Cacat sebagai presiden

Keras, Busyro anggap Jokowi Cacat sebagai presiden karena lemah Atas Kasus Novel

Peristiwa penyerangan terhadap Novel Baswedan belum juga selesai, polisi belum juga mampu menangkap pelakunya. Presiden Joko Widodo terkesan lepas tanggung jawab dan lemah atas kasus ini. “Sikap Presiden yang sangat lemah dan sudah lepas tanggung jawab, dan maaf ya ini cacat sebagai Presiden. Dia Panglima tertinggi Polri masalahnya,” kata Busyro.

Dikutip dari Kompascom, Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyesalkan sikap Presiden Joko Widodo yang lemah dan Cacat sebagai presiden. Ia menilai, Jokowi sudah lepas tangan atas teror yang menimpa penyidik KPK itu.

Menurutnya, penyerangan terhadap Novel bukan lah tanggung jawab Polri semata, tetapi sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. “Ini sebenarnya memalukan bangsa, memalukan negara, karena kasus yang sesederhana itu kemudian sudah satu tahun tidak ada indikasi kesungguhan dari pemerintah,” kata Busyro. Ia menegaskan bahwa penyerangan terhadap Novel bukan lah sebuah teror kepada individu saja, tetapi sudah menjadi teror terhadap agenda pemberantasan korupsi.

“Sikap (Presiden) yang seperti ini dikhawatirkan sekali akan menjadi stimulus bagi kerja pelaku kejahatan terhadap kekuatan-kekuatan yang concern memberantas korupsi itu,” kata Busyro. Sikap tersebut menurut busyro merupakan tindakan yang Jokowi Cacat sebagai presiden.

Awalnya Novel Baswedan optimistis terhadap pengungkapan kasus ini, tapi kini begitu merasa kecewa. Dia sudah dua kali menjalani operasi di Singapura. Seiring dengan proses penyembuhan matanya, kasus terus berlalu.  Novel mengatakan awalnya dia menaruh harapan tinggi terhadap polisi untuk mengungkap kasus ini. Namun kini, hingga kini 1 tahun, kasus tersebut tidak terungkap juga. Novel bahkan mengatakan bahwa kasus ini tidak akan diungkap. Dia menyatakan punya fakta-fakta lain yang membuat keyakinan itu ada. Dan sekarang, keyakinan itu semakin jelas dan tebal bahwa ini tidak akan diungkap.

Novel sangat kecewa, karena menurutnya, kasus ini sangat mudah. Novel khawatir teror serupa berulang pada pegawai KPK. Dia meminta pemerintah tidak abai terhadap potensi teror-teror semacam itu. Hal tersebut bisa membuat ke depan pegawai KPK takut atau menurun keberaniannya. Pelaku bisa makin berani. Seharusnya negara tidak boleh abai.

 

Baca Juga : 1 Tahun Kasus Novel, Dimana peran Presiden Jokowi?

 

Presiden terlihat sangat lemah dan tidak focus pada kasus novel. Terlihat dari video yang diunggah oleh salah satu netizen dengan akun @BangPino, terdapat dua waktu yang berbeda; yakni saat saat 100 hari peristiwa Novel Baswedan dan yang terakhir saat Jokowi melakukan aksi motoran.

Dikutip dari Tribunnewscom, Pada video yang pertama, Jokowi ditanya oleh Wartawan apakah akan membentuk tim pencari fakta kasus penyiraman air keras ke penyidik KPK tersebut. Jokowi yang awalnya enggan menjawab akhirnya mengatakan,”Ya nanti saya minta anu dulu ke Kapolri, saya minta masukan ke Kapolri”. Pada video kedua, Jokowi yang sedang mengenakan jaket denim mengatakan, “Saya sekali lagi, masih menunggu semuanya dari Kapolri. Kapolri kalau sudah begini (sembari mengangkat tangan), baru. Kapolri masih sangat anu sekali”.

Baca Juga : Akun Facebook Jokowi Sebar Hoax, Benarkah?

Kenapa presiden selalu mengatakan anu?  Melihat video tersebut, Ferdinand mengatakan jika Jokowi butuh kursus. “Mungkin butuh kursus tuk rangkai kata”