Hakikat Saudara Kandung

Diposting pada 1.250 views

Ngelmu.co – Mengidap kanker darah, istri dari Presiden RI ke-6, Ani Yudhoyono masih menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Singapura. Syukurnya, kini ia sudah mendapat donor sumsum tulang belakang dari adik kandungnya, Pramono Edhie Wibowo, yang tak lain merupakan Mantan Kepala Staf Angkatan Darat.

Ani Yudhoyono dan Pramono Edhie Wibowo saat Muda

Dari kisah ini, ada pelajaran yang bisa kita petik bersama. Ternyata, dari keenam saudara kandung, hanya Pramono yang memenuhi delapan parameter donor sumsum. Sementara saudara kandung yang lainnya, hanya empat parameter. Sedangkan anak kandung, hanya memiliki 30% memenuhi kecocokan.

Itulah mengapa, kita harus hidup rukun dengan saudara kandung, karena kita adalah sedarah, senyawa. Jika suami atau istri adalah belahan jiwa, jangan lupa jika kakak-adik kita tidak akan bisa dibelah. Kita adalah satu, dan berasal dari benih serta rahim yang sama.

Ingatlah, saat ada yang mengganggumu, kemudian kau panggil kakakmu, dengan badannya yang lebih besar, ia mampu membelamu. Karena kau adalah adiknya.

Atau ketika kau membela adikmu yang memang bersalah, demi sebuah kalimat “Karena dia adikku,”

Ketika makanan yang dihidangkan Ibumu dibagi bersama saudaramu, artinya satu makan tempe, maka semua tempe. Tidak ada yang merasa jika orangtuanya pilih kasih. Satu makan telur, maka telur yang kalaupun hanya ada satu butir itu, akan dibagi rata.

Atau ketika Bapakmu pergi ke undangan dan membawa satu tempat makanan, pasti kamu dan saudara akan berebut makanan kesukaan, ‘kan? Tapi ujung-ujungnya? Kita akan rukun makan bersama dalam satu wadah.

Dilahirkan dari Ibu dan Bapak yang sama, maka darah saudaramu pun sama denganmu. Sudah sepatutnya kita saling mengingatkan, saling membantu, serta saling bergandengan tangan.

Karena sesungguhnya, jauh di lubuk hati saudaramu, ia juga senantiasa mendoakanmu. Saat kita terpuruk, siapa yang akan membela kita bahkan sampai mengorbankan diri serta keluarganya, kecuali saudara kandung kita.

Ketika kamu menjadi hebat, saudaramu tidak akan meminta harta atau pangkatmu, karena ia sudah merasa bangga padamu, dan akan berkata pada semua orang, “Lihatlah, saudaraku sudah jadi orang hebat,”

Ujian hadir ketika saudaramu terpuruk, akankah kamu meninggalkan atau melambaikan tanganmu? Atau kamu sanggup merengkuhnya?

Coba tanya hatimu sendiri, ya. Karena saudara bukan hanya perkara harta, bukan pula masalah yang bermartabat atau tidak, bukan juga masalah siapa yang dekat pada Sang Pencipta atau tidak, tapi ini lebih dari itu, ini masalah hati.

Ingatlah, belum tentu saudaramu yang terpuruk akan selamanya terpuruk. Tak pasti juga dia yang sekarang merupakan seorang brutal, esok akan tetap sama. Dan belum tentu yang sekarang kaya, akan selamanya kaya. Namun, doakan yang sekarang alim bisa selamanya terjaga dalam jalan Tuhan. Karena hanya Tuhan yang tahu, bagaimana kelanjutan hidup seseorang.

Sekadar pesan pengingat, untukmu, untukku, dan untuk semua, jagalah saudaramu selagi mereka masih ada, dalam keadaan apa pun. Karena kelak, dia juga akan menjagamu, walaupun hanya lewat doa, tetapi sebenarnya doa adalah hadiah terbaik untuk orang terkasih kita.

Mari kirim doa bersama, untuk kakak, Mas, Mbak, Abang, Adik, dan apa pun panggilan kalian kepada saudara masing-masing. Semoga yang masih ada senantiasa berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sementara untuk mereka yang sudah tiada, semoga diberi tempat terbaik di sisi Allah, dan kelak bisa berkumpul bersama di surga-Nya yang paling indah. Aamiin.

Oleh: Muhammad Apud Kusaeri