Opini  

Menyikapi Pilihan Politik Tuan Guru Bajang

Oleh: Zico Alviandri

Cukup mengagetkan headline yang ditampilkan Liputan6 kemarin. Judulnya, “TGB Zainul Majdi: Jokowi Tak Cukup Jadi Presiden 5 Tahun”. Lalu disambar lagi oleh sebuah web yang sering menyadur dari media mainstream dengan tambahan judul yang lebih menggelegar, “Mengagetkan Umat! TGB Mendukung Jokowi 2 Periode.”

Wartawan Liputan6 membuat kesimpulan dari perkataan TGB sebagai berikut: “Suatu transformasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan Beliau untuk kembali melanjutkan.”

Saya sikapi dengan begini:

1. Saya menanti klarifikasi langsung oleh beliau. TGB lah yang berhak menjelaskan maksud kalimatnya kepada media. Bukan orang lain. Benarkah redaksi kalimatnya tepat seperti itu? Ada maksud lain kah? Liputan6 memang memuat pernyataannya seperti tertera di web tersebut. Tetapi kurang punya adab, saya rasa, bila ada pengelola blog langsung menyadur dari Liputan6 tanpa mewawancarai ulang TGB, apalagi ditambahi dengan judul heboh dan narasi yang dilebihkan. Adsense memang menggiurkan. Tapi jangan korbankan akhlak!

2. Kalau pun memang TGB mendukung Jokowi, itu tidak menurunkan derajatnya sejengkal pun sebagai ulama. Ia tetap punya ketinggian sebagai seorang berilmu. Apalagi dibandingkan dengan saya yang jahil. Karena itu, saya akan tetap perlakukan TGB sebagaimana kedudukannya. Ia tetap bergelar Tuan Guru.

3. Beda pilihan politik bukan berarti beda fiqh, apalagi aqidah. Cuma sekedar berbeda penilaian mana yang lebih maslahat. Bila benar TGB berbicara begitu, maka saya yang jahil ini punya sikap politik yang berbeda. Saya membersamai pandangan ulama lain yang setingkat ilmunya dengan TGB, bahwa yang terbaik bagi bangsa ini adalah suksesi kepemimpinan nasional di 2019 nanti agar Indonesia dipimpin oleh orang yang benar-benar cakap. Lagipula sejak dulu saya beda pilihan politik dengan beliau. Saya condong kepada PKS, sedangkan beliau memilih PBB kemudian Demokrat sebagai tempat berjuang.

4. Daging ulama itu beracun. Maka saya tak mau mematikan hati saya dengan cacian kepada TGB. Akan ada godaan menyangka saya telah berada di jalan yang paling benar dengan pro #2019GantiPresiden sedang ulama yang tak sejalan lebih rendah derajatnya dari saya. Naudzubillah, saya berlindung kepada Allah dari kesombongan seperti itu.

5. Saya akan tetap mendengarkan taushiyahnya bila ada kesempatan. Tidak akan memboikotnya. Rugi saya bila karena beda pilihan politik lantas tak mau mendengar ilmu yang disampaikan beliau.

6. Bukan bagai kambing menanduk gunung bila saya yang jahil memberi nasihat kepada TGB. Tapi karena Rasulullah yang berkata, “agama adalah nasihat.” Meski harus disertai rambu-rambu komunikasi. Dalam budaya Minang ada istilah “Kato mandaki” untuk berbicara kepada yang tua, “kato mandata” untuk yang sepantar, dan “kato manurun” untuk yang lebih muda. Btw ini bukan soal TTS. Jadi nasihat yang disampaikan dengan menjaga adab, sah-sah saja. Dan nasihat saya kepada beliau andai tulisan ini sampai kepadanya adalah: “Senantiasalah bermusyawarah dengan orang-orang sholeh di Indonesia ini. Dan dengarkanlah keluhan umat. Wahai Tuan Guru yang kucintai karena Allah.”

7. Saya mendoakan semoga TGB dijaga oleh Allah di jalan yang lurus, senantiasa memberi kontribusi bagi umat Islam. Amin.

Itu adalah nasihat untuk diri sendiri. Saya tulis, lalu saya publish, tujuannya adalah kalau sikap saya itu tepat, semoga menjadi inspirasi buat yang lain, untuk kawan-kawan dunia maya yang punya ghiroh, dan saudara saya seperjuangan kader PKS. Kalau tidak tepat, saya siap diberi nasihat.