Ijtima’ Ulama, Islam Spring dan Akhir Sebuah Buih

Diposting pada 471 views

Oleh: Erwyn Kurniawan

Ngelmu.co – Ulama yang Mana? Begitu pertanyaan yang mengemuka saat Ijtima’ Ulama menyampaikan hasil rekomendasinya terkait capres dan cawapres. Pertanyaan yang mengingatkan saya pada dialog antara Presiden Soekarno dan seorang ulama.

Kisah ini dinukil dalam sebuah buku kecil yang pernah saya baca saat masih menjadi mahasiswa. Seingat saya judulnya: Wajah Islam Indonesia. Berisikan kumpulan tulisan tokoh-tokoh nasional dan Islam.

Alkisah, pernah ada seorang ulama menemui Presiden Soekarno untuk menanyakan mengapa hukum Islam tak diterapkan di Indonesia. Sebuah percakapan kemudian terjadi galibnya suatu pertemuan.

”Apakah Tuan mewakili umat Islam atau diri Tuan sendiri?”Tanya Bung Karno.

“Saya mewakili aspirasi umat Islam Indonesia,” jawab Sang Ulama.

“Tuan berkata besar tanpa bukti,” ujar Bung Karno. Mengubah undang-undang, lanjut presiden pertama Indoensia itu, bukan perkara kecil. Begitu pula menyebut diri mewakili umat Islam Indonesia. “Aku ingin bertanya kepada Tuan, berapa jumlah ulama di Indonesia?”

“Ribuan, bahkan puluhan ribu,” jawab Ulama tersebut.

“Baiklah,” ucap Bung Karno,” dalam tempo sepuluh hari kumpulkan sepuluh ulama Islam yang memiliki pendapat yang sama dengan Tuan. Bila berhasil, Insya Allah, aku akan menjadi yang kesebelas.”

Ulama tersebut kemudian mencari sepuluh ulama yang seide dengannya. Usahanya tak berhasil karena ia tak menemukan ulama yang dimaksud. Mereka sukar dipersatukan.

Kisah ini memang hanya kabar burung, namun sesungguhnya merupakan cermin wajah umat Islam, khususnya para pemimpinnya, yang sulit bersatu. Termasuk para ulamanya.

Sejarah umat Islam adalah berhimpun untuk kemudian terpecah. Ingat bagaimana Syarikat Islam yang awalnya diniatkan mempersatukan umat, namun akhirnya tercerai berai karena disusupi komunisme? Begitu pula dengan berdirinya Masyumi sebagai wadah tunggal politik Islam pada 1945. Di dalamnya, terdapat Muhammadiyah, NU, PSII, Al Irsyad, Perserikatan Umat Islam dan lainnya. Hanya dalam waktu satu tahun, Masyumi berhasil mengungguli PNI, dan menjadi parpol terbesar di Tanah Air. _(George Mc Turnan Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia)._

Sayang, perlahan tapi pasti, perpecahan mulai terjadi. Tahun 1947 PSII keluar dari Masyumi. Puncaknya ketika NU juga melakukan hal yang sama pada 1952. Masyumi pun goyah, hingga akhirnya tak lagi mampu menjadi pemersatu umat. Tak heran jika almarhum Anwar Harjono mengistilahkan keluarnya NU dari Masyumi sebagai “tragedi besar”.

Perpecahan umat dan pemimpinnya bukanlah hal yang aneh. Sejak awal, benih-benih perpecahan memang sudah terjadi, khususnya antara NU dan Muhammadiyah. Jika kita membuka buku-buku sejarah, terbaca jelas bahwa didirikannya NU pada 1926 adalah sebagai respon atas perkembangan gerakan modernis Islam yang dimotori oleh Muhammadiyah.

*Islam Spring*

Kondisi umat Islam saat ini sudah berubah drastis. Ada elemen gerakan 212 yang mampu menyatukan umat dan menjadi wajah baru politik Islam di Tanah Air. Yang menjadi variabel penting dalam menentukan hitam putihnya langit politik di Indonesia. Inilah yang saya istilahkan dengan “Islam Spring” atau “Kebangkitan Islam”.

Islam Spring bermula dari Aksi Bela Islam pada 2016 yang menuntut agar Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk dipenjara karena menista agama Islam. Dimotori oleh Habib Rizieq Shihab, Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin dan lainnya, aksi ini berlangsung berjilid-jilid karena tidak responsifnya aparat penegak hukum.

Yang melegenda adalah saat aksi berlangsung pada Jumat, 2 Desember 2016 yang kemudian dikenal dengan Aksi 212. Sekitar 7 juta umat hadir memadati Lapangan Monas. Datang dari berbagai penjuru Tanah Air dan dengan ongkos sendiri. Dan mereka tak berlarian saat hujan mengguyur Monas, tepat ketika sedang mendirikan sholat Jumat.

Almarhum KH Hasyim Muzadi sampai menduga apa yang terjadi di Monas mirip peristiwa Badar.

“Patut diduga, peristiwa di Surah Al-Anfal ayat 9, 1.400 tahun yang lalu yang terjadi di Lembah Badar, kemarin terjadi lagi di Monas,” katanya.

Aksi 212 kian menjadi tonggak penting dalam sejarah politik Islam karena bisa manyatukan umat dan “keberhasilannya” menumbangkan Ahok pada pilkada DKI Jakarta, sekaligus memenjarakannya setelah divonis bersalah oleh pengadilan. Aksi 212 dianggap jadi variabel penting. Tokoh-tokohnya pun mulai dijadikan target. Bahkan Habib Rizieq hingga kini masih berada di Mekah.

*Akhir Sebuah Buih*

Paska 212, peta politik Islam berubah total. Umat tak cuma menaruh asa pada partai Islam tapi juga gerakan 212 yang kemudian mendirikan Alumni 212. Berbagai pilkada lalu menjadikan Alumni 212 dan tokoh-tokohnya sebagai faktor baru untuk mendulang dukungan suara umat. Habib Rizieq pun kerap disambangi oleh petinggi partai dan mereka yang akan maju dalam pilpres juga pilkada.

Islam Spring benar-benar telah hadir. Dan Ijtima’ Ulama bisa kita letakkan pada titik ini. Bahwa itu adalah bukti jika ulama dan umat sudah menjadi kekuatan baru dalam peta politik di Indonesia. Bukan sekadar vote getter atau pendorong mobil mogok. Tapi sudah ikut andil sejak awal dalam menentukan siapa yang akan maju mewakili umat.

Karena itu, jika masih ada yang bertanya,”Ulama yang mana?, menjadi tak relevan. Mengingat mereka yang ada di Alumni 212 dan ikut serta dalam forum Ijtima’ Ulama adalah sosok yang kini mendapat kepecayaan penuh umat.

Mereka adalah para ulama yang berteriak lantang menyuarakan keadilan atas kasus Ahok di saat masih banyak yang membisu.

Mereka adalah ulama yang pasang badan ketika aksi di depan Istana Negara pada Aksi 411. Berhadapan langsung dengan barikade kawat berduri, perihnya gas airmata dan moncong senjata yang setiap saat bisa memuntahkan peluru-peluru karet yang menyakitkan.

Mereka ini adalah representasi umat yang sesungguhnya karena ada perwakilan dari NU, Muhammadiyah, Persis, HTI dan sebagainya.

Kondisi umat saat ini persis seperti yang digambarkan oleh Eef Saefullah Fatah, yakni umat yang berhimpun, bukan lagi berkerumun. Umat yang sudah ideologis, bukan lagi statistik. Umat yang tak lagi jadi buih yang terombang-ambing.

Tak heran jika Ustadz Abdul Somad merespons cepat hasil Ijtima’ Ulama di akun media sosialnya dengan kalimat pembuka, Selamat! Ternyata kerumunan sudah berubah menjadi barisan kekuatan.

Lalu, jika masih saja ada pihak-pihak yang terus mengajukan pertanyaan: “Ulama yang Mana?”, kita bisa menilai siapa sesunguhnya mereka.

Wallahua’lam bishshowab