Ayahku…

Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara kepada anak bungsu kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang.

Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat.. lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, “Papamu memiliki karier bagus macam apa?” mulailah mereka bertanya.

Bob menggumam perlahan sambil memalingkan muka, “Ia hanya seorang buruh”.

Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami.

Katanya, “Mama ingin bicara sama kamu, Nak” seraya mencium pipinya yang berlesung pipit. “Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa artinya yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu.”

“Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari… Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”

“Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan-berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!”

Aku menelan air mata dan berdeham saat memasuki pintu.

Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai.

Ia memelukku sambil berkata, “Hai, Pa, aku bangga jadi anak Papa.. Karena Papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar.”

 

Aidil Heryana

Sumber: Chicken Soup for the Soul