Berita  

Kesulitan Ekonomi, Siswi SMP dan Sang Ayah Tak Makan 2 Hari

Ngelmu.co – Zahra Amelia Putri, merupakan seorang siswi SMPN 1 Kresek, yang terus melanjutkan hidupnya, meski dalam keterbatasan ekonomi. Kisahnya, menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Kapolsek Kresek Tangerang, AKP Suyana.

Ia memilih untuk mendatangi langsung rumah Zahra, untuk melihat kondisi keluarga, yang disebut telah menahan lapar selama dua hari.

Suyana pun tak bisa menyembunyikan air matanya, begitu melihat dari dekat, keadaan Zahra dan ayahnya, yang sempat viral di media sosial.

Bersama Bhabinkamtibmas Aipda Sukarna, ia berkunjung ke rumah Zahra, di Kp. Masigit RT 06/03, Desa Cibetok, Kecamatan Gunung Kaler, Tangerang.

Tak hanya berkunjung, pihak Kapolsek juga membawa bantuan berupa sembako, dan diterima langsung oleh Zahra dan ayahnya, Ahmad Yani.

“Yang semangat ya sekolahnya. Jangan menyerah, jangan putus asa,” kata Suyana, dengan suara tersendat menahan tangis.

Bahkan, ia pun berjanji, akan membantu memenuhi keperluan pendukung untuk sekolah Zahra.

“Jika ada kebutuhan sekolah, datang ke saya ya, Nak. Di kantor Polsek Kresek,” pungkasnya.

Baca Juga: Di Rumah Tak Ada Beras, Siswi Pintar Aceh Menangis Kelaparan di Sekolah

Ahmad berulang kali mengucapkan terima kasih, atas bantuan yang diberikan kepada keluarganya, begitupun dengan Zahra.

“Maaf Pak, kami sekeluarga merepotkan,” ujarnya, seperti dilansir Info Tangerang.

Sebelumnya diketahui, Zahra merupakan gadis remaja yang harus menahan lapar selama dua hari, karena tak miliki uang pun makanan.

Sementara Ahmad, sejak kecelakaan yang dialami tahun 2012 silam, kondisi keluarga dan ekonominya semakin carut marut.

Ia tak bisa lagi bekerja di pasar, dan harus berpisah dengan istri serta anak-anaknya, hanya Zahra yang saat ini masih menemaninya.

“Keseharian saya sejak kecelakaan dan tak bisa jalan normal, ya seperti ini,” kata Ahmad, Sabtu (23/11).

“Hanya bisa membuat kandang burung untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau sepi order, paling nunggu belas kasih dari para tetangga,” imbuhnya.

Sebelum kecelakan, Ahmad masih bisa berjualan sayur di pasar.

“Sekarang keadaannya sudah beda, saya sulit untuk bisa melakukan apa-apa, bahkan buang air kecil pun harus ditampung dan dilakukan di kamar,” ujarnya.

Lebih lanjut Zahra mengungkapkan, ia dan sang Ayah, memang sering menahan lapar, hingga beberapa hari.

Bahkan, ia sangat jarang merasakan sarapan, sebelum berangkat sekolah, menggunakan sepeda.

“Kadang biar bisa bantu ekonomi keluarga, Zahra harus bantu tetangga dulu, agar dapat upah, apa saja dilakukan, termasuk bantu jualan ketoprak,” ungkapnya.

“Hasilnya lumayan untuk makan Zahra sama Bapak hari itu, walaupun seringnya kami harus nahan lapar, karena engga ada apa-apa di rumah,” lanjut Zahra.

Ia mengatakan, untuk nasi saja, dirinya dan sang Ayah, sudah sangat bersyukur.

“Walau gak ada lauk. Zahra pengin bantu Bapak, Zahra pengin sekolah yang benar, biar bisa jadi dokter,” tutupnya berharap.

Sebelumnya, cerita ini muncul dari teman-teman Zahra. Mereka mengatakan, saat jam istirahat, Zahra tak keluar kelas, dan hanya diam dengan muka pucat.

“Zahra bilang, sudah dua hari ini tidak makan, karena di rumahnya memang tidak ada makanan,” jelas Nurhasanah, Wali Kelas Zahra.

Mendengar kisah pilu itu, teman-teman dan gurunya pun mengumpulkan bantuan untuk Zahra.

“Sumbangan dalam bentuk uang dan makanan. Kami langsung mengantar ke rumah keluarga Zahra,” lanjut Nurhasanah.

Zahra, dikenal sebagai siswi yang rajin sekolah, meskipun dengan keterbatasan biaya. Ia tetap memiliki semangat tinggi.

“Dia, naik sepeda ke sekolah. Jarak rumah ke sekolahnya sekitar 5 kilometer,” sebut Nani, Guru BP di sekolah Zahra.

Gadis ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yang memilih tinggal dengan ayahnya.

Sementara sang ibu, Sri Rezeki, tinggal dengan kakak dan adik Zahra, Deni Pangestu (20), Fathir Ardiansyah (10), di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, setelah resmi bercerai dari Ahmad, 2011 lalu.