Merah Putih Dilarang Berkibar Meski Indonesia Raya Terdengar, Kemenpora Wajib Muhasabah

Merah Putih Thomas Cup 2020

Ngelmu.co – Berbagai pihak begitu marah kepada pemerintah–khususnya Kemenpora–karena bendera Merah Putih, tak dapat berkibar di Thomas Cup 2020.

Lagu Indonesia Raya memang tetap berkumandang, tetapi tanpa penampakan bendera negara, sehingga para atlet harus meletakkan tangan mereka di dada.

Kemenangan 3-0 atas Cina di final Thomas Cup 2020, memang menjadi angin segar untuk badminton Indonesia.

Namun, persoalan yang kini ada, tak dapat dianggap remeh.

Pengguna Twitter Andre Pradana, bahkan menilai, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), wajib muhasabah.

“Lagu Indonesia Raya, tapi benderanya pakai bendera pedepokan. Muhasabah diri Anda @KEMENPORA_RI,” cuitnya singkat.

“Yang bilang ‘bukan masalah serius’, please, ini serius banget, Pak,” tegas @Witrirmdhn, menyahut.

“Butuh 19 tahun buat juara Thomas Cup. Sekalinya juara, kita enggak bisa mengibarkan bendera Merah Putih,” imbuhnya sedih.

“Sakit hati gak sih,” timpal @helmpinjeman.

Mereka tak sendiri. Mantan pebulu tangkis Tanah Air, Taufik Hidayat, juga melayangkan kritik keras kepada pemerintah.

Sebelumnya, melalui akun Instagram pribadi, @taufikhidayatofficial, ia mengucapkan selamat kepada tim Thomas Cup Indonesia.

“Selamat, piala Thomas Cup kembali ke Indonesia. Terima kasih atas kerja kerasnya tim bulu tangkis Indonesia.”

Sama seperti masyarakat pada umumnya, Taufik juga menyoroti bendera PBSI yang mau tak mau harus menggantikan bendera Merah Putih.

“Tapi ada yang aneh, bendera Merah Putih enggak ada? Diganti dengan bendera PBSI,” kata Taufik.

“Ada apa dengan LADI [Lembaga Anti Doping Indonesia] dan pemerintah kita? Khususnya Menpora, KONI [Komite Olahraga Nasional Indonesia], dan KOI [Komite Olimpiade Indonesia]? Kerjamu selama ini ngapain saja?”

Lebih lanjut, Taufik bilang, “Bikin malu negara Indonesia saja. Jangan ngarep jadi tuan rumah Olympic atau piala dunia,” ketusnya.

“Urusan kecil saja enggak bisa beres. Kacau dunia olahraga ini,” sentil Taufik di akhir.

Nihil dan Suram

Ainur Rohman selaku editor olahraga Jawa Pos, juga menanggapi persoalan ini.

Ia merespons cuitan @KEMENPORA_RI, yang memberi penjelasan atas surat teguran dari World Anti-Doping Agency (WADA).

“Pada 15 September, WADA kirim formal notice soal status Indonesia yang non-compliance,” kata Ainur.

“WADA memberikan kesempatan selama 21 hari pada Indonesia untuk membantah,” imbuhnya.

“Nihil. WADA, akhirnya menetapkan status non-compliance untuk Indonesia pada 7 Oktober. Tanggal 8 Oktober, baru koordinasi,” sambungnya lagi.

Ainur pun menanyakan pernyataan Kemenpora, yang mengeklaim langsung gerak cepat berkoordinasi dengan LADI.

“Dari semua klarifikasi Kemenpora dan LADI, aku tidak membaca apa yang terjadi antara turunnya formal notice sampai fase 21 hari itu,” bebernya.

Baca Juga:

Ainur juga mencontohkan pihak yang benar-benar bergerak cepat, sehingga tak bernasib sama dengan Indonesia.

“German Community of Belgium, Montenegro, dan Rumania, tidak dihukum,” tuturnya.

Status ketiganya juga diubah dari non-compliance menjadi watchlist, “Karena [mereka] gerak cepat di masa itu,” tegas Ainur.

Ia juga prihatin dengan sikap Menpora Zainudin Amali.

Pasalnya, yang bersangkutan menyebut Badminton World Federation (BWF), mengambil keputusan sendiri soal Merah Putih di Thomas Cup 2020.

“Ini lebih lucu lagi. Malah terkesan menyalahkan BWF. Menpora ini enggak dapat info, ya, kalau WADA sudah menetapkan sanksi non-compliance pada LADI per 7 Oktober,” tanya Ainur.

“Kalau BWF mengizinkan Merah Putih berkibar di podium Thomas Cup, justru mereka yang melanggar aturan. Syuram-syuram,” pungkasnya.

Soal Fajar/Rian

Selesai di situ? Tidak. Menpora Zainudin, juga membuat warganet gemas atas pernyataannya saat wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta.

“Menpora di TV: ‘Fajar-Rian, ya, kita tidak begitu kenal dengan mereka…’,” cuit @wita_desandri.

“Oh my God, mereka sudah beberapa kali memenangkan Indonesia di turnamen, Pak,” imbuhnya.

Pemilik akun @andar_sihombing, pun menimpali. “Bagaimana Pak Menteri @KEMENPORA_RI mau urus hal besar, membedakan mana pemain tunggal dan ganda saja gagal.”

Demikian ujarnya, saat mengunggah video berdurasi 22 detik, berisi pernyataan Zainudin.

“Lagian, Fajar/Rian itu ganda peringkat 7 dunia, Pak Menteri, sudah lama terkenal, bapak saja yang gak kenal,” tegasnya mengakhiri.

Pada video tersebut, terdengar bagaimana Zainudin bilang, “Ada tunggal putra kita yang baru, Fajar dan Rian, ya.”

“Yang sebelum-sebelumnya ‘kan publik kita tidak begitu kenal dengan mereka.”

“Dan kali ini mereka ditampilkan, dan bahkan menang dua gim langsung. Itu satu hal yang juga bagi saya menggembirakan…”

Itu mengapa pengguna Twitter @OghieMPurnomo, menyarankan agar Zainudin bertanya kepada Ketua DPR RI Puan Maharani.

“Coba Pak Menteri tanya Bu Puan, doi pernah foto bareng [Fajar/Rian] pas Asian Games,” twit-nya, sembari mengunggah foto yang dimaksud.

Indonesia Taklukkan Cina

Terlepas dari kisruh ini, Indonesia, berhasil menyabet emas di Thomas Cup 2020, setelah berhasil menaklukan Cina, 3-0.

Anthony Sinisuka Ginting berhasil merebut poin pertama untuk Indonesia. Ia mengalahkan Lu Guangzu dengan 18-21, 21-14, dan 21-16.

Kemenangan kedua Indonesia dapat dari Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, yang berhasil menang dari He Jiting/Zhou Haodong, dengan 21-12 dan 21-19.

Pertandingan ketiga yang sekaligus menjadi penentu kemenangan untuk Indonesia, berlangsung antara Jonatan Christie melawan Li Shifeng.

Jojo–begitu Jonatan biasa dipanggil–menang dengan tiga gim dari Shifeng, 21-14, 18-21, dan 21-14.

Laga final Thomas Cup 2020 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, berlangsung Ahad (17/10/2021) malam waktu Indonesia.

Sebelum melaju ke final, Indonesia, mengalahkan Malaysia di perempat final, dan menghentikan langkah tuan rumah, Denmark, di semifinal.

Sementara Cina, menang dari Thailand di perempat final, dan menyudahi perjuangan Jepang di semifinal.

Ini menjadi angin segar, karena sudah hampir dua dekade, Indonesia puasa kemenangan di Thomas Cup.