Islam dan Indonesia; Diskusi Awal Tahun Bersama Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara

  • Bagikan

Hari pertama di tahun baru, tepatnya pada tanggal 1 Januari 2020, Bidang Perpustakaan & Remaja – Masjid Agung Surakarta mengadakan diskusi terbuka bersama cendekiawan nasional, Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara. Beliau adalah Guru Besar Sejarah Indonesia yang juga merupakan Penulis buku Best Seller “API SEJARAH”.

Diskusi di awal tahun 2020 ini dihadiri oleh para peserta dari berbagai latar belakang. Mahasiswa dari beberapa kampus yang ada di Solo Raya, pegiat dan pecinta sejarah, perwakilan Masjid, juga pegiat literasi dan perpustakaan.

Tema yang di ambil pada kesempatan tersebut adalah “Islam dan Indonesia, Sejarah Kemandirian Bangsa”.

Forum ilmiah ini mengupas sisi sejarah Islam dan Indonesia yang belum banyak terkuak. Kegiatan tersebut berlangsung di kompleks Masjid Agung Surakarta, tepatnya di Sekber IBM-YJMAS-REMAS AGUNG.

Seluruh peserta nampak antusias menerima materi dari Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara. Pakar sejarah tersebut memaparkan berbagai bukti kuat atas kontribusi Islam bagi penguatan bangsa Indonesia di tiap era sejarahnya. Termasuk di dalamnya adalah juga peran muslimin para pengusaha batik di Surakarta. Mereka berjasa dalam melawan hegemoni ekonomi bangsa asing di Indonesia pada zamannya.

Sejarah Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah nama menjadi Syarikat Islam, adalah salah satu bukti kuatnya organisasi pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kemandirian bangsa yang telah diakui banyak peneliti sejarah dari dalam dan luar negeri.

Prof. Ahmad Mansyur antara lain juga menyatakan bukti sejarah bahwa dulu orang-orang pribumi tidak pernah ada masalah dengan para pedagang keturunan China. Namun ada politik adu domba yang di skenario oleh Residen Belanda, sehingga terkesan ada gerakan rasis anti China. Belanda membuat rekayasa penyerangan terhadap toko-toko pedagang China. Hal ini senada dengan data fakta bukti sejarah yang juga diungkapkan dalam penelitiaan Takashi Ziraishi, seorang peneliti asing, yang kemudian dituliskan dalam buku tebalnya “Zaman Bergerak”.

Kehidupan harmoni lintas elemen pun ternodai. Belanda pun sukses meninggalkan jejak masalah sosial pada bangsa ini. Tujuannya agar hegemoni mereka pun sempat berjalan lama sebagai kolonial penjajah negeri. Namun selangkah demi selangkah, bangsa ini kembali berhasil memperjuangkan kemerdekaannya. Ummat Islam pun terus menjadi backbone (tulang punggung) bangsa yang mengayomi seluruh elemen yang Berbhineka Tunggal Ika.

Di akhir forum diskusi, panitia dan peserta bersepakat akan mengagendakan forum diskusi serta studi sejarah Islam dan Indonesia secara rutin di kompleks Masjid Agung. Demikian diungkapkan oleh Rosnendya Yudha selaku Kadiv Pendidikan dan Kebudayaan Masjid Agung Surakarta dalam pers rilisnya.

Kegiatan rutin ini bertujuan melestarikan budaya keilmuan di kalangan para generasi muda dan para pecinta sejarah Islam & Indonesia. Kedepan, rencananya akan dibentuk wadah “Lingkar Studi Peradaban Islam & Indonesia” dibawah naungan Bidang Perpustakaan dan juga Remaja Masjid Agung Surakarta.

  • Bagikan