HRS di Munajat 212: Inikah Penegakan Hukum Suka-suka?

Diposting pada 218 views

Ngelmu.co  Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) ikut berpartisipasi dalam malam Munajat 212. Selain mengajak peserta bermunajat bersama. HRS, dalam doanya, menyebut penegakan hukum suka-suka pada masa pemerintahan saat ini.

HRS, melalui audio yang diputar di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019) membacakan doa dari kediamannya di Mekah, Arab Saudi.

HRS mengatakan jika banyak santri sekadar mengirim pesan mengkritik penguasa. Namun, mengakibatkan seorang perwira di depan media menghardik, kemudian santri diadili dan dipenjara tak ada belas kasih dari pemerintah.

Sementara itu, kata HRS, saat seorang anak cukong naga mengancam membunuh kepala negara, mendapatkan perlakuan berbeda. Dengan gagah sang perwira berkata ‘itu hanya lucu-lucuan saja’.

“Inikah penegakan hukum suka-suka? Nastaghfirullah,” kata HRS, dikutip dari Detik.

HRS menyebut jika para koruptor bisa bebas dari penjara dengan pemotongan masa hukuman. Namun, beda halnya dengan ulama. Seorang ulama sepuh yang direkayasa kasusnya tidak dibebaskan.

“Koruptor, cukong, pembuat rakyat menderita dan sengsara, bebas dengan potongan tahanan yang luar biasa. Sedang, seorang ustaz tua korban rekayasa, tak dilepas dari penjara. Inikah penegakan hukum suka-suka? Nastaghfirullah,” beber HRS.

HRS juga menyindir sikap politik para kepala daerah dalam Pilpres 2019. HRS mengatakan bahwa ia melihat ada perbedaan perlakuan yang diberikan penegak hukum.

“Saat gubernur mengacung jari dua ikut sanubari mendukung pemimpin hasil Ijtimak Ulama langsung dipanggil, disidang. Namun puluhan gubernur, wali kota acungkan dukung penguasa, mereka semua bungkam. Kezaliman sangat kasatmata. Inikah penegakan hukum suka-suka? Nastaghfirullah,” ujar HRS.