Najwa Shihab ke Menkes Terawan: Mengapa ‘Menghilang’, Hingga Siapkah Mundur?

  • Bagikan
#MataNajwaMenantiTerawan

Ngelmu.co – Najwa Shihab (Nana), selaku pemandu acara Mata Najwa, mengaku sudah enam bulan menanti kehadiran Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto.

Namun, yang bersangkutan belum juga bisa memenuhi undangan yang hampir setiap pekan disampaikan.

Pada 10 Juni lalu, di episode ‘Siap-Siap Normal Baru‘, ada seorang warganet yang menitipkan pertanyaan, “Pak Terawan, ada di mana, ya?”

Najwa, pun menjawab, “Tiga bulan PSBB, Mata Najwa, hampir tiap pekan mengundang Menteri Kesehatan, Pak Terawan, tapi belum bersedia hadir di Mata Najwa.”

Menunggu Terawan, yang belum juga bersedia memenuhi undangan, pihak Mata Najwa, Senin (28/9) kemarin, melalui kanal YouTube Najwa Shihab, mengunggah video berdurasi 4 menit 21 detik, berjudul, ‘#MataNajwaMenantiTerawan‘.

Ada lebih dari 10 pertanyaan yang Nana, sampaikan pada kesempatan itu.

Mulai dari mengapa ‘menghilang’, hingga siapkah Terawan, mundur dari kursi Menteri Kesehatan?

Berikut selengkapnya pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan:

“Mengapa ‘menghilang’, Pak? Anda minim sekali muncul di depan publik, memberi penjelasan selama pandemi.”

“Rasanya, Menteri Kesehatan, yang paling low profile di seluruh dunia selama wabah ini hanya Menteri Kesehatan Republik Indonesia.”

“Atau kehadiran Menteri Kesehatan di muka publik, memang Anda rasa, tidak terlalu penting?”

“Sejak awal pandemi, Anda, terkesan menganggap virus ini bukan ancaman besar. Apakah kini, Anda, mengakui bahwa kita kecolongan dalam langkah penanganan di awal yang seharusnya bisa lebih tanggap?”

“Saya ingin klarifikasi informasi. Apakah betul, di awal-awal pandemi dulu, justru Anda, Menteri Kesehatan, yang mengusulkan bahwa kita tidak perlu melakukan karantina wilayah?”

“Pak Terawan, sampai sekarang kondisi pandemi belum juga terkendali. Data dan angka jelas menunjukan itu. Di saat negara-negara lain bahkan sudah berangsur-angsur bisa memperlonggar situasi, Pak, kenapa kita tertinggal?”

“Presiden Jokowi, secara terbuka berulang kali menegur kinerja Anda, di depan publik. Berangkat dari penilaian atasan Anda itu, saya akan beri kesempatan kepada Anda, untuk menjelaskan soal teguran itu satu per satu, Pak Menteri.”

“Kenapa tes kita belum juga mencapai target?”

“Kenapa resapan anggaran Kementerian (Kesehatan), masih rendah?”

“Kenapa berbagai peraturan dan birokrasi masih berbelit di Kementerian Kesehatan?”

“Dan kenapa perlindungan tenaga kesehatan kita belum maksimal?”

“Spesifik soal tenaga kesehatan, angka kematian Nakes kita sangat tinggi, dan masih terus naik. Bukankah Menkes, seharusnya menjadi pelindung dan pembela utama Nakes? Kapan perbaikan bisa kita lihat?”

“Masih saja ada dispartitas–perbedaan–antara data pusat dan data daerah. Padahal, data saat pandemi sangat krusial untuk menentukan kebijakan. Mengapa sampai sekarang tidak juga beres?”

“Bagaimana dengan data, bahwa gedung Kemenkes, menjadi klaster perkantoran terbesar di Jakarta? Kenapa tidak terbuka dan transparan, lalu menutup kantor, Pak?”

“Pak Terawan, ada banyak Menteri Kesehatan yang mundur karena penanganan COVID-19.”

“Misalnya Menteri Kesehatan New Zealand, Ceko, Polandia, Brasil, Chile, Pakistan, Israel; public health director-nya mundur, Kanada; public health agency–presidennya, mundur.”

“Pertanyaan saya, Pak, apakah penanganan kita lebih baik dari negara-negara yang Menkes-nya, mundur itu?”

“Yang jelas bukan hanya desakan ke Presiden, tapi publik, di antaranya lewat petisi, meminta kebesaran hati Anda, untuk mundur saja. Siap mundur, Pak?”

“Atau bagaimana, Anda, bisa meyakinkan publik bahwa memang masih layak menjalankan atau menduduki posisi yang berat ini?”

“Pak Terawan, itu hanya sebagian dari pertanyaan yang bukan hanya datang dari saya, tapi juga kami kumpulkan dari publik, untuk Anda, Menteri Kesehatan.”

“Kami tahu, tak akan ada yang bisa menyelesaikan persoalan pandemi ini sendirian, tapi kami berharap Anda, setidaknya bersedia untuk memberi gambaran.”

“Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, waktu dan tempat, dipersilakan.”

Baca Juga: DW Indonesia Panen Kritik Usai Rilis ‘Fenomena Anak-Anak Berhijab di Indonesia’

Diketahui, sejak awal pandemi, Mata Najwa, telah berbincang dengan sejumlah pejabat di berbagai level pengambilan kebijakan.

Namun, Menkes Terawan, belum juga bersedia memenuhi undangan.

Apa yang dilakukan tim Mata Najwa, pun mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

Pasalnya, mereka juga menunggu kemunculan Terawan, sebagai Menkes.

Publik menanti penjelasan secara gamblang, langkah nyata apa yang akan diambil serta dijalani pemerintah, dalam memerangi pandemi yang tak kunjung reda ini.

“Seserius apa Bapak, menangani pandemi ini? Esensi dari seluruh pertanyaan yang ada,” kata @fennydw_.

“Tolong tanyakan, apakah setiap malamnya Pak Terawan, bisa tidur dengan nyenyak? Apakah Pak Terawan, bisa makan dengan nikmat?” tanya @yyyovii_.

“Kami khawatir Pak Terawan, sakit karena terlalu memikirkan pandemi COVID-19 ini, sehingga undangan Mbak Nana, pun sampai tidak bisa beliau penuhi,” sambungnya.

  • Bagikan
ngelmu.co