Mantan Pilot dan Tentara Israel Sadar, Merekalah Teroris Sebenarnya

  • Bagikan
Ex Pilot Israel Yonatan Eren Terrorist

Ngelmu.co – Israel adalah sebenar-benarnya teroris. Demikian pengakuan mantan pilot Angkatan Udara (AU) Yonatan Shapira, dan eks tentara Eran Efrati.

Yonatan Shapira

Kepada Anadolu Agency, Yonatan membeberkan, bagaimana pemerintah dan tentara Israel, menjadi organisasi teroris.

Ia yang mengundurkan diri dari militer Israel pada 2003 lalu itu mengungkapkan, bahwa dalang pemerintahan tersebut adalah para penjahat perang.

Tepatnya, saat puncak Intifada [gerakan perlawanan luas rakyat Palestina terhadap Israel] kedua. Intifada pertama, pecah di tahun 1988.

Yonatan juga mengaku, bahwa saat itu baru menyadari, jika bergabung dengan militer Israel, sama artinya ia menjadi bagian organisasi teroris.

“Saya menyadari, selama Intifada kedua, apa yang dilakukan AU dan militer Israel adalah kejahatan perang,” ungkapnya, Senin (17/5) lalu.

Lebih lanjut, Yonatan menyebut, militer Israel merupakan pihak yang sebenarnya meneror populasi Palestina.

“Ketika saya menyadarinya, saya memutuskan untuk tidak hanya pergi [dari militer Israel],” tegasnya.

“Namun, saya juga mengorganisasi pilot-pilot lain yang secara terbuka menolak untuk ikut serta dalam kejahatan ini,” jelas Yonatan.

Sebagai anak yang tumbuh di Israel, ia juga mengaku, dicekoki dan dibesarkan dengan doktrin militeristik zionis. Begitu kuat.

“Anda hampir tidak tahu apa-apa tentang Palestina, tidak tahu tentang Nakba [pengusiran warga Palestina dari kediaman mereka] pada 1948,” beber Yonatan.

“Anda tidak tahu tentang penindasan yang sedang berlangsung,” imbuhnya.

Namun, mereka justru menerima tugas untuk melempar rudal serta bom di pusat kota Palestina.

“Pada satu titik, saya menyadari, bahwa ini adalah tindakan terorisme,” kenang Yonatan.

Pernyataan itu berangkat dari gerakan pilot di skuadron lain yang terlibat pembunuhan massal terhadap warga sipil.

Menyadarkan Personel Lain

Setelah mundur dari tentara Israel, Yonatan pun terus mengampanyekan personel militer Israel lainnya untuk tidak mematuhi perintah penyerangan terhadap Palestina.

Upayanya berhasil. Sebab, per 2003, setidaknya AU Israel memberhentikan 27 pilot militer mereka karena kampanye Yonatan.

Sebelumnya, tujuan ia bergabung dengan tentara adalah ingin melindungi banyak orang.

Itu mengapa Yonatan sadar, ia harus berada jauh dari Israel. Di samping Palestina, tepatnya.

“Ini adalah proses psikologis, dan sangat sulit,” akuannya.

“Namun, begitu Anda menyadari, bahwa Anda adalah bagian dari organisasi teroris, Anda memahami bahwa Anda harus mengatakan tidak,” sambung Yonatan.

“Anda harus mengambil konsekuensi,” lanjutnya lagi.

Yonatan yang mendukung Palestina pun harus menerima pemecatan dari semua perusahaan tempatnya bekerja di Israel.

“Itu juga sulit bagi saya. [Saya dipecat] Karena saya bicara ke seluruh dunia,” ujarnya.

Ia juga menjadi bagian dari gerakan boikot, BDS [Divestasi dan Sanksi].

“Karena saya mengatakan, bahwa Israel adalah negara apartheid. Bahwa pemerintah dan komandan saya adalah penjahat perang,” pungkas Yonatan.

Eran Efrati

Sementara Eran, membagikan kisahnya di kanal YouTube TeleSUR English, Senin (6/3/2017), dalam dialog, ‘The Empire Files’.

Cerita tentang bagaimana ia, pada akhirnya menyadari, bahwa pekerjaannya bukanlah tentara, melainkan teroris. Berikut penuturannya:

Saya saat itu ragu, apakah saya benar-benar menikmati kekuasaan yang saya miliki untuk mengendalikan orang-orang [Palestina] ini.

Saya juga tidak mengerti, mengapa anak-anak [Palestina] melihat saya dengan penuh ketakutan. Mengapa mereka berlari menjauh ketika saya turun ke jalan.

Sebelum menjadi tentara, saya adalah pengajar. Saya suka pada anak-anak.

Maka saya sangat bingung, mengapa anak-anak [Palestina] yang saya temui, ketakutan.

Kini saya menyadarinya, setelah melihat banyak perspektif bahwa, mereka [takut karena] melihat diri saya.

Ada sepatu bot, seragam tentara, helm, enam kantong amunisi, dua granat tangan, dan ada [senapan] M-16 di tangan saya.

Namun, saat itu saya tidak menyadari. Saya benar-benar tidak memahaminya.

Dengan cepat kemudian saya menyadari, bahwa pekerjaan saya adalah untuk mempertahankan sistem apartheid.

Sekilas Tentang Apartheid

Sistem apartheid adalah pemisahan ras yang pernah diterapkan oleh pemerintah kulit putih Afrika Selatan, pada 1948-1990.

Ciri dari sistem apartheid yakni melakukan tindakan represi terhadap penduduk kulit hitam.

Dengan tujuan, memberikan keuntungan sebesar-besarnya pada kelompok minoritas kulit putih.

Kembali ke penuturan Eren:

Pada awalnya, saya mengetahui bahwa ada hak-hak yang dimiliki oleh pemukim Yahudi dan juga penduduk Palestina.

Saya juga paham, bahwa saya tidak boleh menindak para pemukim Yahudi, jika mereka menyerang penduduk Palestina.

Hal terbaik yang bisa saya lakukan adalah menelepon kantor polisi lokal untuk datang menanganinya.

Seperti jika saya berada di rumah saya, di Yerusalem.

Para pemukim Yahudi yang tinggal di Hebron ini punya hak yang sama dengan saya yang tinggal di Yerusalem.

Namun, penduduk Palestina yang tinggal dekat dengan mereka, dekat rumah, bangunan, atau apartemen mereka, hidup di bawah kendali pengawasan saya.

Pengawasan militer saya, dan saya dapat melakukan apa pun yang ingin saya lakukan [terhadap mereka].

Saya bisa mengambil alih rumahnya untuk dijadikan basis militer sementara, selama beberapa jam, hari, atau bahkan pekan.

Saya dapat memutuskan untuk menangkap pemilik rumah dan mengikatnya di pagar rumah basis militer.

Jika kami mendapat perintah untuk menghancurkan rumah mereka, atau sekadar menyegel pintu depan.

Demi mencegah mereka keluar ke jalan yang dikhususkan untuk pemukim Yahudi, tidak untuk penduduk Palestina.

Maka mereka harus melewati jendela, menuju halaman, lalu melewati sisi lain kota Hebron.

Akhirnya, di awal karier militer, saya kemudian menyadari sekaligus memahami, bahwa ada seseorang yang berdusta pada saya selama ini.

Saya tidak merasa melindungi siapa pun, dan saya tidak merasa membantu siapa pun, atau [membuat mereka] merasa lebih aman.

Saya justru merasa, saya telah meneror orang lain.

Pertama kalinya dalam hidup saya, batasan antara kebaikan dan keburukan yang saya pelajari saat kanak-kanak, bahwa saya, berada di sisi yang baik?

Saya merasa hancur!

Saya merasa, saya adalah seorang teroris, dan pekerjaan saya adalah menakut-nakuti orang lain.

Agar mereka tidak berpikir untuk melawan para pemukim atau militer Israel.

Itu merupakan misi utama kami. Memastikan rasa takut terus tertanam pada hati para penduduk Palestina, dan lain sebagainya.

Itulah sebenarnya yang kami lakukan.

Kebiadaban Israel

Kebiadaban Israel, belum luntur. Tak sampai 24 jam–sejak perjanjian gencatan senjata–mereka ingkar.

Pasukan zionis Israel, kembali menyerang Palestina. Mereka melempari granat dan bom gas ke arah jemaah sholat Jumat (21/5).

Dengan senjata lengkap, mereka juga mendesak masuk ke Masjid Al-Aqsa.

Sekaligus menangkap beberapa warga Palestina yang sedang sholat [warga lainnya bertahan di Masjid Al-Quds].

Meski belum seutuhnya, sudah lebih banyak bagian dunia yang membuka mata atas kekerasan Israel terhadap Palestina.

Namun, upaya banyak pihak menyuarakan keadilan untuk Palestina, cukup menghadapi rintangan.

Pasalnya, beberapa media sosial, membatasi para penggunanya untuk membagikan informasi tentang serangan demi serangan Israel terhadap Palestina.

Bukan hanya itu, tidak sedikit juga media barat yang justru memosisikan Israel, sebagai korban.

Baca penjabaran selengkapnya, di sini: Ketika Media Barat Justru Memosisikan Israel Sebagai Korban

  • Bagikan
ngelmu.co