Lima Tanda Kepanikan Jokowi

 

Satu bulan melihat isu politik hilir mudik dan jungkir baliknya manuver elit-elit politik, membuat kita bisa menyimpulkan bahwa Presiden Jokowi sedang dilanda kepanikan. Setidaknya ada lima tanda-tandanya.

Pertama, pemberitaan massif soal kian kuatnya elektabilitas Presiden Jokowi berdasarkan survei beberapa lembaga. Terakhir Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas Presiden Joko Widodo mengalami kenaikan. Sementara elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menjadi penantang terkuat petahana justru mengalami penurunan.

Dikutip dari Kompas hari ini, Senin (23/4/2018), responden yang memilih Jokowi apabila pilpres digelar saat ini mencapai 55,9 persen. Angka itu meningkat dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya, elektabilitas Jokowi masih 46,3 persen.

Sementara itu, potensi keterpilihan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto 14,1 persen, turun dari hasil survei enam bulan lalu yang merekam angka 18,2 persen.

Kedua, pemberitaan tentang Presiden Jokowi yang terus berusaha mencari figur cawapres pendampingnya yang ideal. Mencuat nama Muhaimin Iskandar, Romahurmuziy, Puan Maharani bahkan Prabowo Subianto.

Terkait menduetkan Jokowi dengan Prabowo, isu ini sengaja dilepas menjadi bola liar dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy kerap melontarkannya. Dia mengungkapkan utusan Prabowo Subianto menemui Jokowi pada Selasa 27 Maret. Utusan itu menanyakan kemungkinan Prabowo menjadi cawapres Jokowi.

“Pak Jokowi kemudian menyampaikan Selasa kemarin, Pak Prabowo masih mengirimkan utusan untuk menanyakan kemungkinan menjadi wapres,” kata Romi di Hotel Patrajasa, Semarang, Jawa Tengah, Jumat 13 April.

Ketiga, menjadikan Prabowo sebagai King Maker. Suara-suara semacam ini kian terdengar santer. Dari politisi hingga pengamat politik. Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan lebih baik jika Gerindra mengusung mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo ‎dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).

“Ada kombinasi ideal antara militer dengan ulama atau kepala daerah, jadi pasangan nasionalis-religius,” ujarnya.

Keempat, gerakan anti politisasi masjid yang digulirkan Gerakan Nasional Jutaan Relawan Dukung Joko Widodo. Program itu dilakukan melalui ceramah dan pengajian yang digelar relawan.

“Kami melakukan ceramah soal itu tiap ada pengajian relawan,” kata koordinator gerakan, Sylver Matutina di Sarinah, Jakarta Pusat, Ahad, 22 April 2018. Relawan menggagas program ini untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat ibadah.

Kelima, pertemuan Jokowi dengan alumni 212. Pertemuan ini dihelat di sebuah masjid di Bogor, Jawa Barat. Kalangan ulama yang hadir dalam pertemuan itu adalah Ketua Front Pembela Islam, Shobri Lubis; Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam, Muhammad Al-Khaththath; dan Ketua Persaudaraan Muslimin Indonesia, Usamah Hisyam.

Kelima hal di atas dilakukan oleh kubu Jokowi agar bisa mendapatkan political rebound. Mengapa? Karena elektabilitas Jokowi yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai lembaga survei kredibel merilis bahwa elektablitas Jokowi dibawah 50% dsn terus menurun. Padahal, seorang petahana butuh elektabiitas di atas 50% agar bisa kembali menang.

Yang kian membuat Jokowi panik adalah keberadaan Habib Rizieq, alumni 212 dan tagar #2019GantiPresiden yang sudah menjadi gerakan sosial luar biasa.

Tak heran jika Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono menyebut Jokowi sedang mumet dan panik.

“Jokowi dan Istana lagi mumet,”katanya.

“Makanya Jokowi panik dan belakangan sering mengirim utusan dalam rangka penjajakan kemungkinan koalisi, termasuk menjajaki kemungkinan Pak Prabowo berpasangan. Sudah tidak ada yang mau lagi dengan orang yang elektabilitasnya hancur. Apalagi kalau soal ekonomi ini makin krisis, jangan-jangan belum tentu bisa bertahan sampai 2019,” ujar dia.

Erwyn Kurniawan