Curahan Hati dr Emilia Nissa Khairani

Curahan Hati Salah Satu Pejuang Pandemi COVID-19

Diposting pada 312 views

Ngelmu.co – Sejauh mana perjuangan kita pribadi dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini? Berdiam di rumah? Membantu sesama dengan tetap menerapkan protokol kesehatan? Atau justru termasuk mereka yang masih bebas berkeliaran, hanya demi baju lebaran dan hal tak mendesak lainnya?

Coba diam sejenak, renungkan curahan hati dari berbagai pihak. Mereka yang sudah kehilangan orang terkasih karena virus Corona.

Para petugas medis yang harus menjaga jarak dengan sanak keluarga karena sedang berjuang melawan COVID-19, dan tak ingin orang-orang terkasih jadi tertular.

Baca Juga: Berubah-ubah Kebijakan Hingga Tenaga Medis Berguguran: Indonesia Terserah

Masih hangat pula dalam ingatan, bagaimana seorang perawat yang sedang hamil empat bulan, kritis karena tertular COVID-19, hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Virus Corona tak akan usai, jika manusia yang abai lebih banyak daripada yang berjuang.

Selain warga yang melanggar peraturan, COVID-19 juga masih akan bertamu di Indonesia, jika kebijakan pemerintah terus berubah-ubah.

Belum cukup kah #IndonesiaTerserah di-suarakan?

Semoga curahan hati dr Emilia Nissa Khairani, bisa membuka hati pemerintah pun masyarakat yang masih mau menang sendiri.

“Sudah hampir dua bulan saya dan suami tidak sekamar dengan anak-anak, dan memakai masker sepanjang hari, saat interaksi dengan anggota se-isi rumah.

Selama itu pula, saya tidak mencium mereka. Sementara mereka, setiap saat membuka pintu kamar saya dan berharap dipeluk dan dicium, Umi dan Abi.

Awalnya, kami pikir ini tak akan lama. Namun, begitu ada berita bahwa PSBB dilonggarkan, dan imbauan untuk penyelenggaraan lagi sholat berjemaah di Masjid, kami nyaris putus asa.

Belum terlihat di mana ujungnya situasi ini.

Tentunya, ini belum seberapa, dibanding teman-teman saya yang mengirim anak-anaknya ke tempat lain, dan tinggal sendirian, karena takut ia menjadi pembawa (carrier) tanpa gejala, dan menginfeksi orang-orang yang ia cintai.

Kami harus stock lebih banyak APD.
Kami harus stock lebih banyak vitamin.

Kami harus semakin menguatkan hati ini, bekerja melayani orang-orang yang (sebagian, bahkan sebagian besar) abai tersebut, dengan ikhlas.

Dan kami harus siap, menerima lebih banyak teman-teman kami, bahkan mungkin kami sendiri nanti, terinfeksi virus ini.

Tahukah kalian, ada petugas yang mual dan sakit kepala hebat setelah beberapa jam memakai APD tersebut?

Tapi ia tetap harus lanjut bekerja.

Ada petugas yang harus dan sering mandi air dingin tengah malam, saat keluar dari zona merah COVID-29, karena tidak mau membawa virus itu keluar.

Ada petugas yang baru bisa berbuka puasa jam sembilan, bahkan jam 10 malam, karena ia harus menyelesaikan tugasnya dulu, sebelum bisa melepas Hazmat yang dipakai.

Ada petugas yang tiba-tiba menangis saat sedang dinas, karena menahan rindu yang sangat dengan keluarganya, dan bahkan untuk menyeka air mata saja, ia tidak bisa, karena takut terkontaminasi.

Ah, sudahlah… kalian pasti sudah sering mendengar cerita-cerita pilu ini. Mungkin jauh lebih memilukan lagi dari ini.

Tapi mungkin, berjalan-jalan sore sambil membeli pabukoan (makanan dan minuman untuk berbuka puasa) tanpa masker, lebih penting bagi kalian.

Beramai-ramai membeli baju lebaran di mal, lebih prioritas bagi kalian.

Kami hanya perlu tetap bekerja dengan beban yang semakin berat, pasien yang semakin banyak, dan personel yang semakin sedikit.

Semoga pandemi ini segera berakhir.”