Liciknya Belanda, Tangkap Pangeran Diponegoro dengan Jebakan Silaturahim saat Lebaran

Diposting pada 786 views

Ngelmu.co – Lebaran yang berbalut sukacita, tiba-tiba berubah menjadi dukacita di hari ke dua. Itulah yang dialami oleh Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya.

Pada hari ke dua Lebaran, tanggal 2 Syawal 1245 Hijriyah, atau 28 Maret 1830 Masehi, Belanda menangkap sang Pangeran dan memisahkannya dari pengikutnya.

Penangkapan di Magelang ini dilakukan secara licik dan curang, karena Belanda membungkus jebakan penangkapan itu sebagai pertemuan silaturahim dan perundingan, sehingga Diponegoro tidak siap.

Sang Pangeran tidak menduga Belanda akan menangkapnya di saat Lebaran. Apalagi di kala bulan Puasa, terjadi gencatan senjata dan Belanda tidak mengganggu Diponegoro dan pasukannya yang menjalani ibadah Ramadhan di kawasan Bukit Menoreh.

Padahal, Letnan Jenderal Hendrik Markus de Kock telah mengatur jebakan dan strategi penangkapan detail dengan pasukan yang lengkap. Termasuk kereta dan perlengkapan lainnya yang akan membawa Diponegoro ke Batavia dan pengasingannya di Sulawesi.

Sementara, sang Pangeran hanya membawa orang kepercayaan dan pengikut ala kadarnya saat itu. Padahal, jika tahu akan dijebak, tidak akan semudah itu Belanda menangkapnya karena pengikutnya selalu bertambah setiap dia melewati daerah yang jadi rute gerilyanya.

Maka akhirnya jebakan di hari Lebaran itu mengakhiri Perang Jawa yang berkobar lima tahun akibat perlawanan Pangeran Diponegoro. Perang yang menyatukan ningrat dan jelata, gali, dan santri dalam satu barusan. Perang yang membuat banyak serdadu Belanda tewas dan membuat keuangan kolonialis itu tiris dan (nyaris) bangkrut.

Maka bagi Belanda, peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro itu menjadi sangat penting. Adalah seorang Pelukis Belanda Nicolas Pieneman yang kemudian melukis peristiwa itu lima tahun kemudian (1835) untuk De Kock dengan judul “Penyerahan Pangeran Diponegoro”.

Lukisan yang menggambarkan kekalahan Diponegoro dan kegemilangan Belanda ini rupanya mengusik nasionalisme Raden Saleh. Pelukis Jawa yang tinggal di Belanda ini kemudian membuat “perlawanan” atas lukisan Pieneman 22 tahun setelah lukisan itu dibuat.

Maka pada 1857 lahirlah lukisan Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Meski awalnya dibuat untuk orang Belanda, tetapi nuansa perlawanan jelas sekali di lukisan Raden Saleh ini.

Dari judulnya saja sudah terlihat. Jika Pieneman memakai kata “penyerahan”, yang berkonotasi Diponegoro menyerah dan tak berdaya, Raden Saleh memilih kata “penangkapan”. Penangkapan dengan jebakan licik, yang ada unsur paksa, tentu beda dengan penyerahan yang lebih sukarela karena tak berdaya.

Jika Pieneman melukis dari angle sebelah kanan gedung, Raden Saleh memilih dari kiri. Dengan angle kiri, bendera Belanda yang berkibar gagah di lukisan Pieneman, menjadi tidak terlihat di lukisan Raden Saleh.

Selain itu di lukisan Pieneman wajah sang Pangeran digambarkan lesu dan tidak garang, walau tetap tergambar tidak menunduk. Sedangkan, De Kock digambarkan lebih tinggi, tegas, garang, dan berwibawa. Tetapi, di lukisan Raden Saleh, Diponegoro yang saat ditangkap menggunakan sorban hijau digambarkan dengan kepala tegak mendongak, tegas dan tegar. Meski tergambar juga di sana betapa para pengikutnya dirundung kesedihan dan dukacita yang mendalam.

Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro ini memberikan pelajaran bahwa kita harus selalu waspada. Sebab musuh kadangkala tidak bersikap kesatria dan menghalalkan segala cara. Ada kalanya prasangka baik kita malah akan berbuah petaka.

Sementara, dua versi lukisan tentang Penangkapan Diponegoro itu memberikan pelajaran bahwa satu peristiwa yang sama bisa dimaknai berbeda oleh pihak yang berbeda. Namun, Raden Salah dengan lukisannya yang kini berharga 100 miliar lebih itu, mengajarkan pada kita bahwa melawan itu bisa dengan apa saja, termasuk dengan sebuah lukisan.

Dia juga seolah ingin mengatakan bahwa sejarah memang ditulis para pemenang, tetapi sebenarnya siapa pun bisa melawannya dan menuliskan sejarahnya sendiri.

Oleh: Dian Widiyanarko, Jurnalis dan penulis