hoax

Hoax yang Membunuh

Diposting pada 82 views

Ngelmu.co – Hoax atau berita bohong menjadi perbincangan luas di media massa dan media sosial belakangan ini. Hal tersebut dikarenakan hoax dianggap meresahkan publik karena berita tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya ataupun jelas-jelas berita bohong.

Dalam sebuah artikel berita, Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso menduga, masih banyak jaringan penyebar berita bohong dan ujaran kebencian bertebaran di jagat maya. Padahal, banyaknya informasi hoax memicu keributan bahkan merembet menjadi kerusuhan fisik. Hal ini bukan saja menghabiskan energi, namun juga berpotensi mengganggu keamanan nasional.

Nah, terkait dengan hoax, berikut adalah tulisan tentang hoax yang membunuh sifatnya. Dengan kebohongan berita, bisa menyebabkan tragedi.

Baca juga: Kenali Ciri-ciri Berita Hoax, Jangan Mudah Percaya

Hoax Yang Membunuh

AA Fuady .

Sore itu, sebuah rumah besar di Madinah riuh. Puluhan lelaki berkumpul mengelilinginya dengan penuh amarah. Sudah lebih dari empat puluh hari mereka di sana –sedangkan Asy Sa’bi mengira dua puluh hari –, mengepung rumah khalifah Utsman bin Affan yang mereka tuntut untuk lengser dari posisi khalifah. Hari itu, mereka tak sekadar menuntut perpindahan kekuasaan. Kedengkian sudah mengubun-ubun, hingga pengepungan mengubah target lebih tinggi: membunuh khalifah Utsman.

Tak ada yang dikhawatirkan Utsman dari pengepungan berkepanjangan itu. Bahkan, ia telah meminta para sahabatnya untuk kembali pulang ke rumah masing-masing, “Aku bersumpah, agar mereka yang berkewajiban menaatiku untuk menahan diri dan kembali ke rumah masing-masing.” Perang dapat dicegah, tak ada pertumpahan darah sesama saudara seiman. Sebuah mimpi pun sudah mengabari kematian Utsman: Rasulullah mendatanginya dan berujar, “Kembalilah, karena besok engkau akan berbuka bersama kami.”

Kita tak perlu mengkhawatirkan Utsman dan menangisinya yang telah dijamin surga. Kita patut mengkhawatirkan diri kita yang barangkali tengah berada di barisan para pengepung dan pemberontak. Kita perlu mengkhawatirkan diri kita yang mungkin saja ikut mendobrak pintu dan jendela rumah Utsman, membakar rumahnya, dan menjarah harta dari Baitul Maal.

Hari ini kita kerap mengonsumsi apa yang para pemberontak itu lahap dengan durhaka. HOAX. Kabar palsu yang diyakini sepenuh hati, diafirmasi syahwat, dan disebarluaskan dengan polesan ‘kebenaran syariat’. Kabar bohong yang, bahkan, mendorong Abdullah bin Abu Bakar –putra khalifah Abu Bakar As Shiddiq – sempat menarik jenggot Utsman menjelang ia terbunuh. Mereka yang mengepung bukanlah orang-orang kafir yang meninggalkan shalat. Mereka masih duduk mendengar khutbah Jum’at, mereka masih menghafal ayat-ayat Qur’an, dan mereka masih menghormati Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam yang masing-masing dibujuk untuk menjadi pengganti khalifah.

Namun, hawa nafsu dunia membuat mereka ditelikung hembusan hoax. Mereka mempercayai provokasi Abdullah bin Saba –seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, yang berkata, “Utsman telah merampas hak yang bukan miliknya.” Mereka berduyun-duyun menyerbu Madinah dengan semangat yang mereka pikir adalah bagian dari amar ma’ruf dan nahyi munkar.

Tidakkah kita sering terpukau dengan ajakan semacam itu? Meneriakkan takbir sambil meliputinya dengan caci maki, perkataan kotor, rasa dengki, dan aroma busuk permusuhan. Kita memegang aura kebenaran di satu tangan, tetapi melumurinya dengan kotoran kenistaan dari tangan yang lain.

Sekali penjelasan disampaikan, para pemberontak itu tetap berpaling. Saat mereka kembali pulang dan dijamin keselamatannya oleh Utsman, mereka lebih memilih mempercayai surat palsu dengan stempel palsu pula yang diterima di tengah perjalanan pulang. Surat itu berisi perintah Utsman untuk membunuh mereka, menyalib mereka, dan memotong tangan dan kaki mereka. Mereka naik pitam; menganggap Utsman melanggar janji dan tengah bermaksiat. Surat palsu itu beredar dengan cepat, viral ke mana-mana, dibumbui caption dahsyat yang menggelorakan pemberontakan.

Tidakkah kita sering terpukau dengan berita semacam itu? Mempercayainya dengan sepenuh hati meski klarifikasi telah dibentangkan. Kita lebih memilih menyukai apa yang sesuai kehendak hati, memuaskan hasrat yang telah menancap di kepala, dan mengamini pendapat yang selaras dengan opini kelompok sendiri.

“Demi Allah, aku tidak menuliskannya (surat itu),” kata Utsman mengklarifikasi. “Aku tidak mendiktekannya, tidak tahu menahu tentang surat itu, bahkan stempel itu adalah stempel palsu.” Ada yang memilih mempercayai Utsman, ada pula yang memilih mengingkari keterangannya. Mereka kembali ke Madinah, melancarkan kudeta, dan memulai pengepungan panjang yang berakhir duka dalam histori Islam.

Kita tidak tengah mengkhawatirkan dan mengasihani Utsman yang telah dijamin surga. Kita semestinya mengkhawatirkan diri kita yang barangkali tengah bersikap dungu dan menenggelamkan diri dalam lautan kebohongan. Kita tak punya daya filtrasi dari serangan berita buruk yang sengaja disebar untuk memecah belah, tak punya kejernihan batin untuk memilah mana yang baik disampaikan untuk umat dan mana yang mesti dihentikan penyebarannya, juga tak punya ketajaman pandangan untuk memilih yang baik dari himpunan keburukan yang begitu banyak dipaparkan di dunia maya, medsos, ruang berbagi, dan forum obrolan.

Utsman bin Affan terbunuh sudah di sore itu –menjemput takdir yang telah dikabari dalam mimpinya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah, Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab pada hari Jumat yang mulia. Lelaki bernama al Mawtul Aswad –dalam riwayat Ibnu Katsir– telah mencekiknya hingga nafasnya tersengal. Saudan bin Hamran datang belakangan dengan hunusan pedang. Ia membabat jemari Nailah, istri Utsman, hingga jari-jarinya terputus, lantas menikam Utsman di kamarnya sendiri. Seseorang yang lain pun berteriak memprovokasi, “Pergilah ke Baitul Maal! Jangan sampai kalian tertinggal.” Dan, terjadilah penjarahan pertama terhadap kas umat dengan kelaliman yang nyata.

Kita tidak menangisi Utsman. Kita hanya perlu menangisi diri kita: andaikan berada dalam skenario masa itu, di barisan mana kita berdiri? Yang mempercayai kebenaran dari lisan khalifah yang terpercaya, atau yang terbakar hoax dari lisan para pemburu dunia.

Jika puasa adalah urusan tahan menahan diri, bukankah kita juga perlu menahan diri dari kesimpulan yang terburu-buru, keengganan mencari klarifikasi dan kebenaran, dan hasrat pembenaran terhadap syahwat yang mengokupasi kepala dan pandangan kita?

Rotterdam, 12 Ramadhan 1439