Misteri Penembak Profesor Palestina di Malaysia, Siapakah Pelakunya?

Ngelmu.co, JAKARTA – Fadi Mohammad al-Batsh tewas ditembak orang tak dikenal di Malaysia. Pria 35 tahun itu adalah profesor dari Palestina dan juga ahli dalam bidang roket.

Dilansir AFP, Minggu (22/4/2018), Menteri Dalam Negeri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, dikutip kantor berita Bernama, mengatakan Batsh adalah seorag “insinyur kelistrikan dan ahli membuat roket”.

Kelompok intelijen Israel, Mossad, dituding sebagai pihak yang mendalangi pembunuhan ini. Seorang siswa yang merupakan kolega Batsh, Mohammad Shedad (17), juga menyalahkan Mossad soal peristiwa ini.

“Ini jelas kerjaan Mossad. Fadi adalah orang yang sangat cerdas, setiap orang cerdas adalah ancaman bagi Israel,” kata Shedad di sekitar kediaman Batsh di Malaysia.

“Fadi adalah anggota Hamas dan tahu bagaimana cara bikin roket. Jadi (Israel berpikir dia ini berbahaya,” Imbuh Shedad.

Ahmad Abu Bakar (33), mahasiswa luar negeri yang kuliah di Malaysia mengatakan dia kenal Batsh sejak dua tahun lalu. “Dia orangnya ramah dan berdakwah tentang hal-hal yang baik. Dia tak pernah ceramah soal kebencian. Saya sangat terkejut dengan pembunuhan ini,” kata dia.

Kelompok pergerakan Islamis Palestina, Hamas, menyatakan pihak keluarga Batsh telah memberi keterangan, “Kami menuduh Mossad berada di balik pembunuhan ini.” Hamas Palestina mengatakan Batsh adalah ilmuwan spesialis isu energi di organisasinya.

Batsh meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Dia sudah tinggal di Malaysia selama lebih dari satu dekade, hingga akhirnya tewas ditembak pada Sabtu (21/4) kemarin. Robert Anthony, 56, petugas keamanan di sekolah dasar China dekat lokasi kejadian, menyatakan sempat mendengar suara tembakan. Namun dia mengira itu adalah suara kembang api.

Terkait Intel Asing

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi menyebut ada keyakinan dua pelaku terkait organisasi intelijen dari sebuah negara. Tidak disebut negara yang dimaksud. Dia hanya menyatakan otoritas Malaysia bekerja sama dengan Interpol dan Aseanapol, kepolisian kawasan ASEAN, dalam memburu kedua pelaku.

“Polisi akan melakukan penyelidikan yang melingkupi seluruh sudut pandang,” ucap Ahmad Zahid kepada wartawan setempat, seperti dilansir kantor berita Bernama, Sabtu (21/4/2018). “Kami akan memberikan informasi soal perkembangan kasus ini dari waktu ke waktu,” imbuhnya.

Disebutkan lebih lanjut oleh Ahmad Zahid bahwa kedua pelaku terlihat seperti Kaukasia. Kaukasia merupakan sebutan untuk orang keturunan Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan dan India Utara. Secara terpisah, seperti dilansir Reuters, Duta Besar Palestina untuk Malaysia, Anwar Al-Agha, menyatakan sejumlah saksi mata di lokasi juga menyebut kedua pelaku terlihat seperti orang Eropa.

Media lokal Malaysia melaporkan Batsh merupakan seorang profesor teknik listrik yang mendapat gelar doktor atau PhD di Universiti Malaya. Dia kemudian menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Malaysia.

Ditambahkan Ahmad Zahid bahwa penyelidikan awal mengungkapkan bahwa sang profesor dijadwalkan terbang ke Turki pada Sabtu (21/4) sore untuk menghadiri konferensi internasional. Menurut Ahmad Zahid, korban merupakan insinyur kelistrikan dan pakar perakit roket.

Korban yang diketahui sudah 10 tahun tinggal di Malaysia ini, disebut aktif dalam sebuah LSM Islam yang memperjuangkan isu Palestina. “Si dosen diyakini menjadi penghambat bagi negara yang jahat terhadap Palestina,” sebutnya tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Hamas dalam pernyataan terpisah, mengklaim Batsh sebagai anggotanya. Sedangkan pihak keluarga yang ada di Gaza menuding badan intelijen Israel, Mossad, mendalangi pembunuhan Batsh.

Bantahan Israel

Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menepis tudingan bahwa agen mata-mata Israel, Mossad terlibat dalam pembunuhan prfesor Palestina Fadi Mohammad al-Batsh. Menteri tersebut juga mengatakan bahwa Fadi Mohammad bukanlah ‘orang yang suci’.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (22/4/2018), Avigdor Lieberman mengatakan ilmuwan Palestina yang ditembak mati di Kuala Lumpur, Malaysia itu adalah seorang ahli roket dan bukan ‘orang suci’. Dia juga menepis tudingan Hamas bahwa agen mata-mata Israel Mossad yang membunuh profesor tersebut.

Avigdor Lieberman mengatakan, kemungkinan besar Batsh dibunuh karena perselisihan di internal Palestina. “Kami mendengarnya di berita. Organisasi teroris menyalahkan setiap pembunuhan kepada Israel, kami sudah terbiasa dengan itu,” kata Lieberman kepada Radio Israel seperti yang dilansir Reuters.