Lagu Lama Judul Baru: Dari Intimidasi CFD hingga Ibu Saeni

 

Apa yang terlintas di kepala saya saat isu intimidasi di Car Free Day (CFD) tiba-tiba memadati ruang publik? Saya teringat tiga persitiwa dan kemudian berkesimpulan: ini hanya lagu lama dengan judul baru.

Pertama, Insiden Monas pada 2008. Saat itu umat Islam diberitakan melakukan aksi terhadap AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Islam pun diopinikan sebagai antikebhinekaan, mengingat saat peristiwa terjadi bertepatan dengan Hari Pancasila. Padahal, bentrokan antara FPI dan AAKBB disebabkan oleh provokasi AKKBB. Tapi media tak mau tahu. Fakta itu mereka sisihkan, dan hanya memberitakan aksi kekerasan FPI.

Keesokan harinya, Koran Tempo menampilkan foto headline saat Munarman, tokoh FPI, sedang “mencekik” seorang laki-laki “yang ditulis mereka sebagai anggota AKKBB“, untuk memberikan efek dramatis aksi kekerasan FPI. Ternyata, fakta yang sesungguhnya tidak demikian. Munarman justru sedang berusaha mencegah tindakan anarkis.

Kedua, tragedi berdarah Ciketing Asem, Kota Bekasi pada 2011. Saat umat Islam merayakan Hari Kemenangan, kaum muslim justru bersimbah darah setelah aksi provokasi jemaat HKBP. Seketika itu juga dunia internasional menyoroti Ciketing Asem.

Berbagai media (cetak dan elektronik), baik dalam maupun luar negeri, kompak mengangkat peristiwa itu dengan satu angel yang seragam: kebebasan beribadah. Judul kemudian dibuat beragam. Beberapa di antaranya: Pemkot Bekasi Diminta Berikan Izin Ibadah untuk jemaat HKBP (detik), Romo Benny: Negara Tidak Boleh Kalah oleh Pelaku Kekerasan (detik), Indonesia, Belajarlah Toleransi (kompas), Kebebasan Beragama Belum Terjamin (kompas), Ada Pertemuan sebelum Penusukan (kompas)

Ketiga, razia warung makan Ibu Saeni saat Ramadhan. Silakan simak judul berita di Kompas. Sengaja saya hanya menampilkan judul dari Kompas karena mereka media yang kali pertama mengangkat razia terhadap warung miliki Ibu Saeni dan terus memberitakannya secara massif.

http://nasional.kompas.com/read/2016/06/12/13570941/kebijakan.penutupan.warung.makan.di.bulan.ramadhan.sering.bersifat.politis

http://properti.kompas.com/read/2016/06/11/224904121/polemik.razia.warung.nasi.pantaskah.serang.dilabeli.kota.islami.

Lagu sejenis sudah sering kita dengarkan. Biasanya dinyanyikan bersama-sama oleh media arus utama dan kaum Islamphobia saat ada peristiwa yang melibatkan umat Islam atau Islam. Ketika Front Pembela Islam (FPI) melakukan sweeping atau aksi unjuk rasa menentang kemungkaran, lagu tersebut nyaring terdengar. Preman berjubah, Islam identik dengan kekerasan dan syair sejenis terus berkumandang.

Ketika terjadi aksi bom yang pelakunya umat Islam, syair lagu tersebut makin kencang dinyanyikan. Membuat telinga kita bising. Begitu seterusnya. Dan biasanya, dalam lagu tersebut terselip syair berupa kecaman dan dukungan dari presiden hingga tokoh JIL. Dalam kasus Ibu Saeni misalnya, ada donasi untuknya yang berjumlah ratusan juta, termasuk dari Presiden Jokowi sebesar Rp 10 juta.

Bukankah demikian pula yang terjadi pada isu intimidasi di CFD? Ada usaha menjelekkan umat Islam dengan menyebut “musllim apaan” yang terlontar dari wanita yang katanya diintimidasi. Lalu dari Istana Negara dan GP Ansor dengan cepat bersuara. Media arus utama menjadikan ini isu utama. Skenario playing victim dilakukan, dan seterusnya.

Inilah lagu lama judul baru. Syairnya senada: soal kebebasan, radikalisme, terorisme, kebhinekaan dan sejenisnya. Tapi judulnya berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.

Erwyn Kurniawan
Pemerhati Media dan Politik Islam