Wayan Koster

Gubernur Bali: Tak Ada Toleransi, Semua Toko Mafia Tiongkok Harus Tutup

Ngelmu.co – Gubernur Bali Wayan Koster  menegaskan bahwa tidak perlu ada toleransi. Koster menegaskan bahwa seluruh jaringan toko atau artshop yang berjalan dengan aktivitas tidak sehat, yang merupakan jaringan toko “Mafia Tiongkok”, termasuk travel agen nakal agar langsung ditutup.

Rusaknya citra pariwisata Bali karena diakibatkan aktivitas jaringan toko “Mafia Tiongkok”, memasuki babak baru. Terkait hal itu, Gubernur Bali Wayan Koster memimpin rapat khusus secara tertutup, Kamis (8/11). Seusai rapat, Koster menegaskan bahwa tidak perlu toleransi dan seluruh jaringan toko atau artshop yang berjalan dengan aktivitas tidak sehat, termasuk travel agen nakal agar langsung ditutup. Perintah lisan dari Koster tersebut, akan disusul dengan instruksi tertulis untuk ditutup mulai Jumat (9/11) mendatang.

Pada pertemuan awal di rapat khusus tersebut, dipimpin oleh Wakil Gubernur Bali Cok Ace, sekitar pukul 13.00 WITA. Rapat dihadiri oleh Sekda Bali Dewa Indra, jajaran Dinas Pariwisata, Imigrasi, komponen Pariwisata, Satpol PP Pemprov Bali, Satpol PP Badung, dan pihak terkait lainnya di Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali. Kemudian rapat khusus tersebut diambil alih pimpinannya oleh Gubernur Bali Wayan Koster pada pukul 14.37 WITA.

Sekitar pukul 16.30 WITA, rapat khusus tersebut selesai. Selanjutnya, Koster memberikan penjelasan kepada awak media.

“Kami rapat menyangkut pariwisata Bali. Khususnya kasus jaringan Tiongkok, yang praktiknya tidak sehat. Mulai pertokoan, travel agen dan lainnya. Ada yang berizin atau yang tidak berizin, namun praktiknya tidak sehat dan merusak citra Pariwisata Bali,” tegas Koster, dikutip dari Bali Express, Jawa Pos.

Koster menyatakan bahwa praktik-praktik ini sudah merusak dan berdampak terhadap citra Bali di mata dunia, bahkan citra Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, Koster memastikan akan langsung menerbitkan instruksi, yang sudah dirancang oleh Sekda Bali Dewa Indra. Keputusan yang diambil dalam rapat khusus tersebut tegas, menutup usaha itu baik yang berizin dan tidak berizin, karena aktivitasnya tidak sehat dan merusak citra Bali bahkan Indonesia.

“Sekarang saya terbitkan instruksi. Perintah saya tegas, agar mulai besok usaha-usaha itu ditutup. Baik yang berizin dan tidak berizin, ditutup mulai besok. Karena aktivitas mereka tidak sehat dan merusak citra Bali bahkan Indonesia. Perintah saya sudah tegas dalam rapat, itu bisa menjadi landasan. Instruksi tertulis saya itu sebagai performa saja, terbit hari ini, tetapi besok sudah harus ditutup semua,” ujar Ketua DPD PDIP Bali ini.

Koster mengungkapkan dengan lugas bahwa dalam rapat khusus itu, data yang muncul baru dari Badung dengan jumlah 16 toko. Koster mengatakan bahwa dari semua toko jaringan Tiongkok itu, 4 toko dipastikan tidak berizin. Namun disimpulkan bahwa 16 toko tersebut praktiknya memang tidak sehat, sehingga dapat dipastikan, pada hari Jumat (9/11) Satpol PP Bali bersama Satpol PP Badung akan menutup 16 toko tersebut.

Saat awak media sempat menanyakan soal toko-toko yang ada di Denpasar, malahan sudah disidak oleh DPRD Bali, Satpol PP Bali dan Satpol PP Kota Denpasar yang sudah ada yang sidang tipiring, apakah di Denpasar apakah tidak ditutup semua? Koster malah mengatakan bahwa yang terdata jelas baru di Badung. Koster lantas menyatakan bahwa jika memang di Denpasar dipastikan ada, langsung harus ditutup juga.

“Kalau di Denpasar, dan di luar Denpasar dan Badung ada yang serupa. Tutup, langsung tutup besok,” kata Koster.

Kemudian Sekda Dewa Indra menambahkan bahwa instruksi yang dibuat adalah menutup semua jaringan toko Tiongkok kepada seluruh Bupati/Walikota di Provinsi Bali.

“Jadi instruksinya itu Bupati/Walikota se Bali. Kalau ada di luar Denpasar dan Badung, wajib juga mengikuti instruksi untuk menutup,” kata Dewa Indra.

Koster lagi mengatakan bahwa langkah tegas ini tidak akan merugikan Bali ataupun membuat wisatawan Tiongkok tak datang kembali ke Bali. Koster meyakini bahwa potensi wisatawan Tiongkok sangat besar.

“Yang cinta Bali masih sangat banyak, yang ingin ke Bali, bukan dengan pola dipaksa masuk toko juga masih sangat banyak langkah tegas ini tidak akan mempengaruhi citra pariwisata Bali, malahan citranya bagus ada ketegasan dalam menuntaskan masalah. Kedepannya akan dilakukan penataan secara tertib. Membangun usaha yang tertib, menghormati budaya Bali, mencintai Bali dan menjaga nama baik Bali,” kata Koster.

Kepala Satpol PP Badung IGAK Suryanegara bersama Kabid Trantib Satpol PP Bali Dewa Darmadi juga memastikan bahwa pihaknya mulai Jumat hari ini akan langsung melakukan penutupan, bukan hanya sidak lagi.

Sedangkan IGAK Suryanegara mengatakan bahwa mulai Jumat nanti akan melakukan penutupan jaringan Tiongkok, yang didapatkan baru 16 toko di Badung. Namun pihaknya juga menunggu instruksi Gubernur Bali yang akan diturunkan ke Bupati Badung.

“Hari ini terbit instruksi Gubernur, nanti akan diturunkan ke Bapak Bupati Badung, selanjutnya dari Bupati akan memerintahkan kami. Besok (hari ini) kami mulai menutup toko,” tegas IGAK Suryanegara.

Diketahui bahwa kasus ini berawal dari penjelasan Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye Deliana yang menjelaskan, saat ini memang wisatawan Tiongkok kunjungan tertinggi di Bali. Namun ada praktik-praktik yang terkait penjualan tiket Bali dijual murah di Tiongkok sudah menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi Bali.

Tiket ke Bali awalnya dijual Rp 2 juta, setelah angka 999 RMB atau Sekitar Rp 2 juta, kemudian turun menjadi 777 RMB sekitar Rp 1,5 juta, kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta dan terakhir sudah sampai 299 RMB sekitar Rp 600 ribu. Bahkan yang terakhir sampai Rp 200 ribu, namun penerbangan sekitar 200 wisatawan itu dibatalkan oleh Pemerintah Shenzhen, karena dianggap harganya tidak sehat.

Hal itu bisa terjadi karena ada permainan besar dari penjual. Ada pengusaha dari Tiongkok juga yang membangun usaha Art shop di Bali. Dengan jumlah yang sudah cukup banyak di Bali. Toko – toko ini yang mensubsidi wisatawan dengan biaya murah itu ke Bali. Namun mereka nantinya wajib untuk masuk ke toko-toko itu. Namun mereka sudah seperti beli kepala, wisatawan itu wajib masuk toko itu. Seperti dipaksa belanja di sana. Mereka masuk, kemudian membeli barang-barang berbahan Latex, seperti kasur, sofa, bantal dan lainnya.