Indonesia dan Afrika Masih Kebal dari Corona Meski Tergolong Memiliki Risiko Tinggi

  • Bagikan
Indonesia dan Afrika Masih Kebal dari Corona Meski Tergolong Memiliki Risiko Tinggi

Ngelmu.co – Virus corona kembali merenggut nyawa pengidapnya. Melalui data terakhir per 21 Februari 2020 malam waktu Indonesia, tercatat sedikitnya 76.726 positif corona. Sedangkan 2.247 meninggal dunia.

 Indonesia dan Afrika Masih Kebal dari Corona Meski Tergolong Memiliki Risiko Tinggi

Kawasan Terbanyak Terpapar Corona

Pengidap corona terbanyak bukan hanya berada di kawasan China saja. Namun Kapal Pesiar Diamon Princess dan Korea Selatan menjadi kawasan terbanyak terpapar corona.

Sekitar 634 orang yang berada di kapal pesiar positif corona, smentara Korsel sudah menembus 156 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa virus corona (Covid-19), bukan virus biasa. Melainkan dapat menyebar secara global dengan cepat. Hingga saat ini, sudah 29 negara terjangkit virus corona.

“Jumlah kasus di seluruh dunia sangat kecil dibandingkan dengan yang kita miliki di China, tetapi itu mungkin tidak akan bertahan lama,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa pada Kamis (20/2/2020), dikutip dari CNBC Internasional.

“Jendela peluang yang kita miliki sekarang dapat ditutup, jadi kita perlu menggunakan jendela peluang yang kita miliki sekarang dengan memalu wabah di negara mana pun,” kata Tedros.

Pernyataan tersebut mencuat setelah para pejabat kesehatan mengkonfirmasi bahwa virus mematikan itu, kini telah menyebar ke Iran dan angkanya meroket di Korea Selatan dalam waktu semalam.

Iran melaporkan, bahwa terdapat dua kasus pertama yang dikonfirmasi pada hari Rabu (19/2/2020), tak berselang lama, pasien tersebut meninggal dunia.

Hingga kini, diketahui Iran telah memiliki lima kasus yang dikonfirmasi, termasuk dua kasus yang meninggal dunia. Akibat penyebarannya yang begitu cepat, dan belum ada obat yang bisa menjadi penangkalnya, di Korea Selatan meningkat hanya dalam waktu beberapa hari.

Awalnya, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea hanya melaporkan 53 kasus, kemudian muncul kembali 20 kasus baru. Korea Selatan juga melaporkan kematian pertama pasien penyakit COVID-19 pada hari Kamis kemarin.

“Meskipun jumlahnya tampaknya cukup tinggi, mereka sebagian besar terkait dengan wabah yang diketahui dan sudah ada. Sehingga belum berubah dan itu tidak menandakan perubahan tertentu dalam epidemiologi global,” ujar Dr. Oliver Morgan, direktur informasi darurat kesehatan dan penilaian risiko WHO menyoal kasus baru di Korea Selatan.

Kasus Corona di Korea Selatan

Pasien yang berada di Korea Selatan, sebagian besar berasal dari kota Daegu dan sekitarnya. Wali Kota Daegu, Kwon Young-jin, mengimbau warganya untuk tetap berada di dalam rumah, guna meminimalisir penularan corona.

“Saya pikir jumlah kasus benar-benar dapat dikelola dan saya berharap Korea Selatan akan melakukan segalanya untuk mengatasi wabah ini pada tahap awal ini,” tambah Tedros tentang situasi di Korea Selatan saat ini.

China menjadi wilayah dengan jumlah kasus infeksi dan kematian paling banyak. Sementara 1.000 kasus lainnya dilaporkan di 28 negara yang termasuk di dalamnya kasus infeksi yang terjadi di kapal pesir Diamond Princess yang sempat dikarantina di Yokohama.

Di tengah kasus corona yang banyak mewabah di beberapa negara ini, ada dua pertanyaan besar yang hingga kini belum terpecahkan. Yakni, di kala negara di kawasan Asia Tenggara sudah melaporkan temuannya terkait infeksi virus corona, namun sampai saat ini, Indonesia belum sama sekali melaporkan satu kasus pun.

Jika dilihat, sebenarnya Indonesia adalah salah satu negara yang berisiko tinggi terjangkit corona melalui aktivitas penerbangan. Apalagi, China menjadi salah satu negara penyumbang turis asing ke Indonesia.

Menurut data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Desember 2019 lalu, jumlah kunjungan dari China mencapai lebih dari 150.000 atau 11,2% dari total kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan tersebut.

Dengan begitu, Indonesia memiliki peluang cukup terbuka untuk dihinggapi virus tersebut. Terlebih, Indonesia juga melayani penerbangan langsung dari dan ke Wuhan, China.

Kasus Corona di Indonesia dan Afrika

Berdasarkan studi pemodelan matematika yang dilakukan oleh Profesor Dirk Brockman di Hymboldt Universitas zu Berlin, ia mengevaluasi 50 negara dengan risiko tertinggi virus corona melalui jalur penerbangan. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki risiko tinggi.

Namun pada kenyataannya, Indonesia masih terbebas dari corona. Akan tetapi ada empat WNI yang positif corona, namun tidak di Indonesia. Dari keempat orang tersebut, tiga diantaranya merupakan awak kapal pesiar Diamond Princess dan satu lagi berada di Singapura. Salah satu WNI yang berada di Singapura itu, sudah dinyatakan sembuh.

Menurut seorang epidemiologis dari University of Southampon Shengjie Lai, hingga kini Indonesia setidaknya sudah memiliki 29 kasus. Bahkan, negara tetangga, seperti Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Australia sudah melaporkan jumlah kasus yang lebih rendah dari prediksi sebelumnya.

Seorang epidemilogis lainnya, bernama Andrew Tatem juga mengatakan, bahwa ada kemungkinan tidak ada kasus di Indonesia, karena sudah sembuh lebih dulu sebelum sempat dideteksi.

Bahkan, seorang praktisi kesehatan Indonesia pun, sepeerti Profesor Gusti Ngurah Mahardika selaku kepala Laboratorium Biomedis Hewan dan Biologi Molekuler Universitas Udayana mengatakan memang ada kemungkinan virus sudah masuk ke Indonesia, tetapi tak terdeteksi dan tak dilaporkan.

“Orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala tidak pergi ke dokter untuk periksa kesehatan. Mereka yang terkena flu tetapi takut dikarantina dan mendapat penanganan khusus mungkin juga tidak pergi ke dokter” kata Gusti mengutip The Straits Times.

Dengan tidak adanya kasus yang dilaporkan di Indonesia ini, membuat seorang peneliti dari Universitas Harvard heran. Sayangnya, kecurigaan tersebut dibantah oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Ia menegaskan, bahwa Indonesia memiliki kit deteksinya yang tersertifikasi dan tak ada yang disembunyikan.

Pernyataan Menteri Kesehatan itu juga dibenarkan oleh Amin Soebandrio, kepala lembaga molekuler eijkman. Ia percaya, bahwa Indonesia mampu mendeteksi virus corona jika memang ada.

Ada hal yang menjadi kekhawatiran, jika kasus ini tidak terdeteksi dan di kemudian hari jumlahnya semakin banyak, dan menjadi wabah terutama di negara-negara dengan sistem kesehatan yang belum baik. Seperti keterbatasan tenaga medis, kasur rumah sakit, ventilator, hingga peralatan medis lainnya.

Ternyata Indonesia tak menjadi satu-satunya negara yang tak terinfeksi corona. Ada negara lain yang seolah kebal dengan serangan virus yang telah memakan banyak korban meninggal dunia ini. Seperti negara di Afrika yang hingga kini belum melaporkan adanya temuan virus corona. Padahal sistem kesehatan yang ada membuat kawasan tersebut rentan terserang wabah mematikan.

Sedangkan, satu-satunya negara yang berada di benua Afrika, yakni Mesir sudah melaporkan. Namun jumlahnya pun hanya satu kasus. Memang jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia lainnya, Afrika tak memiliki penerbangan ke China terutama ke Wuhan yang intens.

Banyak rakyat China yang bekerja di Afrika. Ini bisa menjadi potensi penyebaran corona. Model matematis lain yang dikembangkan menunjukkan ada tiga negara dengan risiko tertinggi terserang virus corona di Afrika yaitu Mesir, Aljazair dan Afrika Selatan.

Namun, negara-negara tersebut memiliki kemampuan untuk merespons secara efektif jika ada wabah, berdasarkan keterangan Vittorio Colizza seorang peneliti yang membuat pemoodelan matematis penyebaran virus corona dari Louis Institute of Epidemiology and Public Health.

Colizza dan sejawatnya justru malah khawatir pada 7 negara yang memiliki risiko sedang untuk mengimpor virus ini dari China lantaran sistem kesehatan yang tak memadai, status ekonomi dan stabilitas politik yang rendah membuatnya rentan terserang.

Dari ketujuh negara tersebut, diantaranya adalah Nigeria, Ethiopia, Sudan, Angola, Tanzania, Ghana dan Kenya. Enam dari tujuh negara (kecuali Sudan) termasuk negara yang berisiko mengimpor corona dari China. Sebab, mereka memilki jalur penerbangan langsung ke Wuhan.

Science.com melaporkan hingga minggu lalu banyak negara-negara di Afrika yang tak memiliki laboratorium memadai untuk mendeteksi virus ini. Sehingga perlu mengirim sampel ke luar untuk melakukan identifikasi.

Akan tetapi, situasinya kini sudah lebih baik dari. Sebelumnya hanya terdapat dua laboratorium yang mampu mendeteksi virus corona, yakni berada di Senegal dan di Afrika Selatan. Namun kini setidaknya sudah ada 8 laboratorium yang mampu mendeteksi virus corona menurut WHO.

Memang banyak spekulasi yang beredar untuk menjelaskan mengapa beberapa negara tampak tak terserang virus corona, mulai dari perbedaan kondisi lingkungan hingga imunitas yang tinggi.

Salah satu dasar spekulasi tersebut adalah studi yang dilakukan oleh K.H Chan yang dipublikasikan di Hindawi pada 2011. Studi itu menyebutkan bahwa virus SARS yang menjadi wabah pada 2002-2003 tak banyak menyerang negara tropis seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand karena salah satu faktornya adalah temperatur dan kelembaban.

Studi tersebut mengatakan virus dapat bertahan hingga 5 hari pada suhu ruang dan kelembaban relatif 45-50%. Virus akan lebih lama bertahan di suhu udara dingin dan kelembaban rendah. Virus yang menyebabkan SARS tak dapat bertahan lama di kondisi lingkungan yang suhunya tinggi hingga 38 derajat selsius dan kelembaban tinggi (>95%).

Baca Juga: Terkait Corona, Victoria-Australia Waspadai ‘Mereka’ yang Datang dari Indonesia

Sampai detik ini, belum juga diketahui secara pasti mengapa Indonesia dan beberapa negara di Afrika belum ditemukan kasus corona. Namun para peneliti terus mempelajari berbagai kemungkinan yang ada mulai dari faktor lingkungan, demografis, fisiologis hingga genetik.

Ahli kesehatan masyarakat mengatakan ada tiga kemungkinan skenario bagaimana akhir dari wabah virus corona ini.

Pertama, virus dapat dikendalikan dengan intervensi kesehatan masyarakat pada umumnya. Skenario kedua adalah vaksin dan obat yang melawan virus ini ditemukan. Ketiga yang paling mungkin adalah virus ini akan jinak dengan sendirinya dan menjadi penyakit musiman seperti flu biasa.

  • Bagikan