Materi Ceramah serta Kultum untuk Ramadhan 1440 H

Diposting pada 454 views

Ngelmu.co – Kumpulan ceramah serta Kultum (kuliah tujuh menit) ini bisa menjadi bacaan yang berkualitas untuk seluruh umat Islam, terutama di bulan Ramadhan. Biasanya, ceramah atau kultum akan disampaikan sembari menunggu waktu berbuka atau disela-sela shalat tarawih. Maka, kali ini Ngelmu ingin merangkum empat ceramah pun kultum, untuk Ramadhan 1440 Hijriah.

Keutamaan Ibadah Ramadhan

Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Krena itu, barang siapa diantara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah,” (QS. Al-Baqarah: 185).

Pahala amal mulia pun langsung dibalas oleh Allah: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 261).

Sedangkan untuk puasa ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman melalui hadits qudsi, Allah berfirman: “Setiap amal anak Adam untuknya kecuali puasa, maka itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya,” (Muttafaq ‘Alaih).

Di sisi Allah, bau mulut orang puasa juga lebih baik daripada minyak misik, tercantum dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak misik,” (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda jika dua kegembiraan pun melekat dengan orang yang berpuasa: “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan; ketika berbuka dia gembira dengan bukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia gembira dengan puasanya,” (Muttafaq ‘Alaih).

Suatu hari Abu Umamah datang kepada Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam dan bertanya tentang amal yang bisa memasukkannya ke surga. Imam Ahmad, Nasa’i dan Hakim meriwayatkan dalam hadits berikut:

“Dari Abu Umamah berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka saya berkata: “Perintahkan kepada saya dengan sebuah amal yang dapat memasukkan saya ke dalam surga!” Rasulullah menjawab: “Berpuasalah, sesungguhnya tiada tandingan baginya” Kemudian saya datang untuk kedua kalinya, maka Beliau berkata: “Berpuasalah,” (HR. Ahmad, Nasa’i serta Hakim, dan dia menshahihkannya).

Di hari kiamat yang tiada lagi berguna apa pun selain pertolongan Allah dan syafa’at yang diizinkannya, betapa berbahagianya seorang muslim mendapatkan syafa’at akibat puasa yang dilakukannya dan Al-Qur’an yang dibacanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafa’at bagi seorang hamba di hari kiamat. Dan puasa adalah perisai (yang melindungi) dari api neraka,” (HR. Ahmad dan Hakim).

Siapa yang menjalankan puasa satu hari di jalan Allah, sama dengan menjauhkan dirinya dari neraka sejauh 70 musim: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah kecuali Allah menjauhkan wajahnya dengan hari itu dari api neraka tujuh puluh musim,” (HR. Jama’ah kecuali Abu Dawud).

Doa orang yang berpuasa karena Allah pun akan dikabulkan oleh-Nya. Rasulullah menjelaskan bahwa doa orang yang berpuasa tidak akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terlebih ketika ia berdoa di saat atau setelah berbuka: “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizalimi,” (HR. Ahmad; shahih).

Ramadhan disebut bulan penyucian diri, karena di bulan ini Allah mencurahkan rahmat dan maghfirah-Nya kepada setiap hamba yang menunaikan ibadah puasa dengan keimanan dan mengharap pahala dari-Nya.

Dari Abu Hurairah RA Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala diampuni baginya dosa-dosa masa lalu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah Ta’ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat. Adanya syahwat pada diri manusia tidak sia-sia, akan tetapi terdapat faidah dan manfaat di dalamnya.

Bahkah jika manusia tidak memiliki syahwat (selera) makan, misalnya, kemudian dia tidak makan, sehingga akan menyebabkan dirinya binasa. Demikian juga jika manusia tidak memiliki syahwat terhadap lawan jenis, maka keturunan dapat menjadi terputus.

Maka, syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Karena ada sebagian manusia yang tidak memahami hal ini, mengira bahwa syahwat pada manusia merupakan perkara tercela, sehingga mereka berusaha meninggalkan semua yang sebenarnya diinginkan oleh jiwanya.

Bahkan di antara mereka ada yang berkata: “Aku memiliki istri selama sekian tahun, aku menginginkankannya, namun aku tidak pernah menyentuhnya!” Hal seperti ini, sesungguhnya merupakan perbuatan zhalim terhadap jiwa, karena menghilangkan haknya.

Padahal jiwa memiliki hak yang harus dipenuhi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat beliau yang bernama ‘Utsman bin Mazh’un Radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya aku biasa tidur dan shalat, berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita-wanita. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai ‘Utsman, karena sesungguhnya keluargamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, tamumu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, dan jiwamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu. Maka puasalah, berbukalah, shalatlah (pada sebagian waktu malam) dan tidurlah (pada sebagian waktu malam).”

Puasa adalah Perisai

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka,” (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Dimaksud puasa sebagai perisai adalah puasa akan menjadi pelindung yang akan melindungi bagi pelakunya di dunia dan juga di akhirat.

Adapun di dunia maka akan menjadi pelindung yang akan menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang terlarang di saat puasa. Oleh karena itu tidak boleh bagi orang yang berpuasa untuk membalas orang yang menganiaya dirinya dengan balasan serupa, sehingga jika ada yang mencela ataupun menghina dirinya maka hendaklah dia mengatakan, “Aku sedang berpuasa.”

Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka, yang akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat (lihat Syarh Arba’in An-Nawawiyyah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: “Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya,” (H.R. Ahmad, shahih).

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183).

Puasa Menjadi Pembentuk Kepribadian Pemimpin

Puasa menjadikan hati kita lebih dekat kepada Allah SWT, lebih tunduk, lebih peduli, lebih sensitif, lebih lembut, lebih takut kepada Allah SWT dan sifat-sifat mulia lainnya. Itulah taqwa.

Pesan lahir taqwa adalah membangkitkan kesadaran dalam hati sehingga kita mau menunaikan kewajiban, mau lebih menjaga hati agar tidak dirusak oleh hal-hal yang merusak kedekatan dan ketundukan kepada Allah, dan semakin memiliki sensitifitas getaran hati terhadap perbuatan dosa.

Orang yang bertakwa adalah cermin kekuatan aqidahnya. Artinya, kekuatan aqidah kita akan seiring sejalan dengan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Dan melalui puasa, aqidah kita harus lebih kuat dan dari kekuatan aqidah atau keyakinan kita itulah, maka ketaqwaan kita pun akan menjelma menjadi lebih sempurna. Dan ketika itulah, seorang manusia menjadi makhluk yang mulia di sisi Allah.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al-Hujurat: 13).

Puasa menjadikan keimanan kita semakin kokoh, dan kekokohan itu juga yang akan melahirkan sikap takwa yang lebih sempurna. Dan ketika suatu masyarakat telah memiliki kekokohan aqidah yang tercermin dalam ketakwaan yang kuat, maka akan terbentuk, kualitas masyarakat yang kita dambakan.

“Apabila terjadi kerusakan pada suatu generasi manusia, maka untuk memperbaikinya bukan dengan memperketat peraturan dan hukum terhadap mereka, melainkan dengan jalan memperbaiki pendidikan dan hati mereka, serta menghidupkan rasa taqwa di dalam hati mereka,” (Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii dzilaalil Qur’an).

Puasa juga mendidik orang yang melaksanakannya untuk lebih dekat dan lebih kuat hubungannya dengan Allah SWT. Puasa adalah ibadah hati, di mana setiap orang tidak akan menjalani perintah berpuasa sebagaimana yang diatur di dalam ajaran agama, kecuali bila hatinya memiliki hubungan dan keyakinan dengan Allah SWT sebagai Rabbnya.

Terjalinnya hubungan yang dekat kepada Allah SWT, merupakan modal penting bagi kita. Bukan hanya agar kita bisa menjalani amanah dan tugas dari Allah SWT semasa hidup, tapi juga untuk menuntun dan membentengi kebutuhan kita sendiri dalam menjalani kehidupan dunia yang penuh tantangan.

Sebab, hati yang jauh dari Allah, akan memunculkan banyak persoalan dalam hidup pribadi maupun masyarakat. Dan hati yang dekat dengan Allah dan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT, akan membuat hidup lurus tidak menyimpang dari ketentuan Allah, dan itulah yang menyebabkan hidup kita menjadi damai dan teduh.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh,” (QS. As-Saff: 4).

Keserentakan dalam melakukan ibadah Ramadhan, juga menjadi gambaran kekompakan antar sesama kaum Muslimin, dalam menyikapi suatu pilihan, menghadapi suatu masalah, hingga mengatasi problematika hidup. Termasuk kekompakan dalam membuat pilihan-pilihan sosial juga politik.

Kita lebih memandang kepentingan publik atau sosial yang diyakini lebih bisa memelihara ketaatan dan ketundukan masyarakat kepada Allah SWT.

Di bulan Ramadhan ini, kita lebih memiliki keyakinan yang kuat untuk menjatuhkan pilihan pada apa yang menjadi keinginan ummat Islam secara bersama-sama, dan lebih memberi harapan pada kehidupan keagamaan yang lebih baik.

Puasa di bulan Ramadhan juga menjadi sarana pelatihan ketabahan yang luar biasa. Kita menjadi lebih berdaya tahan dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah SWT, meskipun dalam kondisi yang sulit seperti haus dan lapar.

Kehidupan adalah perjalanan yang memiliki banyak persimpangan. Dan di persimpangan yang banyak itu, tak sedikit pula godaan serta bisikan, yang berusaha menarik kita untuk melanjutkan perjalanan ke arah yang menyimpang, atau jalan yang berbeda.

Maka, puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi pembentuk kekuatan kita untuk tabah, tangguh, dan tetap berada di dalam jalan perjuangan, di jalan kebaikan, di jalan yang mengarah pada hidupnya nilai-nilai Islam di masyarakat.

Tujuh Kiat Menuju Husnul Khotimah

Kematian adalah kepastian. Semua yang hidup pasti mati. Namun, kematian sangatlah misterius. Selain waktu dan cara, kondisi kematian seseorang juga amat tak pasti. Akankah seseorang mati dalam keadaan yang baik (husnul khotimah) ataukah meninggalkan dunia dalam kondisi yang buruk (su’ul khotimah).

Maka, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam adalah meminta agar diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah dan dijauhkan dari su’ul khotimah.

Selain doa, ada kita-kiat yang bisa diupayakan untuk dapat menggapai husnul khotimah. Di antaranya adalah tujuh kiat mendapatkan husnul khotimah, yang direkomendasikan oleh Dr ‘Umar ‘Abdul Kafi dalam al-Wa’dul Haq.

Maka, kita perlu senantiasa meluruskan niat dalam hidup dengan mengabdi kepada Allah Ta’ala. Menjadikan Dia sebagai satu-satu-Nya sesembahan dan tidak menjadikan sesuatu apa pun selain-Nya sebagai sekutu.

Sebab, lurusnya niat merupakan ajaran Nabi dan titik tekan pengajaran para ulama. Ia harus murni, tanpa campuran. Karena sedikit pun kekotoran di dalamnya, hanya menjadikan sebuah amalan tertolak. Tidak mendapatkan apa-apa. Terapkan pikiran, sungguh shalat, ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah Ta’ala, Rabb semesta alam.

1. Perbarui niat: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab,” demikian ini petuah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari sahabat mulia ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

2. Terus beramal dan rendah diri: Tatkala merasa salah, bersikaplah rendah diri di hadapan Allah Ta’ala. Hinakan diri sehina-hinanya di hadapan Allah Ta’ala Yang Mahamulia. Hanya dengan merasa hina di hadapan-Nyalah seorang hamba akan dilimpahi kemuliaan. Kemudian buktikanlah taubat dengan amal shalih. Teruslah beramal. Beramallah dengan sebaik-baik amalan. Jangan biarkan berlalu sedetik pun, kecuali ada amal shalih yang dikerjakan.

3. Jangan tunda kebaikan: “Suatu kebaikan tidak akan terwujud, kecuali dengan tiga hal; segera melakukan, menganggapnya kecil, dan menutupinya,” (Abbas berkata sebagaimana disebutkan dalam Tafsir al-Qurthubi).

4. Mengikuti Jejak Nabi: Inilah sebaik-baik teladan. Beliaulah sosok yang tidak disangsikan lagi keshalihannya. Beliau merupakan pribadi penuh pesona, hidup dan matinya dalam kemuliaan. Beliaulah sosok yang wafat dalam keadaan husnul khatimah. Maka kita harus meneladaninya dalam berbagai aspek kehidupan agar kelak mendapatkan apa yang beliau gapai. Insya Allah.

5. Senantiasa mengingat akhirat: “Jika sejenak saja kulupakan akhirat, hati ini menjadi rusak,” (tutur seorang bijak).

6. Memperbaiki kekurangan diri: Inilah pekerjaan yang tidak akan pernah berakhir. Inilah pekerjaan utama orang beriman. Kesibukan yang tidak pernah berhenti. Memperbaiki diri yang memang banyak kekeliruan. Diri yang butuh diingatkan terus menerus. Tanpa henti.

7. Memegang teguh aqidah Islam: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama Islam,” (QS. Al-Baqarah: 132).

Semoga kumpulan ceramah dan kultum di atas bisa menjadi bekal untuk kita semua menjalani bulan suci Ramadhan dengan penuh cinta dan kasih. Aamiin.

Kita juga bisa meraih keistimewaaan serta keutamaan bulan Ramadhan, dengan melakukan berbagai persiapan, seperti:

  • Persiapan ma’nawiyah (spiritual)
  • Persiapan Fikriyah (akal)
  • Persiapan jasadiyah (fisik) dan maaliyah (materi)

Jangan lupa juga untuk menyempurnakan berbagai amalan berikut selama bulan Ramadhan:

  • Berpuasa
  • Menghidupkan malam dengan shalat (qiyam Ramadhan)
  • Berinfaq, bershodaqah, dan memberi buka puasa
  • Banyak membaca Al-Quran
  • Bertaubat
  • Memperhatikan aktifitas sosial dan dakwah
  • Meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir