Bus Miliaran Rupiah Terbakar, Bos PO Haryanto: Itu Titipan Allah

  • Bagikan
PO Haryanto Titipan Allah
Direktur Operasional PO Haryanto Rian Mahendra

Ngelmu.co – Rian Mahendra selaku COO [chief operating officer] alias Direktur Operasional PO [perusahaan otobus] Haryanto, mengungkap bagaimana sikap bos perusahaannya [sang ayah, H Haryanto] dalam menghadapi musibah.

Sebagai salah satu PO terbesar saat ini–dengan lebih dari 300 bus dan 2.000 karyawan–beberapa kendaraannya sempat mengalami kecelakaan, bahkan terbakar.

Namun, Rian bilang, terbakarnya bus bernilai miliaran rupiah, tidak menimbulkan kepanikan ataupun membuat perusahaan menuntut sang sopir.

“Kita punya perusahaan sebesar ini karena dikasih Allah. Kalau Allah mau ambil jadi abu dalam sekejap, kita harus siap.”

Demikian tutur Rian, seperti Ngelmu kutip dari kanal YouTube Coach Yudi Candra, Kamis (23/12/2021).

“Karyawan tidak [dituntut], karena kita sadar, beliau [H Haryanto] bilang, ini hanya titipan. Terbakar satu itu titipan Allah.”

Rian juga menceritakan bagaimana keluarganya tidak suka foya-foya, liburan, apalagi belanja ke luar negeri.

“Kita hidup buat kerja, kita sederhana, fokus kita bekerja, ibadah,” ujarnya.

Sebagai pengelola perusahaan, Rian sadar betul, ia punya tanggung jawab yang besar; menghidupi karyawan.

“Tidak ada perusahaan sejahtera, kalau karyawannya tidak sejahtera. Bahkan, saya sebagai pengelola, juga digaji,” paparnya.

Haji Haryanto yang merupakan pria asal Kudus, Jawa Tengah, mendirikan PO-nya pada 2002 lalu.

Tepatnya setelah purnatugas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad TNI Angkatan Darat, Tangerang, Banten.

Sebagai pekerja keras, usai bertugas, H Haryanto pun memutuskan untuk menjadi sopir angkutan kota (angkot); dari sore hingga Subuh.

Sampai akhirnya ia berhasil punya angkot sendiri, dan bangkrut pada 1998/1999, saat terjadi krisis moneter.

Baca Juga:

Namun, Haryanto tidak diam. Ia bergerak menjadi agen tiket bus di Pulau Gadung.

Berawal dari pinjaman bank, Haryanto membeli lima bus Cikarang-Cimone, yang rutenya kemudian dianggap kurang menguntungkan; sepi penumpang.

Bus Haryanto saat itu masih tidak ber-AC, maka harus berjuang untuk bersaing dengan PO yang telah mapan.

Di tahun 2006, PO Haryanto mengalami masa sulit, dan nyaris bangkrut. Puluhan busnya, mangkrak.

Haryanto? Terus berjuang. Sampai akhirnya mendapat restrukturisasi dari Bank Indonesia (BI).

“Saat itu perusahaan dikasih keringanan untuk menyelesaikan dalam 5 tahun, tapi bapak bisa menyelesaikannnya dalam 2 tahun.”

Haryanto pun akhirnya mengubah armada menjadi kelas eksekutif, serta mengalihkan trayek ke antarkota antarprovinsi (AKAP).

Jakarta-Kudus, Jakarta-Pati, dan Jakarta-Jepara.

Mulai saat itu, PO-nya berkembang, dan pada 2009, melalui Rian, Haryanto ekspansi bisnis di luar Muria Raya, yakni di Madura.

Dengan trayek Jakarta-Pamekasan-Sumenep, pulang pergi.

Adik Rian yang selesai kuliah, bertugas mengurus bagian kantor serta administrasi.

“Saya seperti macan bersayap. Tadinya harus selalu berada di kantor, kini bisa memiliki waktu untuk mengembangkan perusahaan di luar.”

“Pembagian tugas ini dilakukan oleh Haji [sang ayah],” jelas Rian.

Baca Juga:

Di bawah bimbingan ayahnya, Rian berhasil mengembangkan PO mereka, menjadi perusahaan beraset ratusan miliar rupiah.

“Atas kekuasaan Allah, awalnya dari lima bus, kini menjadi 300 unit bus.”

“Karyawan saat ini lebih dari 2.000, dan yang langsung di bawah saya ada sekitar 1.700 karyawan,” sambung Rian.

Dulu, lanjutnya, saat merintis PO di Madura, hanya dua bus dalam sehari [Sumenep dan Bangkalan].

“Tiga bulan, penumpang hanya satu, dua, tiga, empat orang,” kata Rian.

“Kini, atas jalan Allah, PO Haryanto jadi pemain utama,” tuturnya bersyukur.

  • Bagikan
ngelmu.co