Buni Yani Lakukan Mubahalah atas Kasus yang Menimpa Dirinya

Ngelmu.co, JAKARTA – Aktivis sosial Buni Yani mengaku menerima putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi sehingga putusan hukuman tetap 18 bulan penjara.

Namun demikian, dirinya menegaskan tidak pernah memotong/mengedit pidato eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Buni Yani menerima putusan MA menolak kasasi, meski ia menyebut itu sebagai kezaliman.

“Kalau saya diputuskan bersalah oleh karena gara-gara sesuatu yang tidak saya lakukan. Demi Allah saya tidak melakukan itu, saya sekarang melakukan mubahalah,” ujar Buni Yani dalam jumpa pers di Jl H Saabun, Jati Padang, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2018).

“Demi Allah saya tidak pernah mengedit dan memotong video. Kalau saya bohong, biarlah Allah sekarang juga memberikan laknat dan azab kepada saya dan seterusnya kepada anak-cucu saya dan saya dimasukkan selama-lamanya ke dalam neraka. Selama-lamanya ke dalam neraka agar saya dikutuk selama-lamanya dan anak-cucu saya merasakan yang sepedih-pedihnya azab dari Allah,” kata Buni Yani.

Namun bila dirinya yang benar, Buni Yani berdoa agar pihak yang membawanya ke proses hukum mendapatkan balasan. “Tetapi kalau saya benar, biarlah buzzer, polisi, jaksa, hakim, maka semuanya mendapatkan laknat dan azab dari Allah SWT sepedih-pedihnya lalu mereka mendapatkan azab yang tidak ada duanya,” sambungnya.

“Siapa pun yang mencoba-coba melakukan kezaliman dan kebiadaban kepada sesama warga negara. Rezim ini tidak akan lama, pasti akan berganti. Bisa jadi kemudian rezim ini saudara-saudara akan menjadi korban. Camkan itu para penegak hukum,” tegas Buni.

Pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian, mengatakan pihaknya masih menunggu salinan putusan kasasi. Pengacara akan lebih dulu mempelajari putusan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Diketahui, MA menolak kasasi yang diajukan terdakwa pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Buni Yani.

Dengan demikian, Buni Yani tetap dihukum penjara selama 18 bulan. Sementara Ahmad Dhani dituntut hukuman penjara 2 tahun dalam kasus ujaran kebencian.

Dalam kasus Buni Yani, menurut juru bicara MA Suhadi, vonis yang diterima Buni Yani kembali mengacu kepada putusan sebelumnya, yang dikeluarkan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung pada Mei 2018.”Hukuman yang berlaku menjadi seperti putusan sebelumnya, karena (kasasi) ditolak di MA,” ujar juru bicara MA, Suhadi.

Suhadi menyampaikan, putusan PT Bandung sendiri menguatkan putusan pertama yang dikeluarkan Pengadilan Negeri (PN) Bandung, yaitu hukuman penjara selama 18 bulan. “PT menguatkan PN, berarti sama saja, bahwa berlaku (vonis) PN,” ujar Suhadi.

Meski demikian, Suhadi menyampaikan, mekanisme lain tetap bisa ditempuh pengunggah video pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama itu. Buni Yani bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas vonis yang ia terima.”Kalau ada alasan-alasannya, ya bisa PK. Kalau dikehendaki. Karena itu kan upaya hukum luar biasa,” ujar Suhadi.