Metro TV Ayo Wisata Jangan Takut Corona

Ketika Headline Berita di Stasiun Televisi Swasta Mendapat Protes

Diposting pada 1.631 views

Ngelmu.co – Seorang Koresponden, Ahmad Pathoni, mengunggah potret yang menunjukkan sebuah berita utama di salah satu stasiun televisi swasta, yakni Metro TV, pada akun Twitter pribadinya, @apathoni. Ia menyoroti judul yang terpampang jelas di layar kaca, ‘Ayo Wisata Jangan Takut Corona’.

“Headline Metro TV ini akan diingat,” tulisnya, Selasa (24/3), dilanjutkan dengan informasi, jika berita tersebut di-siarkan pada 11 Maret lalu.

“Sejumlah cara dilakukan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian di tengah maraknya penyebaran virus COVID-19, di berbagai negara.

Salah satu cara yang dilakukan pemerintah Indonesia yakni mengurangi harga tiket pesawat untuk meningkatkan minat warga bepergian atau berwisata.

Pegiat Pariwisata, Waizly Darwin

Untuk membahas terkait kebijakan ini sudah ada bersama dengan kami Pegiat Pariwisata, Waizly Darwin,” demikian awal pernyataan pria yang membawakan acara Metro Pagi Prime Time, bisa Anda lihat di sini.

Baca Juga: Kesaksian Pasien Suspect COVID-19 yang Sayangkan ‘Kesombongan’ Pemerintah

Padahal, tanggal 11 Maret, menjadi hari pertama di mana seorang pasien positif virus Corona (COVID-19) di Indonesia, meninggal dunia.

Secara keseluruhan, Rabu (11/3), tercatat sebanyak 27 kasus di Tanah Air, dengan 2 pasien dinyatakan sembuh.

Itulah yang membuat masyarakat luas menyayangkan sekaligus memprotes kalimat yang dipilih sebagai headline oleh Metro TV, di tengah pandemi COVID-19.

Gunkz17Dony: Ini bagian dari agenda pemerintah yang pengen curi peluang wisata saat negara lain terkena wabah Corona.

bagasAvter: Strategi pariwisata untuk melawan Corona juga akan kuingat, bahwa negara ini pernah punya rezim komedian.

satrio_Abiem: Kebodohan yang dipertontonkan.

Moh_Jupri: @Metro_TV ikut menyebarkan kebodohan.

__asmoro: Saya yakin Metro TV pasti menyesal pernah membuat headline itu. Sebuah blunder.

wisnu_prasetya: Sempat diunggah di YouTube-nya Metro, lalu dihapus.

Sepemantauan Ngelmu, berita tersebut memang sudah lenyap dari laman resmi berikut ini, tetapi jejak digital-nya telanjur terekam di tengah masyarakat.