Bukan Minta Maaf, Sukmawati justru Bantah Puisinya Lecehkan Islam

 

Puisi Sukmawati terus menjadi perbincangan di masyarakat dan media sosial karena dianggap melecehkan Islam. Tapi bukan meminta maaf, wanita yang dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu mendukung Ahok-Djarot itu justru membantah adanya pelecehan.

“Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati, khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain,” ujar Sukmawati seperti ditulis Detik.

Menurut Sukmawati, puisi yang tersebut menggambarkan realitas di Indonesia. Sebagai seorang budayawati, Sukmawati mengaku menyelami pikiran rakyat dari berbagai daerah.

Lho Itu suatu realita, ini tentang Indonesia. Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita. Saya budayawati, saya menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam, seperti di Indonesia timur, di Bali, dan daerah lain,” katanya.

Sukmawati menambahkan, apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur. Sukmawati lalu bicara soal tuduhan melecehkan azan.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” ujar Sukmawati.

“Jadi ya silakan orang-orang yang melakukan tugas untuk berazan pilihlah yang suaranya merdu, enak didengar. Sebagai panggilan waktu untuk salat. Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” pungkasnya.

Puisi Sukmawati berjudul “Ibu Indonesia” dibacakan dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018, Kamis (29/3/2018). Video pembacaan puisi itu lalu beredar dan menyulut kemarahan umat Islam karena dianggap melecehkan syariat Islam, cadar dan azan.