Opini  

Mudik atau Pulang Kampung? Kembalikan Saja ke KBBI

Mudik Pulang Kampung KBBI

Ngelmu.co – Dulu ada kata ‘meroket’ yang membuat orang berdebat, tentang konteks dari perkataan yang diucapkan pejabat negara. Seiring waktu, muncul lagi perdebatan-perdebatan serupa, hingga yang terakhir soal mudik dan pulang kampung.

Bukankah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bukanlah Al-Qur’an dan Hadits yang butuh syarh (penjelasan) ulama dalam memahaminya?

Kamus itu disusun oleh manusia dengan bahasa yang mudah di-mengerti, untuk orang yang bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia.

Lalu, kenapa masih saja ada yang membuat teori-teori baru dari kata yang sudah di-bakukan maknanya itu?

Apa gunanya KBBI, kalau tiap orang bisa mereka-reka makna sebuah kata?

Atau semua orang pengin menjadi Sutardji Chalzoum Bachri, yang ingin melepaskan kata dari makna yang membebankannya?

Boleh saja, kalau dalam puisi. Tapi fatal, bila diucapkan pejabat saat memberi keterangan kepada masyarakat dalam persoalan yang genting.

Dari KBBI, tertulis makna mudik seperti berikut:

mu·dik v 1 (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dari Palembang — sampai ke Sakayu;
2 cak pulang ke kampung halaman: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yang —

Baca Juga: Jokowi Sebut Mudik dan Pulang Kampung Berbeda, Aktivis Bahasa Berduka

Penjelasan nomor dua, sudah sangat gamblang, bahwa kata itu menjadi pengganti dari istilah ‘pulang kampung’. Maka sama saja.

Mungkin masih ada yang belum paham, maka saya sabar-sabarkan diri untuk menjelaskan, bahwa yang tertulis setelah definisi dalam KBBI itu, adalah contoh kalimat.

Tapi bukan bagian dari pengertian. Pada kata mudik, kebetulan misal yang dibuat adalah ‘sepekan menjelang lebaran’.

Sekali lagi, ‘sepekan’ itu bukan bagian dari definisi, hanya sekadar contoh.

Lantas, bagaimana dengan BNPB yang membedakan mudik berarti sementara, dan pulang kampung seterusnya?

Ini juga pelanggaran terhadap kata yang sudah baku. Tinggal bikin istilah ‘mudik sementara’ dengan ‘mudik tanpa kembali’, itu cukup, daripada mengacuhkan KBBI.

Apakah negara ini ingin dibuat berjalan tanpa acuan? Berbahasa tanpa KBBI? Memerintah tanpa undang-undang?

Berbuat tanpa mengingat janji? Berkuasa tanpa peduli aspirasi rakyat? Selama BuzzeRp membela, berbuat semaunya? Jangan begitulah!

Oleh: Zico Alviandri