Meninggalkan Kebenaran Demi Sakit Hati

Diposting pada 191 views

Ngelmu.co – Untuk selalu bisa istiqomah berada dalam jalan-Nya, sangat sulit. Cobaan dan godaan akan silih ganti datang.

Mencari celah untuk bisa membuat anak adam berpaling dari Allah merupakan hal yang dilakukan setan dan iblis. Salah satu delah adalah rasa sakit hati.

Lalu bagaimana sakit hati bisa membuat manusia berpaling dari kebenaran dan Allah? Berikut tulisan yang bisa dijadikan bahan renungan yang mendalam.

Baca juga: Ketika Kesetiaan hanya Berlandaskan pada Motif Dunia

Meninggalkan Kebenaran Demi Sakit Hati

By. Satria Hadi Lubis

Alkisah, ada seorang anak Jepang yang (maaf) pincang kakinya sering mendapatkan ejekan dari teman-temannya. Namun si anak tetap terlihat gembira dan terus bermain dengan teman-teman yang mengejeknya. Sampai suatu ketika gurunya bertanya, “Mengapa engkau tidak sakit hati dan sedih walau diejek oleh teman-temanmu?” Sang anak yang kakinya pincang tsb menjawab dgn tersenyum, “Ibu guru, mereka boleh omong apa saja tentang aku. Tapi selama kata-kata ejekan itu tidak aku ijinkan MASUK ke dalam hatiku, maka kata-kata itu tidak ada pengaruhnya untukku”.

Cerita tersebut harusnya menjadi prinsip kita dalam bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Berat memang dalam praktek, tapi bisa kok jika dilatih dengan menjaga kebersihan hati dan yakin bahwa kita tidak tergantung dengan penilaian orang lain. Yang penting teruslah berbuat baik dan merangkul orang lain. Nanti lama kelamaan anggapan mereka kepada kita juga akan berubah. Kalau pun tidak berubah, yang penting kita tetap baik di mata Allah.

Hal ini juga berlaku bagi para pembela kebenaran dalam sebuah komunitas (jama’ah).
Sakit hati dalam pergaulan berjama’ah kadang bisa membuat seseorang berbalik arah membenci nilai-nilai kebenaran yang tadi dibelanya. Saking sakit hatinya kadang melupakan akal sehat dan nuraninya, sehingga akhirnya bergabung dengan para pembela kezaliman yang tadinya menjadi musuhnya.

Sakit hati kadang mengubur pikiran-pikiran besar. Mengubur cita-cita besar bersama para pembela kebenaran. Bila diri berjiwa besar, mestinya kita lebih siap mengorbankan perasaan sakit hati tersebut dan memilih tetap bersama para pembela kebenaran. Sebab kebenaran untuk kebaikan semesta jauh lebih mahal nilainya daripada sakit hati perorangan. Itulah yang dipahami Khalid bin Walid ra ketika beliau mengorbankan egonya ketika dipecat oleh Khalifah Umar, walau telah berdedikasi tinggi membela negara. Khalid ra tetap berperang di jalan Allah dan tetap berdedikasi walau tidak lagi menjadi panglima perang.

Sakit hati bersama orang yang membela kebenaran adalah ujian keikhlasan. Apa alasan kita bersama kebenaran? Karena dihargai atau dimuliakan? Bukan! Tapi karena kesadaran diri bahwa kebenaran harus diperjuangkan bersama, walau kita hanya sekrup di dalam sebuah mesin yang besar.

Saat dirimu kecewa dengan para pembela kebenaran karena tidak menghargaimu, maka bersikaplah seperti anak kecil dari Jepang pada cerita di atas, sehingga sakit hatimu tidak merasuk ke tulang sumsum yang membuat kita meninggalkan teman-teman seperjuangan.

Buktikan dengan tetap bersama atau minimal berpisah tanpa keinginan untuk menghancurkan organisasi, lembaga atau jama’ah kebenaran tersebut.

Biarkan hatimu kecewa namun jangan pernah mengecewakan tegaknya kebenaran. Karena kebenaran adalah kemaslahatan semua manusia. Sedangkan sakit hati, cara kerdil jiwa melihat dirimu.

“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoaan Allah” (Qs. 2 ayat 207).

Demi ridho Allah, semuanya –termasuk perasaan– harus siap untuk dikorbankan.