Tol Semarang-Demak juga Gunakan Bambu, kok Enggak Ribut?

  • Bagikan

Ngelmu.co – Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) DKI Jakarta, Tatak Ujiyati, melemparkan pertanyaan.

Berkaitan dengan pembangunan sikuit Formula E yang menggunakan bambu sebagai bahan lapisan bawah; untuk area tanah berlumpur.

Tatak bertanya melalui akun Twitter pribadinya, @tatakujiyati, sembari membagikan sebuah artikel berjudul:

‘Selain Sirkuit Formula E, Ini Konstruksi Jalan yang Gunakan Bambu’.

Tatak bilang, “Bukan hanya sirkuit Formula E, jalan tol Semarang-Demak juga pakai bambu.”

“Ternyata, bambu sudah biasa digunakan sebagai lapisan bawah, dalam konstruksi tanah berlumpur,” sambungnya.

Lalu, Tatak pun bertanya. “Enggak ada yang ribut tol Semarang-Demak, ya?”

“Oh, iya, bukan di DKI, kok, ya. Bukan Anies gubernurnya,” ujarnya, menutup cuitan tersebut.

Politikus PDIP Mengkritik

Sebelumnya, anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDIP, Gilbert Simanjuntak, menyampaikan kritik.

Ia menilai, pembangunan sirkuit Formula E di Ancol, Jakarta Utara, dipaksakan.

Mengingat durasi pengerjaan yang hanya 54 hari.

“Saya menyesalkan, kenapa mesti dipaksakan? Bisa ditunda, agar lebih berkualitas,” kata Gilbert di Jakarta, Kamis (3/3/2022).

Lebih lanjut, ia juga mengkritik penggunaan bambu sebagai lapisan bawah.

“Setelah membabat [pohon] Monas, sekarang menggunakan kayu dan bambu untuk Formula E,” kritik Gilbert.

“Yang mengatakan ‘green racing’, itu sebuah pembohongan publik yang harus menjadi catatan serius,” tegasnya.

Bukan Cuma Sirkuit Formula E

Namun, yang menjadi pertanyaan Tatak, sebelumnya, adalah karena sirkuit Formula E, bukan satu-satunya yang menggunakan bambu sebagai bahan lapisan bawah untuk area tanah berlumpur.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), juga memilih bambu sebagai bahan konstruksi Tol Semarang-Demak.

Alasannya adalah karena bambu, dapat mempercepat waktu konsolidasi pada tanah di lokasi pembangunan konstruksi.

Mengulas sekilas, ada dua jenis metode yang digunakan untuk mengukur kelayakan bahan bambu sebagai sistem matras.

Mengutip Detik, keduanya adalah tarik sistem matras bambu, dan uji lentur sistem matras bambu.

Pengujian tersebut untuk mengetahui perilaku bambu yang dirangkai menjadi kesatuan sebagai matras.

Terutama, jika mengalami gaya tarik dalam arah horizontal. Sehingga gaya tekan pada arah, menjadi tegak lurus.

Pembangunan jalan Tol Semarang-Demak juga terintegrasi dengan tanggul laut.

Struktur timbunan di atas laut, akan diperkuat matras bambu setebal 17 lapis.

Penguatan kondisi tanah juga menggunakan pengalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD.

Sementara pembebanan, menggunakan material pasir laut yang diambil dengan alat Trailing Suction Hopping Dredger (TSHD).

Plus Minus Bambu

Jurnal Evaluasi Penggunaan Bambu Sebagai Tulangan pada Struktur Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) Jalan Raya karya Eko Darma, dkk, memberikan penjelasan.

Bahwa kekuatan bambu, dapat mencapai dua kali kekuatan baja; jika gunanya adalah sebagai tulangan.

Pada struktur beton sederhana, khususnya, bambu juga memiliki peluang untuk menjadi tulangan.

Selain itu, bambu juga punya kekuatan daya tarik yang lebih tinggi daripada jati, meranti, dan jenis kayu lain.

Agar kekuatan tulangan bambu makin optimal, pengguna dapat melakukan modifikasi; dengan penambahan laminasi.

Dalam kata lain, menggabungkan dua bilah bambu pada bagian dalam.

Tulangan bambu juga dapat didesain setara dengan tulangan baja pada pelat beton.

Jurnal ini juga menyebut adanya uji coba untuk mengukur kekuatan bambu.

Meliputi daya kuat tekan beton dan loading test, yakni besarnya respons pada perkerasan jalan.

Hasil uji itulah yang kemudian memastikan kemampuan bambu untuk menggantikan baja; sebagai tulangan pada perkerasan jalan hingga kaku.

Mengutip jurnal Pemanfaatan Bambu pada Konstruksi Bangunan Berdampak Positif Bagi Lingkungan karya Ni Komang Ayu Artiningsih:

Keunggulan bambu adalah:

  • Mudah ditanam dan tidak perlu pemeliharaan khusus;
  • Mudah tumbuh–5 sentimeter per jam, atau sentimeter per hari;
  • Memiliki ketahanan luar biasa, sebagaimana rumpun bambu yang telah terbakar, masih dapat tumbuh kembali;
  • Mempunyai kekuatan cukup tinggi, sebagaimana kuat tariknya yang dapat disejajarkan dengan baja;
  • Memiliki kelembapan yang tinggi, sehingga bambu baik untuk kelenturan; dan
  • Teksturnya elastis, sehingga ketahanannya tinggi terhadap angin pun gempa.

Sementara kelemahan bambu adalah:

  • Rentan terhadap serangan jamur dan serangga;
  • Berumur pendek [jika dijadikan sebagai struktur bangunan, hanya bertahan 5 tahun];
  • Harus menggunakan sambungan tradisional yang sesuai; dan
  • Strukturnya mudah terbakar.

Penjelasan Penanggung Jawab

Terlepas dari itu semua, sebelumnya, penanggung jawab pembangunan sirkuit Formula E, buka suara.

Ari Wibowo yang mewakili PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama untuk memberikan penjelasan.

Bahwa material bambu dipilih untuk melapisi bawah lintasan, karena tahan terhadap air.

Bambu juga digunakan, lantaran dari lima zona konstruksi, zona lima sepanjang 1 kilometer merupakan tanah lunak.

Sehingga tergolong sulit untuk dikerjakan.

Baca Juga:

Di sisi lain, kontraktor juga harus mengejar waktu, mengingat balapan akan berlangsung pada 4 Juni 2022; kurang dari 100 hari lagi.

Ari juga bilang, sekitar 40 persen konstruksi sirkuit, konsentrasinya berada di zona lima tersebut.

“Jadi, zona lima ini paling sulit serta paling menguras energi dan konsentrasi,” jelasnya, Rabu (23/2/2022) lalu.

  • Bagikan