Gus Sholah: Aktivis, Arsitek, Politisi, Hingga Ulama

  • Bagikan
Gus Sholah

Ngelmu.co – Mengembuskan napas terakhir di usia 77 tahun, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), sempat dirawat selama dua pekan, di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Gus Sholah Tutup Usia

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang juga merupakan adik kandung dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, meninggal dunia, Ahad (2/2) malam, pukul 20.55 WIB.

“Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20:55 WIB. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…,” tulis sang anak Irfan Asy’ari Sudirman, melalui akun Twitter-nya, @ipangwahid.

Sebelumnya, pada Jumat (31/1) lalu, almarhum menjalani operasi karena adanya masalah pada selaput jantung.

Jenazah almarhum, rencananya akan dimakamkan di tempat pilihannya, yakni pemakaman keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, di samping makam Gus Dur.

Aktivis, Arsitek, Politisi, Hingga Ulama

Anak dari KH Wahid Hasyim ini, lahir di Jombang, 11 September 1942 lalu. Selain dikenal sebagai tokoh agama, Gus Sholah juga berkecimpung di dunia aktivis, arsitek, hingga sebagai politisi.

Ia menempuh pendidikan tingkat SD-SMA di Jakarta. Sementara ilmu agama, ia dapat dari mengaji bersama saudara-saudaranya.

Setiap hari, sang ayah selalu memberi pengajian kepada anak-anaknya.

Namun, setelah sang ayah wafat, Gus Sholah mendapat pelajaran ilmu agama dari KH Bisri Syansuri.

Di mana setiap liburan sekolah, ia sering belajar ke Pesantren Denanyar Jombang, Jawa Timur, selain untuk baca tulis Al-Qur’an, ia juga belajar ilmu fiqh, nahwu, sorof, dan tarikh.

Baca Juga: Innalillahi, Gus Sholah Meninggal Dunia

Ia yang di tahun 1968, masih berstatus mahasiswa, menikahi Farida, putri mantan Menteri Agama, KH. Syaifudin Zuhri.

Dilansir Wikipedia, dari pernikahannya itu, mereka dikarunia tiga orang anak, yakni Ipang Wahid, Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Pasca lulus dari Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB), ia bergabung sebagai anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), di tahun 1973.

Sebagai mahasiswa, ia aktif dalam berbagai organisasi:

  • Anggota pengurus Senat Mahasiswa Arsitektur ITB,
  • Bendahara Dewan Mahasiswa ITB,
  • Komisariat Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ITB, hingga
  • Wakil Ketua PMII Cabang Bandung.

Cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, juga pernah menduduki kursi anggota MPR pada 1998-1999.

Setelahnya, ia menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), hingga 2004, sembari menduduki kursi Wakil Ketua Komnas HAM di tahun 2002-2007.

Kemudian pada 13 April 2006, Gus Sholah resmi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Pernyataan Penuh Makna

“Jarak antara kamar tidur saya dengan tempat tidur saya yang akan datang di makam pesantren Tebuireng itu hanya berjarak 40 meter. Maka saya tidak akan pernah melakukan politik uang,” tutur Gus Sholah kala itu.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Gus Sholah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Semoga husnul khotimah.

  • Bagikan