Guntur Romli

Guntur Romli Tuding Sandi Arogan Soal Terapkan Ilmu Ala Nabi Yusuf Atasi Krisis di Indonesia

Ngelmu.co, JAKARTA – Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno akan menerapkan ilmu Nabi Yusuf untuk mengatasi krisis bila terpilih sebagai wakil presiden di Pilpres 2019.

Menurut Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli menilai ada arogansi di ucapan Sandiaga itu.”Ini arogansi Sandi, merasa lebih hebat dari seorang nabi. Dalam mengatasi krisis, Nabi Yusuf memerlukan waktu 7 tahun, tapi Sandi mengaku bersama Prabowo bisa mengatasi 3 tahun, arogan,” kata Guntur Romli dalam keterangannya, Kamis (6/12/2018) dikutip detik.com.

Guntur Romli juga mempertanyakan jenis krisis yang dimaksud Sandiaga. Guntur Romli menyebut isu krisis itu propaganda kebohongan.”Soal krisis, itu propaganda kebohongan Sandi, tidak ada krisis di negeri ini, khususnya krisis ekonomi dan kewirausahaan, ekonomi kita tumbuh dengan baik, inflasi rendah, harga-harga sembako terjaga, Pak Jokowi peduli pada UMKM dengan pelbagai bantuan modal dan fasilitas lainnya,” tuturnya.

Menurut Guntur Romli, krisis justru di kejujuran Sandiaga Uno. Dia menyinggung soal kekayaan Sandiaga.”Yang krisis itu justru ada di pihak Sandiaga Uno, krisis kejujuran, coba baca laporan perkembangan kekayaan dia, harta dia melonjak Rp 1.2 triliun dalam 2 tahun, kalau negeri ini krisis, tidak masuk akal harta dia semakin melangit, jadi Sandi krisis kejujuran untuk mengakui keberhasilan pemerintahan Jokowi” ujarnya.

Sebelumnya, Sandiaga mengatakan akan menerapkan ilmu Nabi Yusuf bila terpilih. Pernyataan itu disampaikannya saat kampanye di Surabaya.”Kalau Nabi Yusuf butuh waktu 7 tahun untuk mengatasi krisis. Insya Allah, saya dengan Pak Prabowo cukup tiga tahun untuk memulihkan perekonomian Indonesia,” kata Sandi saat menghadiri Dialog Ekonomi dan Entrepreuner di Surabaya, Selasa (4/12/2018) malam.

Sandiaga memaparkan dalam menjalankan hal ini, ia mengaku memiliki beberapa cara. Misalnya saja, dalam tiga tahun ke depan, ia akan menghentikan impor yang tak perlu dan melakukan pembangunan infrastruktur.