Memaki Prabowo, Bupati Boyolali dari PDIP ini Dilaporkan ke Bawaslu dan Polisi

Ngelmu.co, JAKARTA – Aksi menolak Prabowo yang dikomandani Bupati dari PDIP, Seno Samodro berbuntut panjang. Seno dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu dan Bareskrim Polri terkait polemik tampang Boyolali. Seno dilaporkan karena memaki Prabowo Subianto.

Seno dilaporkan oleh seorang warga bernama Ahmad Iskandar. Pelaporan itu didampingi Tim Advokat Pendukung Prabowo.

“Hari ini kita melaporkan Bupati Boyolali Seno Samodro terkait dengan ujaran kebencian yang dilakukan Seno Samodro dalam hal ini mengatakan Pak Prabowo Subianto, menghina Pak Prabowo Subianto menyamakannya dengan ucapan hewan, ucapan as*, yang dalam bahasa Jawa artinya itu an**ng,” kata juru bicara Tim Advokat Pendukung Prabowo Hendarsam Marantoko di Bareskrim, gedung KKP, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (5/11/2018).

Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/B/1437/XI/2018/Bareskrim tertanggal hari ini. Seno dituduh melakukan tindak pidana terhadap ketertiban umum sebagaimana Pasal 156 KUHP juncto Pasal 15 KUHP UU Nomor 1 Tahun 1946.

“Jadi ini yang kita gunakan Pasal 156 KUHP, menyebarkan kebencian di depan umum. Jadi itu juncto Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. Nah, juncto-nya itu menyebabkan keonaran di masyarakat. Jadi artinya dengan perkataan yang menyamakan Pak Prabowo dengan hewan, ini kan penghinaan yang begitu berat,” ujarnya.

Hendarsam menilai ucapan Seno sangat tidak beradab dan tidak senonoh. Pihaknya membawa rekaman video, capture video, juga dokumen dari pemberitaan sebagai bukti dalam pelaporannya.

“Jadi kita melihat apa pun alasannya, menyamakan capres yang sedang berkontestasi dengan partai terlapor, ini sangat tidak pantas dan tidak etis. Kan sudah menyampaikan demokrasi sejuk, demokrasi damai, program yang selama ini kita sepakat bersama,” ujarnya.

Hendarsam mengatakan tidak ada instruksi dari Prabowo terkait laporan ini. Pihaknya tidak terima atas ucapan yang dipersoalkan itu.”Oh nggak ada, Pak Prabowo itu orangnya negarawan. Cuma kami nggak terima saja (Prabowo) digituin. Kalau satu dibiarkan, nanti yang lain akan ikut-ikutan,” ucapnya.

Sementara itu, Ahmad Iskandar mengaku tidak terima atas makian Seno. Sebab, menurutnya, saling menjelekkan akan membuat orang tidak tenang.”Saya tidak rela, saya tidak terima seperti ini. Soalnya, kalau kita saling menjelekkan di depan orang-orang, di depan masyarakat umum, itu akan membuat orang tidak tenang,” pungkasnya.

Selain dilaporkan ke polisi, Seno juga dilaporkan Advokat Pendukung Prabowo kepada Bawaslu RI. Seno dianggap mengajak massa membenci dan menghina Prabowo.

“Ujaran kebencian, dia menyebut Pak Prabowo itu a**. A** kan dalam Jawa, kita ketahui kan kasar. Itu salah satu ujaran kebencian untuk membenci Pak Prabowo dan memprovokasi,” ucap kuasa hukum Advokat Pendukung Prabowo, Hanfi Fajri, kepada wartawan di kantor Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Senin (5/11/2018).

Selain itu, Seno dianggap menggunakan kekuasaan sebagai bupati untuk mempengaruhi masyarakat. Seno seharusnya bersikap netral sebagai kepala daerah. “Dia pejabat negara tidak netral. Seharusnya kepala daerah bersikap netral. Dia tidak boleh tunjukkan sikap berpihak ke pasangan calon yang merugikan salah satu pasangan calon,” kata Hanfi.

Laporannya diterima Bawaslu dengan nomor laporan 13/LP/PP/RI/00.00/XI/2018. Beberapa barang bukti yang dilampirkan, seperti capture berita online dan video pidato Seno yang memaki Prabowo dengan kata kasar.