Dulu Prabowo Dibully Karena Tuding Markup Pembangunan LRT, Kini Muncul Tagar #1km500Miliar

Ngelmu.co, JAKARTA – Prabowo Subianto beberapa waktu lalu menuding ada markup dalam penganggaran pembangunan light rail transit (LRT) di Indonesia. Namun rupanya apa yang disampaikan Prabowo tersebut terbukti dengan munculnya tagar #1km500Miliar.

Prabowo disorot karena pernyataannya yang menyebut biaya pembangunan LRT di Indonesia sangat mahal. Menurutnya biaya pembangunan LRT di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain.

Prabowo menyampaikan pernyataan tersebut saat memberi sambutan dalam acara silaturahmi kader di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Kamis (21/6). Menurutnya berdasarkan riset indeks pembangunan LRT di dunia, biaya pembangunan untuk LRT hanya berkisar USD 8 juta/KM. Sedangkan di Palembang, yang memiliki panjang lintasan 23,4 km, biayanya hampir Rp 12,5 triliun atau USD 40 juta/KM.

Dibully ramai-ramai

Prabowo Subianto

Tudingan Prabowo ini pun jadi isu panas yang terus bergulir. Partai-partai lain bersuara menantangnya untuk menunjukkan bukti-buki agar ucapannya tak jadi fitnah.

Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily misalnya, dia meminta Prabowo tak asal bicara. “Pak Prabowo jangan hanya menuding. Jangan bisanya melempar masalah, lalu membuat keributan,” kata Ace kepada detikcom, Jumat (22/6/2018).

Sementara itu, Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir meragukan kevalidan ucapan Prabowo. “Prabowo dalam setiap argumen-nya selalu berfiksi. Kayaknya baru bangun dari mimpi lalu komen tentang LRT, sehingga mengambil data LRT di negeri antah-berantah dari hasil mimpi,” cibir Inas.

Dia pun meminta agar Prabowo membuka data yang dijadikan sumber tudingan ada markup dalam pembangunan LRT di Palembang. Inas juga menantang eks Danjen Kopassus itu mengungkap negara mana yang di dana pembangunan LRT-nya lebih rendah dari Indonesia.

“Jangan sampai Prabowo tidak dianggap negarawan karena bicara tanpa data dan fakta. Oleh karena itu dia perlu mengeluarkan data konkret di mana negara yang harganya jauh lebih murah dengan kondisi yang sama di Palembang,” sebut kata Wakil Ketua Komisi VI DPR itu.

PDIP juga mementahkan tudingan Prabowo soal markup LRT Palembang. Politikus PDIP Charles Honoris menilai manuver Prabowo kali ini justru membuatnya seperti pengamat saja.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan menilai Prabowo telah menerima informasi yang salah mengenai proyek pembangunan moda transportasi kereta api ringan tersebut.”Kasihan Pak Prabowo dapat informasi yang enggak pas, kan sudah ada datanya,” kata Luhut, Senin (25/6/2018)

Prabowo sebelumnya menuding biaya pembangunan LRT di Indonesia terlalu mahal. Padahal, kata Luhut, masih banyak yang jauh lebih mahal.”Sudah ada datanya kalau kita rata-rata Rp 400 miliar per kilometer (km), di tempat lain ada Rp 600 miliar, bahkan ada yang Rp 1 triliun. Tergantung, kalau elevated pasti lebih mahal, tergantung tinggi elevasinya berapa, murah mahalnya,” tegas Luhut.

JK Marah-marah Biaya LRT Kemahalan

Beberapa bulan berselang, pernyataan Prabowo tersebut terbukti. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik pembangunan kereta ringan LRT Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek). JK menilai pembangunan ini tidak efisien.

Moda transportasi yang merupakan tanggung jawab pemerintah pusat serta dibangun BUMN PT Adhi Karya itu dibangun untuk menghubungkan Jakarta dan kota-kota satelit melalui rel melayang (elevated).

“Jangan asal bangun saja,” ujar JK di hadapan para konsultan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

Menurut JK, inefisiensi pertama bisa dilihat dari keputusan pembangunan rel secara melayang. Padahal, harga tanah yang tidak terlalu mahal di perbatasan Jakarta dan wilayah-wilayah di luar Jakarta bisa membuat pembangunan rel reguler dilakukan dengan lebih murah.”Kalau di luar kota, lahan masih murah kok. Masa, penduduk tidak ada, kenapa mesti (dibangun) elevated di luar kota?” ujar JK.

Inefisiensi kedua adalah pembangunan rel tepat di samping jalan tol Jakarta-Cikampek. JK menyampaikan bahwa infrastruktur kereta ringan biasanya dibangun di lokasi berbeda dengan infrastruktur perhubungan yang sudah ada.”Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?” ujar JK.

JK menegaskan, inefisiensi-inefisiensi itu membuat biaya pembangunan melambung tinggi, mencapai Rp500 miliar per kilometer. Adhi Karya pun diperkirakan akan sulit mengembalikan modal investasi. JK mempertanyakan kecakapan konsultan yang merancang proyek.”Siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya Rp500 miliar per kilometer? Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?” ujar JK.

Bahkan, tagar 1km500Miliar jadi Trending Twitter usai wakil presiden Jusuf Kalla marah lantaran dana pembangunan LRT mencapai Rp 500 miliar per kilometer pada Sabtu (12/1/2019).