Analis Politik Polisi Panggil Anies
Foto: Instagram/Khairuddin Safri

Bagaimana Jika Hanya Anies yang Dipanggil Terkait Kerumunan? Ini Kata Analis Politik

Diposting pada 377 views

Ngelmu.co – Bagaimana jika hanya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang dimintai klarifikasi terkait kerumunan simpatisan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab? Analis Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, pun angkat bicara.

Ia, menilai sebagian kalangan akan menilai pemanggilan terhadap Anies, oleh Polda Metro Jaya, sebagai kasus bernuansa politis.

“Kalau hanya Anies yang dipanggil, kalau semuanya selesai hanya di Anies dan Jakarta, maka ini pasti akan dipandang secara politis oleh orang-orang,” tegas Adi, mengutip Kompas, Selasa (17/11).

Mengapa demikian?

Sebab, polisi seakan hanya fokus pada insiden kerumunan simpatisan Habib Rizieq, di Jakarta.

“Karena yang berkerumun bukan hanya Anies, bukan hanya di Jakarta, tapi di banyak tempat,” jelas Adi.

Ia, pun mengambil contoh kasus simpatisan Habib Rizieq, yang juga berkerumun di Bandara Soekarno Hatta, Banten.

“Termasuk, kalau mau jujur, kerumunan di Bandara Soekarno-Hatta, itu ‘kan masuk ke wilayah Banten, bukan Jakarta,” kata Adi.

“Kenapa itu tidak ditindaklanjuti, dimintai klarifikasi juga?” sambungnya bertanya.

Sebagai informasi, saat itu, tanpa antisipasi aparat, massa sampai memblokade jalan tol, hingga jadwal penerbangan terganggu.

Namun, sampai berita ini disusun, polisi, belum menjadwalkan pemanggilan kepada Gubernur Banten, Wahidin Halim.

Begitu pun dengan simpatisan yang sempat memenuhi Jalur Puncak, ketika Habib Rizieq, hendak mengisi ceramah di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jumat (13/11) lalu.

Kegiatan itu membuat polisi sampai melakukan rekayasa lalu lintas.

Namun, Bupati Bogor, Ade Yasin, sampai saat ini juga belum menerima panggilan dari kepolisian.

Belum lagi menyoroti sederet kerumunan tanpa protokol kesehatan di luar antusiasme publik menyambut kepulangan Habib Rizieq, ke Tanah Air.

Seperti yang tercipta dari serangkaian aktivitas kampanye, pun pendaftaran kandidat Pilkada 2020, di 270 daerah, seluruh Indonesia.

Termasuk kerumunan yang terjadi, ketika putra Presiden RI Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, berkampanye dan mendaftar sebagai calon Wali Kota Solo.

Begitu juga dengan kerumunan yang ada saat menantu Jokowi, Bobby Nasution, bakal calon Wali Kota Medan, yang sudah terang-terangan mengaku, melanggar protokol kesehatan, pada 27 September lalu.

“Jadi, orang akan macam-macam menilai politisnya,” ujar Adi.

“Ada yang melihatnya berkaitan dengan Pilpres. Ada yang melihatnya berkaitan dengan ngerjain Anies, dan seterusnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Viral Foto Anies Baswedan Sholat Usai Dimintai Keterangan oleh Polisi

Kerumunan massa di tengah pandemi memang bukan hanya terjadi karena kembalinya Habib Rizieq, ke Indonesia.

Bukan juga hanya berlangsung saat pernikahan sang putri, Syarifah Najwa Shihab, Ahad (15/11) lalu.

Pasalnya, keramaian juga nampak jelas saat Banser Banyumas, memperingati Hari Pahlawan.

Mereka melakukan pawai panjang, memutari Kota Purwokerto, dengan membentangkan bendera merah putih sepanjang 1.000 meter.

Baca Juga: Banser Kumpulkan 9.999 Anggota, Yaqut Klaim Acara Tak Mungkin Berlangsung Tanpa Izin Pemda

Bahkan, jika bicara soal melanggar protokol pencegahan penyebaran COVID-19, publik tak bisa menahan untuk ikut bersuara.

Mereka mempertanyakan acara pengajian yang melibatkan Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi)–pengisi tausiah–di Gedung Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (16/10) lalu.

Pasalnya, kegiatan yang berlangsung di tengah pandemi itu, juga nampak tak menaati protokol pencegahan penyebaran COVID-19.

Para jemaah, terlihat tidak menjaga jarak. Bahkan yang memakai masker pun hanya hitungan jari.

Selengkapnya: Ketika Netizen Soroti Keramaian Acara Habib Luthfi, “Tak Berjarak, Tanpa Masker”