Awal Mula Azan Disyari’atkan Allah swt

 

Azan menyedot perhatian umat Islam saat ini usai puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap melecehkan panggilan sholat tersebut. Dalam puisinya berjudul “Ibu Indonesia”, Sukmawati menulis bahwa suara kidung ibu Indonesia lebih merdu dari alunan suara azan.

Putri Bung Karno itu tentu saja sudah melewati batas dan bisa dianggap melecehkan Islam karena azan adalah syariat agama yang diperintahkan Allah swt.

Azan mulai disyari’atkan di Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Hal ini didukung dengan hadits Ibnu ‘Umar.  Beliau berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا ، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ . فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ »

Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kira waktu sholat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi. Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah azan untuk shalat.”  (HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377).

Suara azan yang berkumandang di Madinah membuat Yahudi terkejut ketika mendengarnya. Mereka berkata, “Wahai Muhammad, engkau sudah membuat hal yang baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.” Lalu turunlah firman Allah swt,

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ

 Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat.” (QS. Al Maidah: 58).

Juga firman Allah swt,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ

“Apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at.” (QS. Jumu’ah: 9). Ayat ini juga menandakan bahwa azan pertama kali disyari’atkan di Madinah karena shalat Jum’at baru disyari’atkan saat di Madinah. Untuk tahunnya sendiri, Ibnu Hajar lebih menguatkan pendapat azan dimulai pada tahun pertama Hijriyah. Lihat Fathul Bari, 2: 78.

Menilik dari sejarah tersebut, azan memiliki posisi yang sangat penting bagi umat Islam. Sungguh teramat disayangkan jika begitu mudahnya Sukmawati menista azan dihadapan publik dan tanpa rasa bersalah.