Istana, tapi juga penjabat yang seharusnya bertindak sebagai wasit yang adil. Pihak Istana sendiri menyatakan Iriawan akan bersikap netral. Tapi publik sangat sulit untuk dibuat percaya.

Didukung Ulama

Asyik memang sudah dikepung Istana. Tapi disisi lain, ada sebuah kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh Asyik. Mereka didukung penuh oleh ulama-ulama kharismatis yang selama ini lantang menyuarakan amar ma’ruf nahi mungkar dan bersama umat.

Ada KH Abdullah Gymnastiar yang meski tidak secara eksplisit memberikan dukungan, tapi terlihat jelas berada di pihak Asyik. Pertemuannya dengan Asyik menjadi salah satu indikasinya.

Ada Ustadz Arifin Ilham. Secara tegas pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra itu menyatakan dukungannya kepada Asyik. Videonya viral di media sosial.

Terakhir, tentu saja Habib Rizieq Shihab. Saat Asyik bersilaturahim di Mekah, dukungan penuh diberikan ulama kharismatis tersebut. Habib yang mengenakan baju putih duduk diapit Sudrajat yang juga mengenakan baju berwarna putih, bersama Ahmad Syaikhu yang tampak memakai kemeja dengan setelan jas hitam.

“Malam hari ini, saya bersama keluarga di Mekkah Al Mukaromah sangat berbahagia. Saya kedatangan tamu para habaib, para ulama para kiai dari berbagai daerah. Dan, di samping saya juga alhamdulillah ada Pak Sudrajat, calon gubernur Jawa Barat. Juga dan Pak Ahmad Syaikhu, calon wakil gubernur Jawa Barat,” kata Rizieq Shihab dalam video yang viral di media sosial.

Residu Pilgub DKI Jakarta masih membekas. Bahkan, aksi 212 dan Habib Rizieq Shihab menjadi variabel baru dalam peta politik di Tanah Air. Begitu pula yang terjadi di Jabar. Sehingga tak heran jika Istana terkesan all out untuk memenangkan Pilgub Jabar.

Siapa yang akan kita pilih pada 27 Juni nanti? Pasangan yang didukung Istana atau Asyik yang dikepung Istana dan didukung ulama?

Hati nurani kita sebagai umat Islam sudah pasti tahu jawabannya.

 

Erwyn Kurniawan
Pengamat Politik Islam dan Praktisi Media