KPK: Dulu Dipuji, Kini Dicaci

  • Bagikan
Puji Caci KPK Biaya Dinas
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diwarnai oleh tulisan laser pada Senin (28/6/2021) malam. Foto: JPNN/Fathan Sinaga

Dulu Dipuji

Pengguna Twitter @abdabbas01, adalah satu dari sekian banyak masyarakat yang menjadi saksi bagaimana KPK dahulu.

Ia mengaku, KPK pernah mengisi acara di kantornya. “Disediain minum air mineral saja, tidak diminum,” pujinya.

“Tidak mau diantar dan dijemput dari atau ke hotel,” imbuhnya.

“Pas akhir acara dapat suvenir, diterima, tapi pakai embel-embel, ‘Ini nanti tetap saya laporkan sebagai gratifikasi, ya’,” kenangnya lagi.

Pemilik akun @FiveCharcMin, juga membagikan ingatannya tentang KPK.

“Seingat saya, setiap mengundang pegawai untuk memberikan penyulunan, jangankan biaya perjalanan dinas, air mineral saja bawa sendiri.”

“Air mineral yang disediakan oleh panitia, gak disentuh,” sambungnya. “Honor pun gak nerima, walaupun legal, ada honor narasumber.”

Eks Kepala Biro Hubungan Masyarakat [yang juga dikenal sebagai juru bicara] KPK, Febri Diansyah, pun bercerita.

“Beberapa hari ini, saya kontakan dengan seorang teman yang aktif di KPK,” tuturnya, melalui akun Twitter pribadi, @febridiansyah.

“Saya bilang, ‘Sesekali kita ngobrol lah. Diskusi atau sekadar ngopi’. Ia bilang, ‘Ya, pengin banget ngobrol lagi’,” lanjut Febri.

Namun, menurutnya, rekannya tersebut berpesan, “Kalau ketemu orang lain, jangan bilang aku dari KPK, ya.”

Febri pun bertanya, “Lho, kenapa?”, yang bersangkutan hanya menjawab, “Malu.”

Berikut cerita Febri, selengkapnya:

Ia gak mau disebut kerja di KPK, bukan karena sifat pekerjaan yang rahasia atau tertutup.

Tetapi ia dan beberapa teman, sangat risau dengan kondisi KPK akhir-akhir ini yang semakin memunculkan sisi kontroversial.

Saya terenyuh mendengar alasannya. Ia malu diketahui sebagai pegawai KPK.

Dalam hati, saya berharap, semoga suatu hari KPK bisa bekerja sesuai harapan masyarakat lagi.

Oh, ya, karena ada yang tanya, teman pegawai KPK tersebut, sudah melewati alih status ASN.

Yang bikin saya tersentuh, karena ia bukan bagian dari 75 [pegawai] atau yang vokal di KPK.

Ada juga pegawai lain yang sedih dan merasa bersalah, seperti ‘meninggalkan’ teman-teman ’75’.

Hormat untuk teman-teman yang terus jaga KPK.

Ya, karena kerja di KPK itu memang bukan sekadar kerja rutinitas atau penghasilan semata.

Tetapi seperti ruang membangun harapan, agar Indonesia, ke depan jadi lebih baik, tanpa bangsat koruptor itu.

Rasa malu yang ia smpaikan, menurut saya, menunjukkan tanggung jawabnya terhadap KPK dan antikorupsi.

Di zaman sekarang, semakin sedikit yang punya dan merasa malu. Banyak yang lebih pada tidak tahu malu.

Merasa benar meskipun salah, pidato menggunakan slogan-slogan bersih, padahal korupsi.

Merasa pernyataan Febri benar adanya, @IchwanMoehammad, pun bertanya.

“Padahal, dulu ketika beraktivitas di sekolah antikorupsi, tamu-tamu dari KPK, selalu menolak dijemput dan diberikan jamuan. Bahkan air mineral pun, mereka menolak. Kalau sekarang?”

“Dulu, waktu ada acara ‘Kita vs Korupsi’ di Universitas Muhammadiyah Malang, salah satu narasumbernya Bang Yudi Purnomo Harahap,” akuan @GagasanKeadilan.

“[Yudi narasumber] dari KPK. Sebagai penanggung jawab acara, saya menawarkan ke beliau akomodasi, beliau pun menolak, karena aturan kantor,” imbuhnya.

“Panitia pun bahagia, karena bisa menghemat,” kenangnya lagi, tertawa.

Halaman selanjutnya >>>

Kini, KPK dicaci

  • Bagikan