Indonesia Darurat Parenting: Dari Sontoloyo hingga Asu

 

Setiap kali mendengar kata-kata kasar yang terlontar dari mulut orang dewasa, saya selalu teringat peristiwa 2011 silam. Kala itu, saya mengikuti seminar parenting yang menghadirkan dua pembicara internasional.

Namanya Pamela Phelps, Ph.D dan Laura Stannard, Ph.D. Keduanya pakar pendidikan anak dari Florida, AS. Keduanya berbicara
soal Membangun Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak dalam Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini, di Jakarta.

Kata mereka, ada empat tahapan penyelesaian konflik yaitu: Pasif (Passive), Serangan Fisik (Physical Aggression),Serangan Bahasa (Verbal Aggression), dan Bahasa (Language).

Tahapan pertama Pasif (Passive). Pada tahap ini, anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungan. Tahapan ini dialami oleh para bayi yang belum bisa bicara dan berbuat banyak, terlebih menyelesaikan masalahnya.

Tahap kedua adalah Serangan fisik (Physical Aggression). Anak-anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun) seringkali menyelesaikan masalah dengan melakukan serangan fisik berupa: tantrum (marah), berteriak, menggigit, menendang, memukul, atau melempar benda. Ia belum mempunyai perbendaharaan kata- kata untuk mengatasi persoalannya. Saat menginginkan mainan, seorang anak akan langsung merampas atau ketika marah pada temannya ia akan langsung memukul.

Tahap ketiga yaitu Serangan Kata-kata (Verbal Aggression). Ketika anak menginjak TK sekitar 4-6 tahun maka serangan fisik akan berkurang namun mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Mereka akan bergerak ke tahap ‘serangan kata-kata’. Anak perempuan usia 4 tahun kadang berkata: “Bajumu jelek!” atau “Kamu tidak boleh datang ke pesta ulang tahunku!”

Tahap keempat yaitu Bahasa (Language). Tahap ini, seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa: kalimat yang positif, tidak kasar dan tidak menghakimi. Penggunaaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematangan dan pengendalian emosi yang baik. Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya.

Contoh: ketika seorang anak sedang membuat bangunan dengan balok, seorang teman menyenggol bangunannya. Anak itu berkata, “Aku tidak suka, kamu merobohkan rumahku.” Kemudian temannya itu menjawab, “Maaf aku tidak sengaja!” Masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan pekerjaannya.

Jika ada orang dewasa yang masih melakukan serangan fisik dan kata-kata, bisa dipastikan ketika anak-anak tidak tuntas melewati tahapan-tahapan di atas. Sehingga terbawa hingga dewasa saat menyelesaikan masalah atau konflik.

Kata-kata sontoloyo, asu hingga goblok menjadi indikasi kuat bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan kita. Ternyata banyak orang dewasa saat ini yang tak tuntas menyelesaikan tahapan perkembangannya. Dan bisa jadi itu adalah kita.

Karena itu, tak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa negeri ini darurat parenting. Sudah saatnya kita menyadari bahwa kesalahan dalam mendidik anak merupakan salah satu faktor penting yang membuat bangsa ini terus bermasalah.

Saatnya ‘merevolusi’ pendidikan kita. Sebab, jika kondisi ini terus dibiarkan, kata-kata makian akan terus diproduksi para pemimpin kita. Dan anak-anak kita, juga bangsa ini menjadi korbannya.

Erwyn Kurniawan
Direktur Sekolah Shibghah Akhlak Quran (Sakura), Cikunir, Bekasi