Bendera Tauhid atau HTI di MAN 1 Sukabumi?

Diposting pada 80 views

Ngelmu.co – Beredarnya foto siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Sukabumi, yang mengibarkan bendera bertuliskan lafaz Tauhid, terus menjadi sorotan. Berawal dari Keluarga Remaja Islam Masjid Al-Ikhlas (KHARISMA), kelompok ekstrakurikuler yang membawa serta bendera tersebut, saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), atau dalam istilah Kemenag adalah MATSAMA (Masa Ta’aruf Siswa Madrasah).

Pihak kepolisian yang langsung menyelidiki aksi pengibaran bendera tauhid oleh siswa MAN 1 Sukabumi, menyatakan tidak ditemukan keterkaitan dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau organisasi terlarang lainnya dalam aksi siswa tersebut.

“Anak tersebut dan kepala sekolah sudah dimintai keterangan di Polsek Cibadak bersama dengan Kementerian Agama (Kemenag). Sementara ini tidak ditemukan indikasi yang bersangkutan terlibat HTI dan sebagainya. Aksi dalam foto itu hanya untuk menarik perhatian teman-temannya saja agar masuk ke organisasi mereka di rohis,” kata Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi, seperti dilansir Detik, Ahad (21/7).

Menanggapi kisruh tersebut, Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI), pun menegaskan jika pengibaran bendera itu, tidak melanggar hukum.

Ketua Eksekutif Nasional Badan Hukum Perkumpulan KSHUMI, Chandra Purna Irawan, menyatakan tidak ada putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan, atau produk hukum apa pun yang melarang mencetak, mengedarkan, pun mengibarkan bendera berlafaz, “Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah”.

Maka, bisa dipastikan tidak ada delik pidana atas perbuatan yang dilakukan oleh siswa-siswi MAN 1 Sukabumi.

Ketua Eksekutif Nasional Badan Hukum Perkumpulan KSHUMI, Chandra Purna Irawan

“Terkait tindakan Menteri Agama, atas dasar apa dan untuk apa melakukan investigasi terhadap siswa yang mengibarkan bendera tauhid? Patut diduga, ada motif dan kepentingan politik tertentu,” tutur Chandra, melalui keterangan tertulis, Ahad (21/7) malam.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan, pihaknya telah menerjunkan tim khusus untuk menelusuri kasus pengibaran bendera tauhid di MAN 1 Sukabumi.

Kemudian Kementerian Agama (Kemenag) menyimpulkan, pengibaran bendera tauhid oleh siswa-siswi MAN 1 Sukabumi, tidak terkait dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Itulah yang membuat Chandra merasa, tindakan Menag harus diklarifikasi. Agar masyarakat tidak menilai pemerintah sebagai pihak anti-Islam atau alergi terhadap simbol-simbol Islam.

“Semestinya Menteri Agama melindungi dan menjamin ajaran, dakwah Islam, dan simbol-simbol Islam dari upaya potensi dugaan kriminalisasi,” ujar Chandra.

Meski bendera yang dikibarkan bertuliskan kalimat tauhid, Kepala MAN 1 Sukabumi, Pahrudin, justru menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

“Saya mewakili anak didik, saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Sukabumi, terkait berkibarnya bendera itu,” ucapnya, saat dihubungi sukabumiupdate.com, Ahad (21/7) malam.

Pahrudin menyatakan, MAN 1 Sukabumi menerima kunjungan Polres Sukabumi, Senin (22/7) untuk langsung melakukan pembinaan kepada siswa-siswi.

“Untuk kunjungan itu, pertama akan ada pembinaan, kedua memberi kejelasan tentang bendera itu, dan membuat pernyataan bersama. Rencananya akan datang pukul 07.00 WIB,” pungkasnya.

Sementara seorang siswa yang mengibarkan bendera, Muhammad Abdul Latif, mengaku kaget saat mengetahui apa yang dilakukannya berbuntut panjang.

Ia mengaku menyesal, setelah mengetahui bendera yang dikibarkan olehnya, dikaitkan dengan sebuah ormas yang dilarang oleh pemerintah.

Berikut isi dari surat pernyataan remaja yang juga Ketua KHARISMA:

1. Pengibaran bendera yang diduga bendera HTI (Organisasi yang terlarang di Indonesia) dan pembentukan barisan serta atribut-atributnya adalah murni ide dan gagasan saya sendiri tanpa sepengetahuan pihak Madrasah.

2. Asal usul bendera tersebut bendera warna hitam dari saya sendiri yang dibawa dari rumah, bendera warna putih berasal dari Muhamad Ihsan kelas XI. MAN 1 Sukabumi, Bendera Palestina didapat dari Tengku Muhamad Mutsafaqul Siswa kelas XII MAN 1 Sukabumi, bendera Merah Putih diambil dari kelas, saat ini kedua bendera yang diduga simbol dari HTI telah diamankan oleh Kepolisian Sektor Cibadak.

3. Bahwa setelah saya dipanggil oleh Kepolisian Sektor Cibadak pada tanggal 20 Juli 2019, baru memahami dan mengerti bahwa bendera dengan simbol yang mirip dengan bendera HTI (organisasi terlarang) adalah dilarang keberadaannya.

4. Pelaksanaan kegiatan rekrutmen siswa-siswi baru untuk masuk ekstrakurikuler Keagamaan yang saya laksanakan bersama teman-teman, tidak melakukan konsultasi dan tidak melapor kepada pembina dan kepala Madrasah, Kegiatan tersebut hanya bertujuan untuk meramaikan dan menarik simpati calon anggota baru Kharisma (Remaja Masjid) MAN 1 Sukabumi.

5. Atas kejadian ini, saya menyesal, tidak akan mengulang kembali, serta meminta maaf kepada Civitas Akademik MAN 1 Sukabumi dan warga, masyarakat Sukabumi.

6. Saya menyadari, bahwa setelah dilakukan klarifikasi dan pembinaan oleh Kementerian Agama RI (H. A. Umar), Kemenko PMK, Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, Kepala MAN 1 Sukabumi, pada tanggal 21 Juli 2019, maka ke depannya segala bentuk kegiatan Kharisma akan dikonsultasi kepada kepala madrasah dan pembinanya.

7. Saya berjanji akan menjaga nilai-nilai ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI.

Namun, salahkah Abdul Latif mengibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid?

“Asli, saya itu malah pertama lihat gambar ini terharu dan bangga, adik-adik shalih shalihah yang bangga dengan agamanya, MasyaAllah. Malah bertanya-tanya, kok bisa ada Muslim yang ‘panas’ lihat foto ini?” tanya seorang warganet, Bahrun Alhamidy.

Bendera tauhid adalah bendera kaum Muslim, tulisannya tauhid. Bukan milik HTI, FPI, atau para mujahidin, tetapi milik kaum Muslimin di seluruh dunia. Mengapa bendera ini justru kian sulit dikibarkan, saat bendera ‘warna-warni’ justru terus diperjuangkan?

Apakah bendera Tauhid benar-benar dilarang keberadaannya di Indonesia?