Berpakaian Syar'i
Ilustrasi Berpakaian Syar'i

Cerita Valina Diusir dari Angkot karena Berpakaian Syar’i

Ngelmu.co – Banyaknya ulasan yang mendeskreditkan Islam setelah teror bom di Surabaya dan Sidoarjo berakibat pada umat Islam yang mengenakan atribut yang sesuai dengan ajaran agamanya, seperti berpakaian syar’i; bercadar, berjamggut, dan lain sebagainya. Atribut Islam menjadi perbincangan dalam beberapa hari terakhir setelah aksi bom di Surabaya dan Sidoarjo yang menewaskan sejumlah orang. Bahkan beberapa pihak turut memojokkan umat Islam dengan atribut yang dikenakan.

Dilansir dari Kumparan, Seperti halnya yang dialami oleh Valina Khiarin Nisa. Valina wanita asal Surabaya ini menjadi korban dari beberapa pihak yang memojokkan umat Islam hanya dari pakaian yang ia kenakan, berpakaian syar’i. Valina yang kesehariannya yang saat itu berpakaian syar’i dan tanpa cadar merasa terpojokkan karena banyak warga yang mencurigainya sebagai teroris karena berpakaian syar’i.

Valina mengisahkan bahwa dirinya diusir dari angkot hanya karena mengenakan pakaian syar’i. Sebelumnya Valina memang terbiasa naik angkot untuk pulang ke rumah, namun ketika aksi bom yang dilakukan oleh teroris wanita, pandangan warga tentang dirinya berbeda dari sebelumnya. Apalagi ditambah, ulasan-ulasan yang serampangan tentang ciri-ciri teroris yang identik dengan atribut Islam.

“Kejadiannya kemarin, di hari yang sama saat ledakan di Polrestabes Surabaya. Ledakan jam 8.50 WIB, kejadian saya di daerah Indrapura Surabaya jam 18.15 WIB,” ujar Valina seperti yang dikutip dari kumparan, Selasa (15/5).

Baca juga: Alumni Psikologi UI ini Menjawab Keraguan soal Anak Rohis

Valina menceritakan bahwa kondisi angkot yang dinaiki Valina saat itu hampir penuh. Valina menuturkan bahwa dirinya mendapatkan tatapan dari para penumpang lain saat dirinya hendak naik angkot terlihat cemas dan sebagian lainnya terlihat sinis. Valina bisa menduga tatapan tak menyenangkan itu terkait bom bunuh diri yang dilakukan oleh Puji Kuswati dan kedua anaknya di Gereja GKI Diponegoro Surabaya yang juga berpakaian syar’i.

Saat itu, memang Valina mengenakan pakaian dan kerudung panjang berwarna biru dongker. Oleh karena warna pakaian syar’i yang ia kenakan tersebut kemungkinan membuat orang sekitar menganggapnya seperti teroris. Valina mengatakan bahwa dirinya juga cemas karena para penumpang angkot juga mencurigai barang bawaannya. Mereka menuduh dirinya membawa bom karena ia memang saat itu menggunakan ransel berukuran besar dan membawa tas jinjing hitam.

“Ada yang celetuk ‘itu tasnya isi apa coba?’ Saya memang memakai tas ransel besar warna ungu gelap dan tas jinjing berwarna hitam,” tuturnya.

Selanjutnya, baru 10 menit duduk diangkot, Valina diminta turun oleh sopir angkot dengan alasan angkot penuh. Padahal menurutnya saat itu kondisi angkot belum benar-benar penuh. kemudian, Valina pun turun dari angkot tersebut karena pandangan seluruh penumpang angkot yang gelisah melihat dirinya.

“Saya bilang, saya enggak apa-apa duduk di dekat pintu, karena saya biasa naik angkot, tapi tetap enggak dibolehin,” ungkapnya.

Baca juga: Ayo Lawan Terorisme Verbal!

Karena kondisi yang sedang lelah dan tidak ingin membuat keributan di angkot, Valina mengalah untuk turun. Valina mengisahkan bahwa dia juga sempat menjelaskan kepada penumpang bahwa tas besar yang dibawanya berisi laptop dan jaket.

Rasa letih yang dia rasakan menjadi semakin letih karena diusir dari angkot, Valina kemudian memutuskan untuk membeli bakso yang tak jauh dari lokasi tersebut. Namun pengalaman tak menyenangkan kembali dialaminya. Dia juga mendapat tatapan sinis dari penjual bakso, hingga akhirnya dia memutuskan batal membeli bakso.

Akan tetapi, Valina bersyukur karena lingkungan kerja hingga lingkungan rumah tidak memandang dirinya seperti teroris. Di lingkungan kerja, rumah dan pertemanan alhamdulillah Valina mengatakan bahwa kondisinya diterima dengan baik.

Stereotip dan pandangan sinis semacam ini tak hanya dialami Valina. Seorang pengguna Facebook Zulaecha Tasbih yang kesehariannya memakai cadar mengisahkan bahwa dirinya dibuntuti oleh tiga orang karyawan toko saat dirinya berada di pusat perbelanjaan. Zulaecha mengaku risih dengan perlakuan yang tak mengenakkan tersebut.

Kejadian lainnya yang tidak mengenakkan dialami warga Palembang, Rindi. Rindi mengaku didatangi Ketua RT di tempat tinggalnya untuk dimintai data. Suami Rindi juga diminta menghadap ke Ketua RT dan melaporkan pekerjaannya. Menurut Rindi, semua warga bercadar di kampungnya didata ulang oleh Ketua RT setempat, tapi tidak demikian dengan warga yanag berpakaian biasa.

Di lain pihak, Kepala Biro Misi Internasional Hubungan Internasional Polri Brigjen Krishna Murti, Dalam postingannya di akun Instagram pribadinya, @krishnamurti_91, mengimbau netizen untuk tidak menilai seseorang dari penampilan semata. Krishna menuliskan wanita yang mengenakan cadar mengikuti ajaran yang mereka yakini. Ia meminta masyarakat untuk tidak memberi label negatif pada wanita bercadar.

“Wanita menutup aurat dengan jilbab ataupun bercadar itu adalah pilihan berdasarkan keyakian masing-masing. Jadi jangan kalian cap mereka dengan label tidak baik. Menutup aurat adalah kewajiban yang diajarkan nabi,” tulis Krishna, Senin (14/5).