Opini  

Kepala Sekolah Tutup Usia, Anies Bagikan Kisah Menyentuh Hati

Ngelmu.co – Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, pernah bercerita tentang masa sekolahnya di SMAN 2 Yogyakarta, tahun 1987 lalu. Ia bersyukur, karena saat itu bisa mengenal sosok Kepala Sekolah yang luar biasa.

Anies mengaku tak pernah bisa lupa dengan Wahyuntono—biasa dipanggil Pak Anton—hingga pria berusia 80 tahun itu tutup usia, Rabu (30/7) kemarin.

Ia membagikan cerita tersebut melalui akun Instagram pribadinya, @aniesbaswedan, dan tak sedikit pihak yang mengaku tersentuh dengan kisah yang Anies sampaikan, salah satunya @aguspriyantonew

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Husnul khotimah. Masya Allah, Pak @aniesbaswedan, terharu Saya membacanya, Pak. Anda sangat menghormati seorang guru. Selalu berharap Indonesia punya pemimpin yang baik dan bijak seperti bapak,” tulisnya di kolom komentar.

Berikut selengkapnya, kisah yang Anies bagikan, Kamis (1/8) pagi:

“Namanya Wahyuntono, biasa dipanggil Pak Anton. Setiap jam 6.30 beliau sudah berdiri di gerbang sekolah. Beliau menyapa kami dengan senyum hangat.

Jam 7, pintu gerbang ditutup. Tapi Pak Anton tidak pergi. Beliau tetap menyapa yang terlambat. Ditanya satu-satu, mengapa terlambat. Mereka jera, ditanya langsung kepala sekolah. Sekolah jadi tertib.

Pak Anton menyapa ke kelas-kelas. Dari jendela, beliau memantau suasana kelas, cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Beliau mendorong siswanya untuk aktif organisasi.

“Anies, kamu ke Jakarta, ya. Ikut pelatihan Ketua OSIS se-Indonesia,” kata Pak Anton.

Pagi itu saya dipanggil ke ruang Kepsek. Diberi surat undangan dari Kemdikbud & Disdik, yang meminta sekolah kami mengirim utusan ke Jakarta.

Saya duduk di kelas 1, dan dapat tugas mewakili sekolah kami. Sebelum berangkat, beliau bekali dengan nasihat. Saya ke Jakarta bawa semangat.

Itulah wajah kehangatan dan contoh kepemimpinan kepala sekolah kami. Setiap guru, siswa, merasakan kehadirannya dalam bentuk suasana sekolah yang sehat.

Beliau tidak menghardik dan membentak untuk disegani. Tapi membimbing, mengarahkan, lalu menuntun untuk meraih target.

Saat bertugas di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), kami undang Pak Anton ke Jakarta. Menghadiri peringatan Hari Guru. (Saat itu) Beliau sudah pensiun, usianya 76 th. Jalannya pelan, tapi tegap dan penuh semangat.

Saya sambut, salami, dan cium tangannya. Beliau peluk erat sekali, dalam haru beliau berkata, “Dulu saya kirim kamu ke Jakarta diundang Kementerian, sekarang kamu ngantor di ruang ini,”.

Di ruangan, Kepala Sekolah teladan itu sempat diam, se-akan tak percaya. Saya dengarkan semua ceritanya. Masih seperti dulu, saya tetap muridnya. Kami sering berkabar, beliau beri nasihat, tetap jadi guru.

Hari ini, 1 Agustus 2019, semua ingatan keteladanannya se-akan diputar ulang. Ya, hari ini Pak Anton akan dimakamkan di Yogyakarta. 80 tahun usianya.

Doa ribuan muridnya mengiringi. Insya Allah, pahala padanya tak berhenti mengalir lewat ilmu yang diamalkan murid-muridnya.

Allahhummaghfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu,” tulis Anies yang dilengkapi dengan doa, untuk Kepala Sekolah tercinta.