makar manusia

Jangan Risau Akan Makar Manusia!

Ngelmu.co – Makar, jika menilik kamus besar bahasa Indonesia bisa didefinisikan sebagai perbuatan tipu muslihat, atau akal busuk yang dilakukan manusia untuk menjatuhkan atau menyerang seseorang atau sekelompok orang. Makar manusia merupakan usaha untuk menjatuhkan atau menyerang manusia lainnya.

Istilah makar bukanlah hal yang baru. Makar telah dikenal sejak dulu, bahkan di zaman Nabi Muhammad SAW.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW sering terjadi peristiwa makar manusia untuk menjatuhkan Nabi bahkan berbagai upaya dan tipu daya banyak dilakukan oleh orang-orang kafir untuk membunuh Nabi. Peristiwa itu dengan jelas dan rinci dijelaskan Allah dalam Al-Quran.

Boleh saja manusia melakukan makar, tipu daya dengan segala cara apapun. Namun yang sangat harus diyakini Allah adalah yang Maha Pembuat Makar. Makar atau tipu daya Allah, tak akan bisa ditandingi manusia. Allah Maha Tahu dan Maha Melihat mana yang salah dan mana yang benar dan Allah melindungi orang yang berbuat baik dan sabar.

Jadi, jangan risau akan tipu daya atau makar manusia.

Baca juga: Kena Makarnya Sendiri

Berikut adalah tulisan yang mencoba memberikan hikmah agar kita, umat Islam, tidak risau dan takut akan makar manusia jika kita selalu berusaha untuk meminta kebaikan dan perlindungan Allah.

JANGAN RISAUKAN MAKAR

Firman Allah:

“Dan sungguh, mereka telah membuat tipu daya yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) tipu daya mereka itu. Dan sesungguhnya tipu daya mereka itu (amat besar) sehingga mampu melenyapkan gunung-gunung”. (Ibrahim: 46)

Ayat ini memberitahukan adanya makar, rencana jahat dan upaya-upaya tersembunyi dan terang-terangan untuk menghancurkan Islam dan dakwah Islam. Makar mereka ini sangat besar sehingga diungkapkan oleh Allah dengan kalimat, “sehingga mampu melenyapkan gunung-gunung”. Bayangkan!

Tanpa pertolongan Allah, para dai dan orang-orang beriman tidak akan mampu menghadapi dan menggagalkan makar dan rencana jahat yang sangat besar ini. Karena makar ini pasti didukung kekuatan besar dan dana besar.

Karena itu, Allah mengajari dan membimbing para dai dan orang-orang beriman agar mampu menghadapi makar dan rencana jahat ini dengan hati tenang, tidak panik, tidak gentar dan tidak pesimistis, karena adanya makar sudah menjadi sunnatullah dalam perjalanan dakwah Islam di sepanjang sejarah.

Firman Allah:

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikit pun kepada kamu”. (Ali Imran: 120)

Kita tidak bisa selamat dari berbagai konspirasi, tipu daya, dan rencana jahat mereka kecuali jika kita bersabar dan bertakwa. Jadi, kunci sukses menghadapi makar adalah sabar dan bertakwa.

Sabar dalam tiga hal: Sabar dalam menaati Allah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menerima qadha’ dan qadar Allah.

Jika kesabaran dan ketakwaan ini bisa dipertahankan dan dijaga terus-menerus maka para dai dan orang-orang beriman memiliki kedekatan dengan Allah dan kesalehan. Jika sudah dekat dengan Allah dan menjadi oramg-orang saleh, maka Allah akan membalaskan makar-makar jahat itu sehingga semua makar tersebut gagal dan orang-orang beriman terhindar dari segala keburukan. Firman Allah:

“Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab (al-Quran). Dia melindungi orang-orang saleh”. (al-A’raf: 196)

Dengan cara-Nya, Allah akan menggagalkan segala makar dan niat jahat, bahkan melalui tindakan-tindakan makar itu sendiri. Firman Allah:

“Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang-orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanya menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak alan mendapatkan perubahan bagi ketentuan Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu”. (Fathir: 43)

Jadi, tantangan terbesar dalam menghadapi makar jahat justru terletak pada bagaimana para dai dan orang-orang beriman bisa tetap istiqamah di jalan Allah tanpa melakukan penyimpangan, dan tetap sabar tanpa melakukan kemaksiatan, seraya terus-menerus berusaha meningkatkan ketakwaan melalui komitmen kepada petunjuk Allah dalam menghadapi setiap persoalan. Firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk”. (al-Maidah: 105)

Di luar itu semua, para dai dan orang-orang beriman hanya berkewajiban menjaga kewaspadaan sedapat mungkin dan terus melakukan perjuangan dakwah. Firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok, atau majulah bersama-sama (serentak)”. (an-Nisa’: 71)

Setelah itu, menyerahkan segala urusan kepada Allah:

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (ath-Thalaq: 3)

Aunur Rafiq Saleh Tamhid Lc.