Habib Bahar Ditetapkan Jadi Tersangka, Polri Jangan Tebang Pilih

Ngelmu.co, JAKARTA – Ulama muda Habib Bahar bin Smith ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian RI. Atas penetapan itu, Ketum GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak meminta polisi profesional melakukan proses hukum termasuk terkait kasus Habib Bahar bin Smith. GNPF tak ingin polisi tebang pilih menangani kasus.

“Bahwa sehubungan dengan pemeriksaan dan penjatuhan status tersangka atas Habib Bahar bin Smith, polisi bertindak sigap dan cepat, manakala yang dianggap sebagai pelakunya adalah umat, para tokohnya. Sebaliknya, jika pelakunya adalah nonmuslim atau mereka yang mendukung penguasa, polisi terkesan lambat bahkan mengabaikan proses yang seharusnya ditempuh,” ujar Yusuf Martak dalam jumpa pers di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (7/12/2018).

GNPF Ulama menurut Yusuf Martak khawatir penegak hukum menjadi alat kekuasaan. Yusuf menyebut sejumlah penanganan cepat kasus yang menyangkut Habib Rizieq Syihab, Buni Yani juga Alfian Tanjung.

“Sebaliknya perlakuan berbeda dan cenderung mengabaikan dilakukan kepada mereka yang mendukung rezim kendati sudah dilaporkan, terkait tindakan tidak adil dan tidak berimbang tersebut, kami menyerukan agar hukum dikembalikan fungsinya sebagaimana mestinya. Kepolisian RI harus bertindak profesional dan proporsional sesuai UU dan ketentuan yang berlaku,” sambung dia.

Terpisah, Habib Bahar bin Smith mengaku tidak masalah dirinya ditetapkan sebagai tersangka kasus diskriminasi ras dan etnis. Habib Bahar mengatakan akan bertanggung jawab menghadapi kasus yang menjeratnya.”Apapun saya tetap tanggung jawab, saya nggak ada masalah mau dijadikan tersangka. Ya mau gimana lagi,” kata dia, dikutip dari detik.com pada Sabtu (8/12/2018).

Habib Bahar pun kooperatif saat menjalani pemeriksaan oleh penyidik. Menurutnya para penyidik profesional saat memeriksanya.”Kita kooperatif, datang ke sana diperiksa dengan baik, penyidik-penyidiknya juga profesional, setelah ditetapkan tersangka kita terima,” ujarnya.

“Mereka (penyidik) kan hanya menjalankan tugas, bisa jadi mungkin karena tekanan dari atas sebab mereka kan hanya dipimpin saja, ada pimpinan, ada pimpinan yang lebih tinggi, ya mungkin ditekan atau diapa sehingga bisa cepat jadi tersangka. Bisa jadi seperti itu,” lanjutnya.

Habib Bahar juga langsung menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) usai diperiksa penyidik. Untuk pasal yang menjeratnya, Habib Bahar menyerahkannya kepada pengacara.”Saya nggak paham pasal-pasal gitu, soalnya kemarin juga belum tidur kurang istirahat, jadi saya nggak paham pasal-pasal, pokoknya saya tanda tangan. Pengacara yang lebih tahu,” tuturnya.

Polri sebelumnya menegaskan penanganan kasus Habib Bahar sesuai dengan aturan. Sesuai dengan amanat UU, Polri menyebut penyidik berkewajiban menindaklanjuti jika ada pelaporan atau pengaduan. Soal terbukti atau tidak, ada mekanisme penanganannya.

“Kewajiban penyidik untuk menindaklanjuti proses penyidikan secara umum, apakah nanti terbukti atau tidak, ya, harus kita tindak lanjuti. Ada mekanismenya,” ujar Kabag Penerangan Umum (Penum) Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono di Mabes Polri, Jumat (7/12).

Polri menetapkan Habib Bahar sebagai tersangka berdasarkan gelar perkara yang dilakukan penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri. Habib Bahar disangkakan dengan Pasal 4 huruf b angka 2 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.