Intimidasi dan Framing Busuk Media kepada Prabowo

 

Aksi #2019GantiPresiden di Car Free Day (CFD) Jakarta, Ahad, (30/4/2018) dijadikan momentum menjatuhkan Prabowo Subianto dan pendukungnya. Ini terlihat dari berita-berita di media arus utama dan media sosial.

Sebuah artikel terkait hal ini pun beredar jagat maya. Dalam akun facebook  bernama Jazuli Ardini, ada tulisan yang mengulas secara khusus bagaimana media melakukan framing jahat kepada Prabowo dan pendukungnya.

Berikut isi lengkap artikel tersebut yang disajikan secara apa adanya oleh Redaksi Ngelmu agar orisinalitasnya terjaga.

DETIK mulai melakukan framing. Video yg ramai beredar tentang seorang ibu dan anaknya yg menangis di acara CFD hari ini, dijadikan senjata oleh Detik untuk menyerang Prabowo.

Detik menggiring seolah2 yg melakukan bully adalah pasti simpatisan atau relawan Prabowo. Padahal ibu & anak yg memakai kaos beridentitas pro-Jkw tsb masuk di kerumunan orang2 yg mengenakan kaos #2019GantiPresiden dan lalu ada yg merekam. Ada terlihat seorang lelaki pemakai kaos GGP yg mengatakan sesuatu kpd ibu dan anaknya. Mungkin itulah intimidasi yg dimaksud. Si ibu lalu berteriak2 keras, yg jika saya jadi anaknyapun pasti akan menangis jika mendengar sang ibu memaki2 seperti itu. Jika dilihat lebih teliti, ibu itu bisa dikira sengaja mengorbankan anaknya yg di bawah umur demi popularitas.

Di akhir video terlihat ada pemakai kaos GGP yg merangkul ibu tsb, menenangkan, dan mengajaknya menjauhi lokasi. Tapi perbuatan baik itu tidak dituliskan media, karena akan kontra produktif terhadap usaha framingisasi mereka.

Gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan universal. Bisa mendukung atau mengusung tokoh siapa saja utk menjadi the next president, yg penting bukan pak Jokowi. Kurang lebih artinya seperti itu. Gerakan Ganti Presiden adalah mendukung kotak kosong, yg nantinya bisa diisi oleh idola masing2.
Jadi pemakai kaos yg pengikut CFD tsb bisa saja simpatisan SBY, GN, YIM, ZH, AHER, PS, bahkan Rhoma Irama sekalipun. Bahkan saking gregetnya tagar ganti presiden, sampai bulepun ikut mengoleksi kaosnya.

GERAKAN GANTI PRESIDEN bukan gerakan sektoral, tapi lintas keagamaan, lintas etnis, lintas profesi, lintas golongan, dan lintas partai. GGP sudah menjadi SOCIAL MOVEMENT oleh rakyat yg sudah muak terhadap kezholiman dan berbagai kebohongan. Jadi adalah sangat MEMALUKAN jika ada media yg berusaha memplesetkannya. Ia menghiring opini massa bahwa seolah2 GGP identik dng Prabowo. Pertanyaannya, ‘DETIK MILIK SIAPA..?’

Kenapa nama Prabowo yg hendak dijatuhkan?
Karena Prabowo yg paling kuat citranya. Namanya melekat di benak rakyat. Terlalu erat, sehingga paling berbahaya di antara tokoh2 yg lainnya. Sebagai contoh, saking dicarinya ia oleh masyarakat yg rindu dan ingin menemuinya, maka banyak agenda Prabowo yg harus dilakukan diam2. Jika kegiatan sampai bocor, maka bisa dipastikan jalanan sekitar akan macet dan kerumunan massa bisa tak terkendali.

YANG MEMBUAT HERAN.
Ini dia yg betul2 mengherankan. Jika Detik bisa membuat judul: WANITA DAN ANAK PESERTA CFD DIINTIMIDASI SIMPATISAN PRABOWO, lalu apa yg ia lakukan terhadap tragedi pembagian sembako Sabtu lalu di Monas..? Apakah framing buruk Detik juga dilakukan terhadap penyelenggara acara tsb?

Karena jika Detik adil, maka ia akan membuat judul: RIBUAN PENGANTRI SEMBAKO DI MONAS DIBOHONGI SIMPATISAN JOKOWI.