Djarot Berbohong? Mengaku tak Diundang ke Setijab Anies-Sandi, Tapi Undanganya Ada

Ngelmu.co, JAKARTA – Mantan gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat  sedang bersama keluarganya berlibur di Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dia tidak mengikuti pelantikan gubernur dan wakil gubernur yang baru, karena ingin berlibur bersama istri dan anak-anaknya usai melepas segala tugas sebagai orang nomor satu di ibu kota negara.

Bersama istri serta kedua anaknya, Djarot tiba di bandar udara Komodo, Senin (16/10), Pukul 14.30 WITA, setelah melakukan perjalanan dari Jakarta menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Menurut Djarot, selain ingin berlibur bersama keluarga, dirinya tidak diundang ke acara pelantikan Anies Baswedan-Sandiago Uno di Istana Negara.

“Saya ini kan sudah selesai bertugas sejak hari Minggu. Dan sekarang Plh Gubernurnya, Pak Saefullah jadi memang tidak ada kewajiban dari saya dalam konstitusional untuk hadir di dalam pelantikan maupun sertijab. Sebenarnya (liburan ini) sudah kita atur lama, kita rancang. Kami tunggu (undangan pelantikan), tidak ada informasi, apalagi tidak ada undangan, jadikan tidak elok kalau hadir ya. Sebetulnya proses ini berjalan mulus karena nanti akan dihandle oleh Sekda sebagai Plh,” ujarnya.

Namun rupanya, pernyataan tidak ada undangannya tersebut terbantahkan. Diduga mantan Gubernur Djarot juga membuat klaim palsu. Pasalnya dokumen berisi daftar tokoh dan pejabat yg menerima undangan Pelantikan lalu beredar.

Disebut tim protokoler Anies-Sandi menyanggah pernyataan Djarot tersebut. Nama Djarot tercantum sangat jelas di dokumen. Ia adalah undangan nomor 97, dengan kapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sementara, Sekda DKI Jakarta Saefullah pada Senin (16/10/2017) pagi juga sudah menyampaikan undangan secara langsung kepada Djarot:

“Mudah-mudahan Pak Djarot datang. Saya sudah minta kepada Pak Djarot untuk bisa hadir. Kalau saya kan hanya pelaksana harian. Tapi Pak Djarot terakhir ya dia bilang insya Allah hadir, mudah-mudahanlah. Saya sekretaris daerah ditugaskan menjadi pelaksana harian. Tetapi yang paling baik adalah gubernur yang lama menyerahkan buku memorinya kepada gubernur yang baru,”kata Sekda.